Inilah Musibah Terbesar yang Menimpa Orang Beriman
Selasa, 08 Desember 2020 - 20:32 WIB
loading...
A
A
A
“Dan janganlah Engkau jadikan musibah pada agama kami.”
Lalu seorang penanya mengatakan: “Bagaimana musibah itu menimpa kepada agama seseorang? Dan apa yang dimaksud dengan musibah pada agama?”
Syaikh Rahimahullahu Ta’ala menjawab bahwa apabila menimpa kepada seseorang apa yang memudharatkan agama mereka, maka itu adalah musibah dalam agama. Dan musibah di dalam agama apabila musibah itu turun dan memudharatkan agamanya. Seperti -mungkin- berkuasanya musuh, atau teruji dengan keburukan-keburukan maksiat, atau dengan terjadinya murtad, atau dengan munculnya pemimpin-pemimpin yang buruk yang menghalangi agamanya, atau kecondongan kepada hawa nafsu syahwat yang menghalangi dalam agamanya, ataupun ketika seseorang berteman duduk dengan orang-orang yang menghalangi dia dalam agamanya. Lalu beliau mengatakan kita meminta kepada Allah Ta’ala keselamatan dari semua bentuk musibah ini.
(Baca juga : Berperangai Buruk kepada Suami, Dosa Besar yang Sering Diremehkan )
Maka secara garis besarnya, musibah yang menimpa kepada orang-orang yang beriman itu ada dua bentuk musibah. Yaitu:
1. Musibah dalam perkara dunia
Musibah yang menimpa kepada jiwa-jiwa, musibah yang menimpa kepada hartanya, keluarganya, jiwanya, musibah yang menimpa kepada negaranya berupa perkara-perkara dunia. Seperti musibah dalam bentuk bencana, musibah dalam bentuk hilangnya harta, perginya orang yang dicintai. Ini adalah musibah yang berkaitan dengan perkara dunia yang tentunya semua orang secara fitrahnya membenci dan tidak menyenangi ketika musibah ini datang.
2. Musibah yang menimpa agama
Dimana seseorang tertimpa musibah berkaitan dengan agamanya, yaitu berupa terjerumusnya kepada syirik, kekufuran, bid’ah, dosa-dosa besar dan kepada bentuk-bentuk dosa. Terjerumusnya seseorang dengan melalaikan perintah-perintah Allah, lebih sibuk dari urusan dunia dan lupa kepada urusan akhirat, terjerumus dalam semua hiruk-pikuk dunia sehingga tidak ada kesempatan dia untuk taklim, belajar, majelis-majelis taklim, mendatangi masjid-masjid Allah Ta’ala. Maka ini adalah bentuk musibah yang menimpa kepada agamanya.
(Baca juga : Duel Messi vs Ronaldo: CR7 Ingin Menghapus Kutukan Melawan La Pulga )
Musibah yang menimpa kepada agama itu lebih dahsyat dari musibah yang menimpa kepada jiwanya. Karena ketika seseorang terkena musibah pada agamanya, maka dia akan rugi dunia akhirat, akan celaka dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang apabila dia tertimpa musibah dalam urusan dunia, maka ruginya hanya rugi dunia jika ia tidak tertimpa musibah dalam bentuk agamanya. Bahkan apabila dia bersabar, maka musibah yang Allah telah timpakan kepada seorang di dunia ini setidaknya memiliki fungsi dua hal. Yaitu menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat seseorang nanti pada hari kiamat.
Mungkin kita melihat di berbagai negara, di berbagai daerah, saudara-saudara kita yang mendapatkan ujian berupa penganiayaan dari orang-orang kafir, kedzaliman-kedzaliman yang mereka rasakan, penganiayaan kepada fisik, jiwa dan harta. Di sisi lain kita mendapatkan di berbagai daerah di dunia ini ada orang-orang mukmin yang tidak mendapatkan ujian itu. Mereka mendapatkan kenyamanan dalam berdakwah, beribadah, menunaikan shalat lima dalam keadaan aman dan damai.
Lalu seorang penanya mengatakan: “Bagaimana musibah itu menimpa kepada agama seseorang? Dan apa yang dimaksud dengan musibah pada agama?”
Syaikh Rahimahullahu Ta’ala menjawab bahwa apabila menimpa kepada seseorang apa yang memudharatkan agama mereka, maka itu adalah musibah dalam agama. Dan musibah di dalam agama apabila musibah itu turun dan memudharatkan agamanya. Seperti -mungkin- berkuasanya musuh, atau teruji dengan keburukan-keburukan maksiat, atau dengan terjadinya murtad, atau dengan munculnya pemimpin-pemimpin yang buruk yang menghalangi agamanya, atau kecondongan kepada hawa nafsu syahwat yang menghalangi dalam agamanya, ataupun ketika seseorang berteman duduk dengan orang-orang yang menghalangi dia dalam agamanya. Lalu beliau mengatakan kita meminta kepada Allah Ta’ala keselamatan dari semua bentuk musibah ini.
(Baca juga : Berperangai Buruk kepada Suami, Dosa Besar yang Sering Diremehkan )
Maka secara garis besarnya, musibah yang menimpa kepada orang-orang yang beriman itu ada dua bentuk musibah. Yaitu:
1. Musibah dalam perkara dunia
Musibah yang menimpa kepada jiwa-jiwa, musibah yang menimpa kepada hartanya, keluarganya, jiwanya, musibah yang menimpa kepada negaranya berupa perkara-perkara dunia. Seperti musibah dalam bentuk bencana, musibah dalam bentuk hilangnya harta, perginya orang yang dicintai. Ini adalah musibah yang berkaitan dengan perkara dunia yang tentunya semua orang secara fitrahnya membenci dan tidak menyenangi ketika musibah ini datang.
2. Musibah yang menimpa agama
Dimana seseorang tertimpa musibah berkaitan dengan agamanya, yaitu berupa terjerumusnya kepada syirik, kekufuran, bid’ah, dosa-dosa besar dan kepada bentuk-bentuk dosa. Terjerumusnya seseorang dengan melalaikan perintah-perintah Allah, lebih sibuk dari urusan dunia dan lupa kepada urusan akhirat, terjerumus dalam semua hiruk-pikuk dunia sehingga tidak ada kesempatan dia untuk taklim, belajar, majelis-majelis taklim, mendatangi masjid-masjid Allah Ta’ala. Maka ini adalah bentuk musibah yang menimpa kepada agamanya.
(Baca juga : Duel Messi vs Ronaldo: CR7 Ingin Menghapus Kutukan Melawan La Pulga )
Musibah yang menimpa kepada agama itu lebih dahsyat dari musibah yang menimpa kepada jiwanya. Karena ketika seseorang terkena musibah pada agamanya, maka dia akan rugi dunia akhirat, akan celaka dunia dan akhirat. Sedangkan orang yang apabila dia tertimpa musibah dalam urusan dunia, maka ruginya hanya rugi dunia jika ia tidak tertimpa musibah dalam bentuk agamanya. Bahkan apabila dia bersabar, maka musibah yang Allah telah timpakan kepada seorang di dunia ini setidaknya memiliki fungsi dua hal. Yaitu menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat seseorang nanti pada hari kiamat.
Mungkin kita melihat di berbagai negara, di berbagai daerah, saudara-saudara kita yang mendapatkan ujian berupa penganiayaan dari orang-orang kafir, kedzaliman-kedzaliman yang mereka rasakan, penganiayaan kepada fisik, jiwa dan harta. Di sisi lain kita mendapatkan di berbagai daerah di dunia ini ada orang-orang mukmin yang tidak mendapatkan ujian itu. Mereka mendapatkan kenyamanan dalam berdakwah, beribadah, menunaikan shalat lima dalam keadaan aman dan damai.
Lihat Juga :