Begini Penggunaan Kata Subhanallah, Menurut Ustaz Adi Hidayat
Minggu, 21 Februari 2021 - 19:43 WIB
loading...
A
A
A
“Aku tadi sedang junub, dan aku tidak ingin duduk bersamamu dalam keadaan tidak suci (junub).” Jawab Abu Hurairah.
Kemudian Rasulullah berujar: “Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis.”
Baca juga: Masya Allah! Begini Gambaran Telaga Al-Kautsar yang Dibanggakan Rasulullah
Dalam riwayat lain Imam al-Bukhari mengisahkan ekspresi para sahabat yang heran dengan seekor sapi betina yang bisa berbicara dan menegur pemiliknya, mereka mengucapkan subhanallah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ،قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ بَيْنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً إِذْ رَكِبَهَا فَضَرَبَهَا فَقَالَتْ إِنَّا لَمْ نُخْلَقْ لِهَذَا إِنَّمَا خُلِقْنَا لِلْحَرْثِ فَقَالَ النَّاسُ سُبْحَانَ اللهِ بَقَرَةٌ تَكَلَّمُ
Abu Hurairah mengisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah salat subuh, seusai mengerjakan salat subuh, beliau menghadap sahabat-sahabatnya dan bercerita bahwa di antara kita ada seorang laki-laki yang membawa seekor sapi betina, ketika ia menungganginya dan memukulnya, tiba-tiba sapi tersebut berbicara, “Sebenarnya kami tidak diciptakan untuk ini, kami diciptakan untuk membajak (sawah/ladang).” Seketika para sahabat mengucapkan Subhanallah sapi betina berbicara. (HR. Al-Bukhari)
Secara bahasa ungkapan subhanallah berarti unazzihullah ‘amma laa yaliiqu bihi min sifaatin (aku menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya). Sayyidah ‘Aisyah dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa orang Arab ketika mendapati sesuatu yang tidak mereka inginkan dan mereka berkeinginan untuk mengangungkan Allah, mereka mengucapkan “subhan”.
Seakan-akan dengan ungkapan tersebut mereka ingin menyucikan Allah dari keburukan yang tidak patut ada di dalam sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan subhan tepat digunakan untuk sesuatu yang mengherankan dalam pengertian negatif, atau ta’ajjub mimma yukrah (perasaan takjub terhadap sesuatu yang tidak disukai). Dan itu mengapa Nabi dan para sahabat menggunakan kata subhanallah ketika mendapati sesuatu tidak pada tempatnya, dan ingin mengagungkan Allah dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan.
Baca Juga: Subhanallah! Shalat Tepat Waktu Berpengaruh pada Kesuksesan
Dalam salat pun demikian, untuk menegur kesalahan imam, maka makmum dianjurkan untuk menggunakan ungkapan subhanallah. Di satu sisi makmum ingin menunjukkan kesalahan imam, di sisi lain makmum ingin mengagungkan Allah dari sifat lalai.
Sebagaimana yang diutarakan oleh Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawanya: “Perintah untuk bertasbih kepada Allah adalah bentuk menyucikan Allah dari segala macam aib dan keburukan (di satu sisi), dan menetapkan kesempurnaan sifat yang dimiliki Allah (di sisi lain) dengan begitu tasbih berarti menyucikan dan mengagungkan sekaligus…”
Kemudian Rasulullah berujar: “Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis.”
Baca juga: Masya Allah! Begini Gambaran Telaga Al-Kautsar yang Dibanggakan Rasulullah
Dalam riwayat lain Imam al-Bukhari mengisahkan ekspresi para sahabat yang heran dengan seekor sapi betina yang bisa berbicara dan menegur pemiliknya, mereka mengucapkan subhanallah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ،قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ بَيْنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً إِذْ رَكِبَهَا فَضَرَبَهَا فَقَالَتْ إِنَّا لَمْ نُخْلَقْ لِهَذَا إِنَّمَا خُلِقْنَا لِلْحَرْثِ فَقَالَ النَّاسُ سُبْحَانَ اللهِ بَقَرَةٌ تَكَلَّمُ
Abu Hurairah mengisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah salat subuh, seusai mengerjakan salat subuh, beliau menghadap sahabat-sahabatnya dan bercerita bahwa di antara kita ada seorang laki-laki yang membawa seekor sapi betina, ketika ia menungganginya dan memukulnya, tiba-tiba sapi tersebut berbicara, “Sebenarnya kami tidak diciptakan untuk ini, kami diciptakan untuk membajak (sawah/ladang).” Seketika para sahabat mengucapkan Subhanallah sapi betina berbicara. (HR. Al-Bukhari)
Secara bahasa ungkapan subhanallah berarti unazzihullah ‘amma laa yaliiqu bihi min sifaatin (aku menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya). Sayyidah ‘Aisyah dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa orang Arab ketika mendapati sesuatu yang tidak mereka inginkan dan mereka berkeinginan untuk mengangungkan Allah, mereka mengucapkan “subhan”.
Seakan-akan dengan ungkapan tersebut mereka ingin menyucikan Allah dari keburukan yang tidak patut ada di dalam sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan subhan tepat digunakan untuk sesuatu yang mengherankan dalam pengertian negatif, atau ta’ajjub mimma yukrah (perasaan takjub terhadap sesuatu yang tidak disukai). Dan itu mengapa Nabi dan para sahabat menggunakan kata subhanallah ketika mendapati sesuatu tidak pada tempatnya, dan ingin mengagungkan Allah dan menyucikan-Nya dari segala kekurangan.
Baca Juga: Subhanallah! Shalat Tepat Waktu Berpengaruh pada Kesuksesan
Dalam salat pun demikian, untuk menegur kesalahan imam, maka makmum dianjurkan untuk menggunakan ungkapan subhanallah. Di satu sisi makmum ingin menunjukkan kesalahan imam, di sisi lain makmum ingin mengagungkan Allah dari sifat lalai.
Sebagaimana yang diutarakan oleh Ibn Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawanya: “Perintah untuk bertasbih kepada Allah adalah bentuk menyucikan Allah dari segala macam aib dan keburukan (di satu sisi), dan menetapkan kesempurnaan sifat yang dimiliki Allah (di sisi lain) dengan begitu tasbih berarti menyucikan dan mengagungkan sekaligus…”
Lihat Juga :