Hukum Mencabut dan Mewarnai Uban, Haram Atau Makruh?

loading...
Hukum Mencabut dan Mewarnai Uban, Haram Atau Makruh?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang umatnya mencabut uban karena merupakan cahaya bagi seorang mukmin di Hari Kiamat. Foto/dok eramuslim.
Hukum mencabut dan mewarnai uban telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sejak 14 abad lalu. Rasulullah melarang umatnya mencabut uban karena itu adalah cahaya bagi seorang mukmin.

Bagaimana hukum mencabut uban menurut pandangan syariat? Mari kita simak penjelasan Ustaz Farid Nu'man Hasan berikut. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“لاتنتفوا الشيب ما من مسلمٍ يشيب شيبةً في الإِسلام” قال عن سفيان “إلاَّ كانت له نوراً يوم القيامة” وقال في حديث يحيى “إلا كتب اللّه [تعالى وجل] له بها حسنةً وحطَّ عنه بها خطيئةً“.

"Janganlah kalian mencabut uban, tidaklah seorang muslim beruban di dalam Islam." (Beliau bersabda, dari Sufyan): "Melainkan baginya cahaya di hari Kiamat nanti." (dalam hadits Yahya): "Melainkan Allah Ta'ala mencatat baginya satu kebaikan dan menghapuskan untuknya satu kesalahan." (HR. Abu Daud No. 4202)

Baca Juga: Menyemir Rambut, Umar bin Khattab: Inilah Semiran Islam dan Ini Semiran Iman

Dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya:



“أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن نتف الشيب وقال إنه نور المسلم“. هذا حديث حسن وقد رواه عبد الرحمن بن الحارث وغير واحد عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده

"Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mencabut uban, dan bersabda bahwa itu adalah cahaya bagi seorang muslim." (HR. At Tirmidzi No. 2975, katanya: Hadits ini hasan. Syekh Al Albani mengatakan shahih dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2821)

Syarah Hadis:
Hadits-hadits di atas secara zahir menunjukkan larangan mencabut uban, dan hukum dasar dari larangan menunjukkan haram. Berkata Syekh Abdul Muhsin Hamd Al-'Abbad Al-Badr Hafizhahullah:

فهذا يدل على منع أو تحريم نتف الشيب

"Maka, ini menunjukkan larangan atau keharaman mencabut uban." (Syarh Sunan Abi Daud No. 472. Maktabah Al Miyskah)

Tetapi, tertulis dalam berbagai kitab tentang riwayat dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

عن عبد الله بن مسعود أن نبي الله صلى الله عليه وسلم كان يكره الصفرة يعني الخلوق وتغيير الشيب يعني نتف الشيب وجر الإزار والتختم بالذهب…

Dari Abdullah bin Mas'ud, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memakruhkan shafrah yakni wangi-wangian, merubah uban yakni mencabutnya, menjulurkan kain, dan memakai cincin emas..." (HR Abu Daud No. 4222, An-Nasa’i No. 5088, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 15464)

Keterangan dari Ibnu Mas’ud ini menyebutkan bahwa Nabi hanya memakruhkan mencabut uban. Tetapi hadits ini memiliki redaksi yang musykil sebab menyebutkan bahwa memakai cincin emas (buat laki-laki) adalah makruh, padahal telah ijma’ (konsensus) bahwa cincin emas adalah haram untuk laki-laki, bukan makruh. Dan, secara sanad hadis ini pun munkar (Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud, No. 4222),

Karena itu menurut para ulama, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah kemakruhannya. Maka, mesti kembali kepada hukum asal larangan yaitu haram. Namun, ada dalil lain yang menunjukkan kemakruhannya, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mengatakan:

يكره أن ينتف الرجل الشعرة البيضاء من رأسه ولحيته

"Dimakruhkan bagi seorang laki-laki mencabut rambut kepalanya yang memutih dan juga janggutnya." (HR Muslim No 2341, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No 14593)

Apa yang dikatakan Anas bin Malik ini menjadi penjelas, sekaligus dalil yang kuat makruhnya mencabut uban baik di kepala atau di janggut. Dan, ini menjadi pendapat Mazhab Syafi’i dan Maliki bahwa mencabut uban adalah makruh, tidak haram. Inilah pandangan yang lebih kuat. Wallahu A'lam

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: "Sahabat-sahabat kami (Syafi'iyah) dan sahabat-sahabat Malik (Malikiyah) mengatakan: dimakruhkan, dan tidak diharamkan." (Al Minhaj Syah Shahih Muslim, 8/59. Mawqi’ Ruh Al Islam)
halaman ke-1
cover top ayah
وَمَنۡ يَّقۡتُلۡ مُؤۡمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَالِدًا فِيۡهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيۡمًا
Dan barangsiapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.

(QS. An-Nisa:93)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!