Cerita Ajaran: Siti Fatimah dan Binatang
Kamis, 10 Desember 2020 - 09:56 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
BERIKUT adalah cerita yang mengandung ajaran, dikenal dalam masyarakat dan dalam bentuk bagian dari kegiatan luar (fisik) para darwis. Dimaksudkan untuk meletakkan dasar dari pengetahuan tentang Sufisme dan metode-metode penalaran (berpikir) yang khas. Cerita dinukil dari Idries Shah dalam The Way of the Sufi dan telah diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha dengan judul Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat .
==
Terdapatlah seorang gadis kecil yang tumbuh berkembang bersama orangtuanya, semua di dalam hutan. Suatu hari ia menemukan ayah dan ibunya meninggal, dan dia harus menjaga dirinya sendiri. Orangtuanya meninggalkan Mihrab, sebuah ornamen ukiran yang aneh seperti kusen jendela, yang terus tergantung di dinding pondok.
"Sekarang aku sendirian," ujar Fatimah, "dan harus bertahan di hutan yang hanya didiami binatang ini, akan lebih baik jika aku dapat berbicara dan mengerti bahasa mereka."
Baca juga: Cerita Ajaran: Tiga Orang Tuli dan Darwis Bisu Maka ia menghabiskan hari-hari baiknya dengan menyebut keinginannya ke kusen di dinding, "Mihrab, berilah aku kekuatan untuk memahami dan berbicara dengan binatang."
Setelah cukup lama, tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya dapat berbicara dengan burung, binatang-binatang lain bahkan ikan. Maka ia pergi ke dalam hutan untuk mencobanya.
Segera ia menuju ke kolam. Di atas air ada sejenis lalat kolam, melompat-lompat di permukaan dan tidak pernah masuk ke air. Bermacam ikan berenang di dalamnya, dan menempel di dasar kolam terdapat banyak siput.
Fatimah berkata untuk memulai percakapan, "Lalat, mengapa kau tidak masuk ke air?"
"Untuk apa, menganggap hal itu mungkin, padahal tidak?" tanya lalat.
"Karena kau akan aman dari burung-burung yang akan menyambar dan memakanmu."
==
Terdapatlah seorang gadis kecil yang tumbuh berkembang bersama orangtuanya, semua di dalam hutan. Suatu hari ia menemukan ayah dan ibunya meninggal, dan dia harus menjaga dirinya sendiri. Orangtuanya meninggalkan Mihrab, sebuah ornamen ukiran yang aneh seperti kusen jendela, yang terus tergantung di dinding pondok.
"Sekarang aku sendirian," ujar Fatimah, "dan harus bertahan di hutan yang hanya didiami binatang ini, akan lebih baik jika aku dapat berbicara dan mengerti bahasa mereka."
Baca juga: Cerita Ajaran: Tiga Orang Tuli dan Darwis Bisu Maka ia menghabiskan hari-hari baiknya dengan menyebut keinginannya ke kusen di dinding, "Mihrab, berilah aku kekuatan untuk memahami dan berbicara dengan binatang."
Setelah cukup lama, tiba-tiba ia merasa bahwa dirinya dapat berbicara dengan burung, binatang-binatang lain bahkan ikan. Maka ia pergi ke dalam hutan untuk mencobanya.
Segera ia menuju ke kolam. Di atas air ada sejenis lalat kolam, melompat-lompat di permukaan dan tidak pernah masuk ke air. Bermacam ikan berenang di dalamnya, dan menempel di dasar kolam terdapat banyak siput.
Fatimah berkata untuk memulai percakapan, "Lalat, mengapa kau tidak masuk ke air?"
"Untuk apa, menganggap hal itu mungkin, padahal tidak?" tanya lalat.
"Karena kau akan aman dari burung-burung yang akan menyambar dan memakanmu."
Lihat Juga :