Konsep Zakat Thariqah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani yang Bikin Bangkrut
Jum'at, 19 Februari 2021 - 19:21 WIB
loading...
A
A
A
Dan zakat thariqah tidak hanya sebatas memberikan pahala untuk orang yang membutuhkan, tetapi zakat thariqah juga bisa bermakna membersihkan qalbu dari kotoran atau sifat-sifat tercela, seperti perkataan Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlani:
“Termsuk pula makna zakat thariqah adalah membersihkan qalbu dari sifat-sifat yang mendorong hawa nafsu, sebagaimana Firman Allah: “Barang siapa yang menunjukkan amal kebajikan kepada Allah, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya dengan lipatan yang banyak” (Q.S. Al-Baqarah:245) dan Firman Allah “Sungguh bahagia orang-orang yng membersihkan jiwanya” (Q.S. Al-Syams:9)”
Maksud al qardh (meminjamkan di sini ialah memberikan segala kebaikan di jalan Allah dengan niat berbuat baik pada orang lain, ikhlas karena Allah semata, didasari rasa kasih sayang dan tidak diikuti dengan harapan terhadap imbalan.
Allah SWT berfirman “Janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima” (Q.S. Al Baqarah:264).
Inilah yang disebut dengan infaq fi sabilillah, sebagaimana firman Allah SWT “kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Q.S. Ali Imran:92).
Jadi zakat thariqah juga bermakna membersihkan qalbu dari kotoran dan sifat tercela.
Dan Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlani juga mengajarkan cara membersihkan qalbu adalah dengan cara berzikir kepada Allah SWT. Dengan berzikir qalbu akan menjadi bersih sehingga mudah untuk menerima cahaya hidayah dari Allah SWT.
Tingkatan setiap orang dalam berzikir berbed-beda. Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jîlani setiap maqam zikir memiliki martabat masing-masing, baik zikir jahr maupun khafî. Urutan tingkatan zikir dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah zikir lisan, zikir qalbu, zikir ruh, zikir sir, zikir khafi, dan zikir akhfal khafi.
Baca juga: Beda Pendapat Syaikh Abdul Qadir dengan Ulama Lain Soal Salat Wustha
“Termsuk pula makna zakat thariqah adalah membersihkan qalbu dari sifat-sifat yang mendorong hawa nafsu, sebagaimana Firman Allah: “Barang siapa yang menunjukkan amal kebajikan kepada Allah, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya dengan lipatan yang banyak” (Q.S. Al-Baqarah:245) dan Firman Allah “Sungguh bahagia orang-orang yng membersihkan jiwanya” (Q.S. Al-Syams:9)”
Maksud al qardh (meminjamkan di sini ialah memberikan segala kebaikan di jalan Allah dengan niat berbuat baik pada orang lain, ikhlas karena Allah semata, didasari rasa kasih sayang dan tidak diikuti dengan harapan terhadap imbalan.
Allah SWT berfirman “Janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima” (Q.S. Al Baqarah:264).
Inilah yang disebut dengan infaq fi sabilillah, sebagaimana firman Allah SWT “kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Q.S. Ali Imran:92).
Jadi zakat thariqah juga bermakna membersihkan qalbu dari kotoran dan sifat tercela.
Dan Syaikh Abdul Qâdir al-Jîlani juga mengajarkan cara membersihkan qalbu adalah dengan cara berzikir kepada Allah SWT. Dengan berzikir qalbu akan menjadi bersih sehingga mudah untuk menerima cahaya hidayah dari Allah SWT.
Tingkatan setiap orang dalam berzikir berbed-beda. Menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jîlani setiap maqam zikir memiliki martabat masing-masing, baik zikir jahr maupun khafî. Urutan tingkatan zikir dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah zikir lisan, zikir qalbu, zikir ruh, zikir sir, zikir khafi, dan zikir akhfal khafi.
Baca juga: Beda Pendapat Syaikh Abdul Qadir dengan Ulama Lain Soal Salat Wustha
(mhy)
Lihat Juga :