Syarat Diterimanya Amal yang Harus Diketahui Muslimah
Kamis, 07 Januari 2021 - 08:59 WIB
loading...
A
A
A
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, sedang dia itu mukmin, maka usahanya tidak akan diingkari (sia-sia) dan sungguh Kami akan mencatat untuknya” (QS. Al-Anbiyaa : 94)
(Baca juga: Lembaga Pengelola Investasi, Strategi Baru Pembiayaan Nasional )
Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Barangsiappa mengerjakan kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedang dia itu mukmin maka mereka akan masuk surga, merea diberi rezeki di dalamnya tanpa batas”. (QS Al Mu’min : 40).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى
“Barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi” (QS. Thaahaa : 75)
(Baca juga: Babak Akhir Pilpres AS )
Sebaliknya semua amalan yang tidak memenuhi syarat tauhid, tidak diterima dan tidak dibalas, malah menjadi debu yang sia-sia. Hanya Allah yang berhak menetapkan balasan amal hambaNya.
Semua ayat-ayat di atas dengan jelas dan tegas menjelaskan bahwa sekadar orang shalat, puasa, zakat, haji dan yang lainnya belum tentu dia itu muslim kalau dia belum merealisasikan Laa ilaaha illallaah.
Sebaliknya, orang yang masih berlumuran dengan kemusyirikan, kekafiran, kethoghutan dan yang lainnya, maka nestapa yang akan dirasakannya, walaupun mereka solat, puasa dan beribadat.
Orang yang masih berlumuran dengan kemusyirikan, kekafiran, kethoghutan seperti sistem demokrasi (hukum ditangan manusia), maka nestapa yang akan dirasakannya, walaupun mereka solat, puasa dan beribadat.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, sedang dia itu mukmin, maka usahanya tidak akan diingkari (sia-sia) dan sungguh Kami akan mencatat untuknya” (QS. Al-Anbiyaa : 94)
(Baca juga: Lembaga Pengelola Investasi, Strategi Baru Pembiayaan Nasional )
Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Barangsiappa mengerjakan kebajikan baik laki-laki maupun perempuan sedang dia itu mukmin maka mereka akan masuk surga, merea diberi rezeki di dalamnya tanpa batas”. (QS Al Mu’min : 40).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى
“Barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi” (QS. Thaahaa : 75)
(Baca juga: Babak Akhir Pilpres AS )
Sebaliknya semua amalan yang tidak memenuhi syarat tauhid, tidak diterima dan tidak dibalas, malah menjadi debu yang sia-sia. Hanya Allah yang berhak menetapkan balasan amal hambaNya.
Semua ayat-ayat di atas dengan jelas dan tegas menjelaskan bahwa sekadar orang shalat, puasa, zakat, haji dan yang lainnya belum tentu dia itu muslim kalau dia belum merealisasikan Laa ilaaha illallaah.
Sebaliknya, orang yang masih berlumuran dengan kemusyirikan, kekafiran, kethoghutan dan yang lainnya, maka nestapa yang akan dirasakannya, walaupun mereka solat, puasa dan beribadat.
Orang yang masih berlumuran dengan kemusyirikan, kekafiran, kethoghutan seperti sistem demokrasi (hukum ditangan manusia), maka nestapa yang akan dirasakannya, walaupun mereka solat, puasa dan beribadat.
Lihat Juga :