Nafisah binti Al Hasan, Ulama Perempuan Tersohor Cicit Rasulullah
Minggu, 27 Desember 2020 - 14:48 WIB
loading...
A
A
A
Pada 26 Ramadhan 195 Hijriah, perempuan mulia yang memiliki nama lengkap Nafisah binti al-Hasan bin Zaid bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib itu pindah ke Kairo, Mesir.
Kedatangan Nafisah di Mesir disambut dengan suka cita, penduduk kota Kairo berbondong – bondong menuntut ilmu padanya, bahkan hampir membuatnya sulit untuk melakukan ibadah seperti yang biasa ia lakukan.
(Baca juga: Prabowo-Sandi Memilih Jadi Anak Buah Jokowi, AHY Harus Ambil Simbol Oposisi )
Nafisah merasa tidak nyaman dengan banyak-nya orang-orang yang terus berdatangan sehingga membuatnya teralihkan dari zikir – zikir dan persiapan untuk bekal akhiratnya, sehingga membuat ia ingin kembali ke Madinah.
Saat penduduk kota Kairo tahu akan berita itu, mereka beramai – ramai mencegat kendaraan Nafisah agar tidak keluar dari kota, Masa terus berdatangan untuk meminta agar Nafisah berkenan untuk tetap di Kairo dan mengajar mereka.
Kejadian ini membuat pemimpin kota Kairo , As-Sari bin Al-Hakam bin Yusuf untuk turun tangan. Ia menawarkan Nafisah rumah yang luas dan juga membatasi orang – orang yang ingin berkunjung menuntut ilmu atau konsultasi hanya pada dua hari dalam satu minggu. Nafisah menyetujui tawaran itu dan tetap tinggal di Kairo.
(Baca juga: Pengumuman! Bandara Soekarno-Hatta Buka Layanan Test Covid-19 untuk Umum )
Meninggal dalam Keadaan Puasa
Nafisah menderita sakit yang semakin parah setiap harinya, namun semgangatnya untuk terus beribadah tak berkurang sedikitpun, sakit yang diderita membuat Nafisah semakin dekat dengan Allah.
Sakitnya kian parah saat bulan Ramadhan tiba, dokter yang memeriksanya menganjurkan untuk berbuka puasa, namun ia menolaknya. “Alangkah mengherankan, sejak 30 tahun yang lalu aku berdo’a kepada Allah agar bisa berjumpa dengan-Nya dalam keadaan puasa, apakah sekarang aku harus berbuka? Tidak bisa!” Lalu Nafisah melanjutkan bacaan Al – Qur’an, huruf demi huruf ia baca dengan khusyu saat sampai surat Al-An’am ayah 127, tiba – tiba ia tak sadarkan diri.
Kedatangan Nafisah di Mesir disambut dengan suka cita, penduduk kota Kairo berbondong – bondong menuntut ilmu padanya, bahkan hampir membuatnya sulit untuk melakukan ibadah seperti yang biasa ia lakukan.
(Baca juga: Prabowo-Sandi Memilih Jadi Anak Buah Jokowi, AHY Harus Ambil Simbol Oposisi )
Nafisah merasa tidak nyaman dengan banyak-nya orang-orang yang terus berdatangan sehingga membuatnya teralihkan dari zikir – zikir dan persiapan untuk bekal akhiratnya, sehingga membuat ia ingin kembali ke Madinah.
Saat penduduk kota Kairo tahu akan berita itu, mereka beramai – ramai mencegat kendaraan Nafisah agar tidak keluar dari kota, Masa terus berdatangan untuk meminta agar Nafisah berkenan untuk tetap di Kairo dan mengajar mereka.
Kejadian ini membuat pemimpin kota Kairo , As-Sari bin Al-Hakam bin Yusuf untuk turun tangan. Ia menawarkan Nafisah rumah yang luas dan juga membatasi orang – orang yang ingin berkunjung menuntut ilmu atau konsultasi hanya pada dua hari dalam satu minggu. Nafisah menyetujui tawaran itu dan tetap tinggal di Kairo.
(Baca juga: Pengumuman! Bandara Soekarno-Hatta Buka Layanan Test Covid-19 untuk Umum )
Meninggal dalam Keadaan Puasa
Nafisah menderita sakit yang semakin parah setiap harinya, namun semgangatnya untuk terus beribadah tak berkurang sedikitpun, sakit yang diderita membuat Nafisah semakin dekat dengan Allah.
Sakitnya kian parah saat bulan Ramadhan tiba, dokter yang memeriksanya menganjurkan untuk berbuka puasa, namun ia menolaknya. “Alangkah mengherankan, sejak 30 tahun yang lalu aku berdo’a kepada Allah agar bisa berjumpa dengan-Nya dalam keadaan puasa, apakah sekarang aku harus berbuka? Tidak bisa!” Lalu Nafisah melanjutkan bacaan Al – Qur’an, huruf demi huruf ia baca dengan khusyu saat sampai surat Al-An’am ayah 127, tiba – tiba ia tak sadarkan diri.
Lihat Juga :