Kejahatan Otak Menurut Al-Qur'an
Selasa, 15 Desember 2020 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Hukuman dan siksa yang amat keras bagi kejahatan otak itu bukanlah suatu ancaman biasa. Lanjutan ayat di atas menerangkan bahwa besok hari mereka akan berhadapan dengan malaikat Zabaniah, yaitu malaikat yang tidak pernah lelah menyiksanya.
Baca juga: Begini Seburuk-buruk dan Sebodoh-bodoh Orang, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Kalangan ilmuwan modern menganggap bahwa bagian naashiya itu berhubungan dengan frontal bone yaitu otak bagian depan.
Namun perlu diketahui bahwa Al-Qur'an menyebut bagian depan kepala atau dahi itu sebagai jibah. Dengan demikian jelas bahwa menurut Al-Quran antara ubun-ubun (naashiya) dengan dahi (jibah) itu berbeda.
Secara anatomis dan fisiologis perihal ubun-ubun itu disampaikan dalam ayat yang serangkai dengan 5 ayat yang turun pertama kali. Dalam kaidah fisiologi menurut Al-Qur'an, sangat jelas berkaitan dengan fungsi organ pendengaran yang dalam rangkaian ayat itu telah mulai tercipta dan berfungsi sejak dalam bentuk 'alaqoh, yaitu 80 hari setelah dijadikan.
Surat yang diawali dengan kata Iqro' tersebut sesungguhnya juga menjelaskan bahwa sejak fase 'alaqoh itu telinga sudah berfungsi, dan menerima pengertian-pengertian lewat kalam-kalam. Dengan bekal pengertian dan pengetahuan dari kalam-kalam itulah ubun-ubun sesungguhnya dapat merencanakan suatu perbuat baik dan benar.
Wallahu'alam bimurodi.
Fakta ini sesuai dengan ilmu kedokteran bahwa pada usia 80 hari itu, janin sudah mulai dapat menerima rangsangan suara.
Dalam embriologi, saat itu lubang telinga sudah terbentuk dan terus berkembang.
Dengan sederhana dapat disimpulkan bahwa ubun-ubun yang berpotensi besar merencanakan kejahatan yang dinyatakan sebagai perbuatan dusta dan durhaka itu, sepenuhnya telah dilengkapi perangkat untuk merencakan sebaik-baiknya amal, dengan menyaring dan mengolah informasi, kalam-kalam lewat organ telingga.
Wallahu'alam bishowab.
Baca juga: Begini Seburuk-buruk dan Sebodoh-bodoh Orang, Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Kalangan ilmuwan modern menganggap bahwa bagian naashiya itu berhubungan dengan frontal bone yaitu otak bagian depan.
Namun perlu diketahui bahwa Al-Qur'an menyebut bagian depan kepala atau dahi itu sebagai jibah. Dengan demikian jelas bahwa menurut Al-Quran antara ubun-ubun (naashiya) dengan dahi (jibah) itu berbeda.
Secara anatomis dan fisiologis perihal ubun-ubun itu disampaikan dalam ayat yang serangkai dengan 5 ayat yang turun pertama kali. Dalam kaidah fisiologi menurut Al-Qur'an, sangat jelas berkaitan dengan fungsi organ pendengaran yang dalam rangkaian ayat itu telah mulai tercipta dan berfungsi sejak dalam bentuk 'alaqoh, yaitu 80 hari setelah dijadikan.
Surat yang diawali dengan kata Iqro' tersebut sesungguhnya juga menjelaskan bahwa sejak fase 'alaqoh itu telinga sudah berfungsi, dan menerima pengertian-pengertian lewat kalam-kalam. Dengan bekal pengertian dan pengetahuan dari kalam-kalam itulah ubun-ubun sesungguhnya dapat merencanakan suatu perbuat baik dan benar.
Wallahu'alam bimurodi.
Fakta ini sesuai dengan ilmu kedokteran bahwa pada usia 80 hari itu, janin sudah mulai dapat menerima rangsangan suara.
Dalam embriologi, saat itu lubang telinga sudah terbentuk dan terus berkembang.
Dengan sederhana dapat disimpulkan bahwa ubun-ubun yang berpotensi besar merencanakan kejahatan yang dinyatakan sebagai perbuatan dusta dan durhaka itu, sepenuhnya telah dilengkapi perangkat untuk merencakan sebaik-baiknya amal, dengan menyaring dan mengolah informasi, kalam-kalam lewat organ telingga.
Wallahu'alam bishowab.
(mhy)