Nahi Munkar, Gus Baha: Jangan Timbulkan Kerusakan Baru
Sabtu, 10 April 2021 - 20:24 WIB
loading...
A
A
A
Dia juga mengingatkan, jangan pernah kita menyebut bahwa nahi munkar itu bisa gugur, atau tidak wajib. Bagaimanapun, nahi munkar itu tetap lah wajib dan menjadi tugas seorang Muslim.
Baca juga: Anjing Tidak Najis, Gus Baha Lebih Condong ke Mazhab Maliki?
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk melawan kemungkaran? Menurut Gus Baha, kita perlu memiliki jadwal tersendiri, dengan rute dan perhitungan sendiri. Yakni, misalkan, ketika seorang pemabuk yang kita temui ini sudah sadar, kita kunjungi rumahnya, dan kemudian kita ajak bicara baik-baik. Atau bicarakan secara baik-baik kepada orangtuanya.
Karena bagaimana pun, dalam mempraktikkan ilmu fiqih, tidak bisa asal serampangan. Ilmu fiqih punya hitung-hitungan yang disesuaikan dengan situasi tertentu.
Tiga Tingkatan
Sementara itu, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan pola amar ma’ruf nahi munkar itu terbagi menjadi lima tingkatan.
Pertama yaitu at-ta'rif yang berarti memperkenalkan atau memberi tahu. Pada tingkatan ini seseorang yang punya ilmu memberitahukan mana yang halal dan haram kepada saudaranya. Mempekenalkan bahwa Al-Qur'an dan hadis adalah pedoman hidup, dan memperkenalkan ulama yang mengajarkannya.
Sedangkan yang kedua yaitu al-wa'dzu bil kalamil latif, yakni menasihati dengan ucapan yang lemah lembut.
Ketiga yaitu as-sabbu wat ta'nif, yakni memaki atau mencela dengan keras. Tetapi perlu dicatat, tindakan ini tidak boleh menggunakan kata-kata yang keji, kotor, tidak senonoh dan tidak sopan.
Pola keempat yaitu al-man'u bil qahr atau mencegah dengan langsung. Seperti mengambil barang yang dicuri dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Dan terakhir yaitu at-takhwif wat tahdid bid dharb yakni dengan cara menakut-nakuti atau diancam dengan pukulan.
Baca juga: Anjing Tidak Najis, Gus Baha Lebih Condong ke Mazhab Maliki?
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk melawan kemungkaran? Menurut Gus Baha, kita perlu memiliki jadwal tersendiri, dengan rute dan perhitungan sendiri. Yakni, misalkan, ketika seorang pemabuk yang kita temui ini sudah sadar, kita kunjungi rumahnya, dan kemudian kita ajak bicara baik-baik. Atau bicarakan secara baik-baik kepada orangtuanya.
Karena bagaimana pun, dalam mempraktikkan ilmu fiqih, tidak bisa asal serampangan. Ilmu fiqih punya hitung-hitungan yang disesuaikan dengan situasi tertentu.
Tiga Tingkatan
Sementara itu, Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan pola amar ma’ruf nahi munkar itu terbagi menjadi lima tingkatan.
Pertama yaitu at-ta'rif yang berarti memperkenalkan atau memberi tahu. Pada tingkatan ini seseorang yang punya ilmu memberitahukan mana yang halal dan haram kepada saudaranya. Mempekenalkan bahwa Al-Qur'an dan hadis adalah pedoman hidup, dan memperkenalkan ulama yang mengajarkannya.
Sedangkan yang kedua yaitu al-wa'dzu bil kalamil latif, yakni menasihati dengan ucapan yang lemah lembut.
Ketiga yaitu as-sabbu wat ta'nif, yakni memaki atau mencela dengan keras. Tetapi perlu dicatat, tindakan ini tidak boleh menggunakan kata-kata yang keji, kotor, tidak senonoh dan tidak sopan.
Pola keempat yaitu al-man'u bil qahr atau mencegah dengan langsung. Seperti mengambil barang yang dicuri dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Dan terakhir yaitu at-takhwif wat tahdid bid dharb yakni dengan cara menakut-nakuti atau diancam dengan pukulan.
Lihat Juga :