Merawat Kesalehan di Luar Ramadhan

loading...
Merawat Kesalehan di Luar Ramadhan
Seorang jamaah melakukan tadarus di Masjid Baiturrahman, Kompleks Parlemen, Tanah Abang, Jakarta, kemarin. Pada bulan Ramadan umat muslim memperbanyak ibadah, salah satunya dengan membaca Alquran. Foto
JAKARTA - Buah terbesar dari ibadah yang dikerjakan, termasuk ibadah pada Ramadhan , adalah takwa. Karena itu, ketakwaan yang didapatkan selama umat muslim berpuasa seyogianya bisa dipertahankan pada bulan-bulan lain di luar Ramadhan.

Merawat takwa harus menjadi tekad setiap pribadi muslim. Setelah selesai berpuasa, seyogianya ada peningkatan keimanan yang ditunjukkan dalam aktivitas kehidupan. Kesalehan individual dan kesalehan sosial yang menguat saat Ramadan seyogianya terus terpatri dalam kehidupan sehari-hari. Takwa yang terjaga bisa terlihat ketika seseorang selalu konsisten dalam ibadah, menunjukkan akhlak yang baik, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, dan membela agama.

Di dalam Alquran, Allah SWT juga memerintahkan, "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan..." [QS Al-Baqarah: 208].

Merawat ketakwaan di luar Ramadan tidak hanya mewujud pada ibadah mahdah, tetapi juga pada saat saat bermuamalah, misalnya dalam menjalankan pekerjaan, menekuni hobi, saat belajar dan mengajar, melakukan makan dan minum, berbusana, berdandan. (Baca: 4 Keutamaan Bagi Orang yang Bersabar Menghadapi Musibah)



Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadis Indonesia Ustadz Fauzan Amin mengatakan, di antara tanda-tanda diterimanya ibadah puasa seseorang terlihat pada perilakunya ketika Ramadan telah berlalu. Jika ibadah yang dilakukannya diterima maka dia akan semakin bertambah ketakwaanya kepada Allah SWT. Namun, jika dilakukan tidak sungguh-sungguh maka yang berlaku kebalikannya.

Fauzan menjelaskan, riwayat dari Syaikh Shalih Al-Fauzan mengatakan bahwa di antara tanda diterimanya amal saleh saat Ramadan adalah keadaan seorang muslim menjadi lebih baik setelah dibandingkan sebelumnya. Karena pada dasarnya, kebaikan akan mengajak pada kebaikan (selanjutnya) dan amal saleh akan mengajak pada amal saleh lainnya.

“Maka agar nilai nilai puasa selama Ramadan tetap terpatri dalam pribadi seorang muslim, hendaknya dia selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah,” ujar Fauzan ketika dihubungi KORAN SINDO kemarin.

Fauzan melanjutkan, umat muslim pun bisa mengamalkan sebuah doa agar ibadahnya diterima Allah SWT. Doa tersebut diajarkan oleh Nabi Ibrahim yang tertulis di Surah Al-Baqarah ayat 127 yang berbunyi, “Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ketua Komisi Seni dan Budaya Majelis Ulama Indonesia Sodikun berharap agar pada Ramadan 1441 H ini seluruh umat Islam bisa terpacu, termotivasi, dan semakin mengakar jiwa, raga, rasa, dan pikirannya untuk mencintai Allah SWT. (Baca juga: Ini Kunci Hidup Bahagia Menurut Aa Gym)
halaman ke-1
cover top ayah
مَنۡ يُّضۡلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَادِىَ لَهٗ ‌ؕ وَ يَذَرُهُمۡ فِىۡ طُغۡيَانِهِمۡ يَعۡمَهُوۡنَ
Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.

(QS. Al-A’raf:186)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video