Kisah Seorang Yahudi dan Jubah Tambalan Milik Nabi
Jum'at, 04 Desember 2020 - 13:48 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
Kisah berikut dinukil dari Idries Shah dalam bukunya yang berjudul The Way of the Sufi dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dengan judul "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat".
Baca juga: Kisah Sufi: Ats-Tsauri dalam Perenungan dan Doa untuk Orang Mati
SEORANG Yahudi dari Damaskus yang membaca Kitab Suci ( al-Qur'an ), suatu hari menemukan secara kebetulan nama Nabi Muhammad SAW tertulis di dalamnya. Tidak suka dengan hal itu, dia mengubah nama tersebut. Tetapi hari berikutnya dia menemukannya lagi. Lagi-lagi dia membuangnya, tetapi pada hari berikutnya nama tersebut muncul lagi.
(Baca juga: Kisah Sufi: Tanggung Jawab Guru dan Permata Dzun-Nun )
Dia berpikir:
"Barangkali ini merupakan suatu tanda bahwa seorang utusan yang sesungguhnya telah datang. Aku akan bepergian ke arah selatan ke Madinah ."
Dan dia dengan segera memulai, tanpa memperlambat lagi hingga mencapai kota Nabi SAW.
Ketika dia tiba di sana, tanpa diketahui seorang pun, dia telah berada di dekat masjid Nabawi, ketika sahabat Anas r.a. tiba. Dia berkata kepada Anas, "Sahabat, bawa aku kepada Nabi."
Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana
Anas r.a. membawanya masuk ke dalam masjid yang telah penuh orang dalam kesedihan yang dalam. Abu Bakar r.a . sang pengganti tengah duduk di sana memimpin sahabat-sahabat . Orang Yahudi tersebut menghampirinya, menyangka dia pasti Muhammad SAW dan berkata, "Wahai utusan pilihan Tuhan, seorang tua yang telah tersesat telah datang untuk memanjatkan kedamaian atasmu."
Mendengar sebutan atas Nabi SAW dipergunakan oleh orang tersebut, semua orang yang hadir tiba-tiba menangis berurai air mata. Orang asing tersebut bingung atas apa yang dilakukan. Dia berkata:
"Aku orang asing dan seorang Yahudi, dan aku tidak menyadari upacara agama mengenai penyerahan kepada Kehendak Allah (Islam). Apakah aku telah berkata sesuatu tak menyenangkan? Haruskah aku tinggal diam? Atau apakah ini perayaan ritual? Mengapa kalian menangis? Jika hal ini merupakan upacara, aku tidak pernah mendengar tentang hal ini."
Baca juga: Kisah Sufi: Muhammad Shah, Mursyid dari Turkistan
Baca juga: Kisah Sufi: Ats-Tsauri dalam Perenungan dan Doa untuk Orang Mati
SEORANG Yahudi dari Damaskus yang membaca Kitab Suci ( al-Qur'an ), suatu hari menemukan secara kebetulan nama Nabi Muhammad SAW tertulis di dalamnya. Tidak suka dengan hal itu, dia mengubah nama tersebut. Tetapi hari berikutnya dia menemukannya lagi. Lagi-lagi dia membuangnya, tetapi pada hari berikutnya nama tersebut muncul lagi.
(Baca juga: Kisah Sufi: Tanggung Jawab Guru dan Permata Dzun-Nun )
Dia berpikir:
"Barangkali ini merupakan suatu tanda bahwa seorang utusan yang sesungguhnya telah datang. Aku akan bepergian ke arah selatan ke Madinah ."
Dan dia dengan segera memulai, tanpa memperlambat lagi hingga mencapai kota Nabi SAW.
Ketika dia tiba di sana, tanpa diketahui seorang pun, dia telah berada di dekat masjid Nabawi, ketika sahabat Anas r.a. tiba. Dia berkata kepada Anas, "Sahabat, bawa aku kepada Nabi."
Baca juga: Kisah Sufi: Hilali, Kutukan Badui, dan Mengapa Darwis di Istana
Anas r.a. membawanya masuk ke dalam masjid yang telah penuh orang dalam kesedihan yang dalam. Abu Bakar r.a . sang pengganti tengah duduk di sana memimpin sahabat-sahabat . Orang Yahudi tersebut menghampirinya, menyangka dia pasti Muhammad SAW dan berkata, "Wahai utusan pilihan Tuhan, seorang tua yang telah tersesat telah datang untuk memanjatkan kedamaian atasmu."
Mendengar sebutan atas Nabi SAW dipergunakan oleh orang tersebut, semua orang yang hadir tiba-tiba menangis berurai air mata. Orang asing tersebut bingung atas apa yang dilakukan. Dia berkata:
"Aku orang asing dan seorang Yahudi, dan aku tidak menyadari upacara agama mengenai penyerahan kepada Kehendak Allah (Islam). Apakah aku telah berkata sesuatu tak menyenangkan? Haruskah aku tinggal diam? Atau apakah ini perayaan ritual? Mengapa kalian menangis? Jika hal ini merupakan upacara, aku tidak pernah mendengar tentang hal ini."
Baca juga: Kisah Sufi: Muhammad Shah, Mursyid dari Turkistan
Lihat Juga :