Begini Rasanya Disalami Malaikat Jibril di Malam Lailatul Qadar
Sabtu, 16 Mei 2020 - 04:09 WIB
loading...
A
A
A
Tidak ada yang tau kepastian datangnya Lailatul Qadar kecuali Allah. Namun, bagi orang-orang yang saleh akan mampu mengidentifikasi dengan tanda-tandanya.(Baca juga: Lailatul Qadar: Bagaimana Datangnya, Apa Tiap Orang akan Mendapatkan? )
"Dalam sebuah riwayat dikatakan, tanda-tanda akan datangnya malam Lailatul Qadar salah satunya ada di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan di malam ganjil, ciri lainnya adalah matahari saat terbit memancarkan cahaya yang sangat terang dan putih. Karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat Rasulullah SAW bermimpi tentang Lailatul Qadar bentuknya sebuah sinar cahaya yang sangat terang," urainya.(Baca juga: Kapan Turunnya Lailatul Qadar? Ini Pesan Rasulullah SAW )
Tanda lainnya, lanjutnya, pada siang hari menjelang Lailatul Qadar cuaca cerah namun seperti ada yang menutupi aliran cahaya ke bumi. Meskipun cerah namun tidak menimbulkan gerah dan panas dibarengi dengan angin semilir.
"Angin semilir itu Rahmat Allah yang mengiringi tasbihnya para malaikat. Dan menjelang Maghrib tiba, udara terasa semakin teduh dan sejuk. Dan, di malam hari saat Lailatul Qodar turun,suasana langit cerah dan tidak mendung. Bintang-bintang tampak berkerlip di balik sayap malaikat yang hilir mudik turun ke bumi," jelasnya.
Berdasarkan pengalaman spiritualnya, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa jika Ramadlan diawali dengan hari Jumat, maka malam Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam ke-27. (Baca juga: Imam Ghazali: Lailatul Qadar Ramadhan Tahun Ini Turun 20 Mei )
Demikian halnya dengan abu Yazid Albustami yang pernah menemukan Lailatul Qadar sebanyak dua kali dalam hidupnya yang kebetulan bertepatan dengan malam 27 Ramadhan.
Malam 27 ini menjadi malam yang banyak disepakati para ulama akan umumnya turun Lailatul Qadar. Akan tetapi, karena malam keagungan dan kemuliaan itu dirahasiakan, bisa jadi awal Ramadhan, pertengahan atau terserah Allah yang mau menurunkannya.
"Menurut Syekh Abil Hasan Al-Syadzili, apabila Ramadlan diawali dengan hari Jumat, maka malam Lailatul Qadar adalah pada malam Nuzulul Qur'an. Karena dalam Surat Al-Qadar dikatakan bahwa Nuzulul Qur'an terjadi pada Lailatul Qadar," terangnya.
Gus Hayid menambahkan, salah satu bacaan dan doa yang anjurkan dibaca dan diperbanyak dilantunkan adalah syahadat lengkap kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dilanjutkan dengan doa Allahumma innaka afwun karim tuhibbil afwa fa'fuanni. Allahumma inna nas'aluka ridhoka wal jannah wanaudzu buka min sakhatika wannar.
Seperti Halnya Allah Merahasiakan Wali
Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menggunakan parabel (perumpamaan) menarik untuk menguraikan hikmah dirahasiakannya lailatul qadar. (Baca juga: Lailatul Qadar: Ada Pendapat Turun Sekali Pada Era Nabi Saja )
Dijelaskan dengan ringan dan mudah dicerna, sekaligus fungsional untuk diterapkan. Ia mengatakan:
إنّ الله تعالي أخفي ليلة القدر في رمضان ليجتهد المؤمنين في سائر الشهر كما أخفي الولي بين المؤمنين ليحترم الجميع
Terjemah bebas: “Sesungguhnya Allah ta’ala merahasiakan Lailatul Qadar di (bulan) Ramadhan agar orang-orang beriman berusaha (melakukan ibadah dengan gigih) di sisa bulan (Ramadhan) seperti halnya Allah merahasiakan seorang wali di antara orang-orang beriman agar semua (orang) dimuliakan (atau diperlakukan dengan hormat)” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 167)
Dengan dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar, manusia akan tergerak untuk berusaha, dan beribadah setiap hari di bulan Ramadhan. Dalam pencariannya, jika manusia tidak berhasil mendapatkannya, ia telah mengumpulkan banyak kebaikan.
Bisa jadi karena kegigihannya, Allah menuntunnya untuk mendapatkan Lailatul Qadar, sehingga Allah akan menghilangkan kantuknya; melenyapkan malasnya, dan menguatkan istiqamahnya ketika Lailatul Qadar datang.
Andai waktu Lailatul Qadar dipastikan saat dan tanggalnya, manusia hanya akan menunggu, tidak berusaha mencarinya. Apalagi kebaikan yang akan didapatkan berlipat-lipat banyaknya. Imam Mujahid mengatakan:
"Dalam sebuah riwayat dikatakan, tanda-tanda akan datangnya malam Lailatul Qadar salah satunya ada di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan di malam ganjil, ciri lainnya adalah matahari saat terbit memancarkan cahaya yang sangat terang dan putih. Karena dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa saat Rasulullah SAW bermimpi tentang Lailatul Qadar bentuknya sebuah sinar cahaya yang sangat terang," urainya.(Baca juga: Kapan Turunnya Lailatul Qadar? Ini Pesan Rasulullah SAW )
Tanda lainnya, lanjutnya, pada siang hari menjelang Lailatul Qadar cuaca cerah namun seperti ada yang menutupi aliran cahaya ke bumi. Meskipun cerah namun tidak menimbulkan gerah dan panas dibarengi dengan angin semilir.
"Angin semilir itu Rahmat Allah yang mengiringi tasbihnya para malaikat. Dan menjelang Maghrib tiba, udara terasa semakin teduh dan sejuk. Dan, di malam hari saat Lailatul Qodar turun,suasana langit cerah dan tidak mendung. Bintang-bintang tampak berkerlip di balik sayap malaikat yang hilir mudik turun ke bumi," jelasnya.
Berdasarkan pengalaman spiritualnya, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa jika Ramadlan diawali dengan hari Jumat, maka malam Lailatul Qadar biasanya terjadi pada malam ke-27. (Baca juga: Imam Ghazali: Lailatul Qadar Ramadhan Tahun Ini Turun 20 Mei )
Demikian halnya dengan abu Yazid Albustami yang pernah menemukan Lailatul Qadar sebanyak dua kali dalam hidupnya yang kebetulan bertepatan dengan malam 27 Ramadhan.
Malam 27 ini menjadi malam yang banyak disepakati para ulama akan umumnya turun Lailatul Qadar. Akan tetapi, karena malam keagungan dan kemuliaan itu dirahasiakan, bisa jadi awal Ramadhan, pertengahan atau terserah Allah yang mau menurunkannya.
"Menurut Syekh Abil Hasan Al-Syadzili, apabila Ramadlan diawali dengan hari Jumat, maka malam Lailatul Qadar adalah pada malam Nuzulul Qur'an. Karena dalam Surat Al-Qadar dikatakan bahwa Nuzulul Qur'an terjadi pada Lailatul Qadar," terangnya.
Gus Hayid menambahkan, salah satu bacaan dan doa yang anjurkan dibaca dan diperbanyak dilantunkan adalah syahadat lengkap kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW dilanjutkan dengan doa Allahumma innaka afwun karim tuhibbil afwa fa'fuanni. Allahumma inna nas'aluka ridhoka wal jannah wanaudzu buka min sakhatika wannar.
Seperti Halnya Allah Merahasiakan Wali
Dalam kitab Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Sayyid Abdul Aziz al-Darani menggunakan parabel (perumpamaan) menarik untuk menguraikan hikmah dirahasiakannya lailatul qadar. (Baca juga: Lailatul Qadar: Ada Pendapat Turun Sekali Pada Era Nabi Saja )
Dijelaskan dengan ringan dan mudah dicerna, sekaligus fungsional untuk diterapkan. Ia mengatakan:
إنّ الله تعالي أخفي ليلة القدر في رمضان ليجتهد المؤمنين في سائر الشهر كما أخفي الولي بين المؤمنين ليحترم الجميع
Terjemah bebas: “Sesungguhnya Allah ta’ala merahasiakan Lailatul Qadar di (bulan) Ramadhan agar orang-orang beriman berusaha (melakukan ibadah dengan gigih) di sisa bulan (Ramadhan) seperti halnya Allah merahasiakan seorang wali di antara orang-orang beriman agar semua (orang) dimuliakan (atau diperlakukan dengan hormat)” (Sayyid Abdul Aziz al-Darani, Thahârah al-Qulûb wa al-Khudlû’ li ‘Allâm al-Ghuyûb, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 167)
Dengan dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar, manusia akan tergerak untuk berusaha, dan beribadah setiap hari di bulan Ramadhan. Dalam pencariannya, jika manusia tidak berhasil mendapatkannya, ia telah mengumpulkan banyak kebaikan.
Bisa jadi karena kegigihannya, Allah menuntunnya untuk mendapatkan Lailatul Qadar, sehingga Allah akan menghilangkan kantuknya; melenyapkan malasnya, dan menguatkan istiqamahnya ketika Lailatul Qadar datang.
Andai waktu Lailatul Qadar dipastikan saat dan tanggalnya, manusia hanya akan menunggu, tidak berusaha mencarinya. Apalagi kebaikan yang akan didapatkan berlipat-lipat banyaknya. Imam Mujahid mengatakan:
Lihat Juga :