Kisah Sunan Kalijaga (1)

Putra Adipati Itu Perampok yang Rajin Membaca Al-Qur'an

loading...
Putra Adipati Itu Perampok yang Rajin Membaca Al-Quran
Poster Sunan Kalijaga/Foto/Ilustrasi/Shopee
GELORA jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak melihat ketidakadilan yang terjadi di Kabupaten Tuban. Putra Adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta, ini prihatin dan marah tatkala melihat para oknum petugas pajak Kadipaten Tuban yang sewenang-wenang saat menarik pajak. Tidak jarang, rakyat yang sudah susah itu dirampas hasil panen mereka. (Baca juga: Kisah Sunan Ampel (2): Sesepuh Wali Songo yang Sangat Toleran )

Urusan pajak ini memang sudah menjadi perintah Raden Sahur, begitu Tumenggung Wilatikta sering dipanggil. Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara. Mereka harus membayar pajak yang kadangkala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka.

Seringkali jatah mereka untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak. Raden Said tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang dilihatnya itu.

Ia hanya bisa memprotes kondisi tersebut kepada sang ayah. Tumenggung Wilatikta adalah muslim, kendati termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu. Raden Said pun sejak kecil sudah diperkenalkan kepada agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. (Baca juga: Kisah Sunan Ampel (1): Dari Champa Menuju Majapahit Ajarkan Falsafah Molimo )

H Lawrens Rasyid dalam bukunya berjudul "Kisah dan Ajaran Wali Sanga" menceritakan, suatu hari Raden Said menghadap ayahandanya. “Rama Adipati, rakyat tahun ini sudah semakin sengsara karena panen banyak yang gagal,” kata Raden Said. “Mengapa pundak mereka masih harus dibebani dengan pajak yang mencekik leher mereka. Apakah hati nurani Rama tidak merasa kasihan atas penderitaan mereka?”

Adipati Wilatikta menatap tajam ke arah putranya. Sesaat kemudian dia menghela nafas panjang dan kemudian mengeluarkan suara, “Said anakku ..... saat ini pemerintah pusat Majapahit sedang membutuhkan dana yang sangat besar untuk melangsungkan roda pemerintahan. Aku ini hanyalah seorang bawahan sang Prabu, apa dayaku menolak tugas yang dibebankan kepadaku. Bukan hanya Kadipaten Tuban yang diwajibkan membayar upeti lebih banyak dari tahun-tahun yang lalu. Kadipaten lainnya juga mendapat tugas serupa.”



“Tapi …… mengapa harus rakyat yang jadi korban,” sahut Raden Said protes. Hanya saja, Raden Said tak meneruskan ucapannya, karena melihat wajah sang ayah berubah menjadi merah padam, pertanda sedang tersinggung atau naik pitam. (Baca juga: Milad Ke-69, Rektor UIN Yogya Ajak Civitas Teladani Sunan Kalijaga )

Baru kali ini Raden Said membuat ayahnya marah. Hal yang selama hidup tak pernah dilakukannya. Raden Said tahu diri. Sambil bersungut-sungut dia merunduk dan mengundurkan diri dari hadapan ayahnya yang sedang marah.

Raden Said tak perlu melanjutkan pertanyaan, sebab dia sudah dapat menjawabnya sendiri. Majapahit sedang membutuhkan dana besar untuk meredam kekacauan akibat perang saudara.

Walau Raden Said putra seorang bangsawan dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga yang paling atas.

Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban. Niat untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya. Tapi agaknya sang ayah tak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya pula posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit. Tapi niat itu tak pernah padam.

Mencuri di Gudang
Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada di dalam kamarnya sembari mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur’an , maka dia mulai sering keluar rumah. Di saat penjaga gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. (Baca juga: Karomah Pusaka Sunan Kalijaga, Rompi Ontokusumo dan Keris Kiai Carubuk )

Bahan makan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Tentu saja rakyat yang tak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur girang menerima rezeki yang tak diduga-duga. Walau mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu, sebabnya Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.

Bukan hanya rakyat yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang Kadipaten juga merasa kaget, hatinya kebat-kebit, soalnya makin hari barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu makin berkurang.

Penjaga gudang ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di dalam gudang itu.

Suatu malam penjaga gudang sengaja sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.

Dugaannya benar, ada seseorang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga gudang itu memperhatikan, pencuri itu. Mereka hampir tak percaya, pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.

Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani. Khawatir dianggap membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu hanya minta dua orang saksi dari sang Adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.

Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. (Baca juga: Berlaku Adillah! Ini Pesan Rasulullah SAW kepada Penegak Hukum )

Ketika ia hendak keluar dari gudang sambil membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurit Kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa kehadapan ayahnya. “Sungguh memalukan sekali perbuatanmu itu!” hardik Adipati Wilatikta. “Kurang
apakah aku ini, benarkah aku tak menjamin kehidupanmu di istana Kadipaten ini?

Apakah aku pernah melarangnya untuk makan sekenyang-kenyangnya di Istana ini? Atau aku tidak pernah memberimu pakaian? Mengapa kau lakukan perbuatan tecela itu?”

Raden Said diam seribu bahasa. "Biarlah orang tak pernah tahu untuk apa barang-barang yang tersimpan di gudang Kadipaten itu kuambil. Biarlah ayahku tak pernah tahu kepada siapa barang-barang itu kuberikan," bisik hatinya.
halaman ke-1
cover top ayah
فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُكِّرُوۡا بِهٖ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ اَبۡوَابَ كُلِّ شَىۡءٍ ؕ حَتّٰٓى اِذَا فَرِحُوۡا بِمَاۤ اُوۡتُوۡۤا اَخَذۡنٰهُمۡ بَغۡتَةً فَاِذَا هُمۡ مُّبۡلِسُوۡنَ
Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami membukakan semua pintu kesenangan duniawi untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan pemberian itu, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.

(QS. Al-An’am:44)
cover bottom ayah
preload video