Renungan: Ramadhan Semoga Saja Tanpa Luka Amarah
Minggu, 11 April 2021 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
Amarah memang menimbulkan luka yang sulit tersembuhkan. Konon dahulu kala, di sebuah daerah, ada seorang anak yang memiliki emosi yang buruk. Dia sangat pemarah. Sang ayah bingung mendapati anaknya yang sering marah itu. Lalu ia memberinya sebuah palu dan sekantong paku. Kepada sang anak dia mengatakan, "jika setiap kali kau marah tancapkan paku ini di pagar."
Pada hari pertama anak itu menancapkan 37 paku ke pagar. Pada hari berikutnya juga tak jauh dari angka itu. Selama beberapa minggu, jumlah paku yang ditancapkan berkurang. Anak ini menemukannya cara lebih mudah menahan amarahnya ketimbang memaku pagar.
Akhirnya hari itu datang. Ketika anak ini merasa sudah tidak marah lagi dan mengatakan kepada ayahnya. Selanjutnya sang ayah meminta ia mencabut satu per satu paku dari pagar setiap harinya, untuk membuktikan ia telah mampu menahan emosinya. Hari berlalu dan anak itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku sudah dicabut.
Baca juga: Doa Akhir Syaban Menjelang Ramadhan Lengkap Latin dan Artinya
Sang ayah mencek laporan sang anak. Sembari membimbing anaknya menuju pagar dia berkata, "Kamu telah melakukan dengan baik, anakku, tapi lihatlah lubang-lubang bekas paku di pagar itu."
Pagar itu tidak akan pernah sama. Ketika kamu marah kepada seseorang, maka akan meninggalkan bekas luka seperti pagar itu. Kamu dapat menodongkan pisau pada seseorang, lalu membatalkannya. Tidak peduli berapa kali kamu mengatakan menyesal, lukanya masih ada dan terus membekas.
Pada Ramadhan ini kali, semoga saja tak ada acara marah-marah segala. Bukankah puasa sebagai bulan pengendalian diri?
Puasa mengandung pesan agar kita menghindari perilaku yang tidak sehat, termasuk perilaku yang didorong oleh emosi. Marah dapat mengurangi nilai ibadah puasa, begitu kajian ilmu fikih. Rasulullah menyatakan jika orang yang berpuasa dimaki atau dilecehkan harkat martabatnya, maka hendaknya ia mengataan "aku puasa".
Pada hari pertama anak itu menancapkan 37 paku ke pagar. Pada hari berikutnya juga tak jauh dari angka itu. Selama beberapa minggu, jumlah paku yang ditancapkan berkurang. Anak ini menemukannya cara lebih mudah menahan amarahnya ketimbang memaku pagar.
Akhirnya hari itu datang. Ketika anak ini merasa sudah tidak marah lagi dan mengatakan kepada ayahnya. Selanjutnya sang ayah meminta ia mencabut satu per satu paku dari pagar setiap harinya, untuk membuktikan ia telah mampu menahan emosinya. Hari berlalu dan anak itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku sudah dicabut.
Baca juga: Doa Akhir Syaban Menjelang Ramadhan Lengkap Latin dan Artinya
Sang ayah mencek laporan sang anak. Sembari membimbing anaknya menuju pagar dia berkata, "Kamu telah melakukan dengan baik, anakku, tapi lihatlah lubang-lubang bekas paku di pagar itu."
Pagar itu tidak akan pernah sama. Ketika kamu marah kepada seseorang, maka akan meninggalkan bekas luka seperti pagar itu. Kamu dapat menodongkan pisau pada seseorang, lalu membatalkannya. Tidak peduli berapa kali kamu mengatakan menyesal, lukanya masih ada dan terus membekas.
Pada Ramadhan ini kali, semoga saja tak ada acara marah-marah segala. Bukankah puasa sebagai bulan pengendalian diri?
Puasa mengandung pesan agar kita menghindari perilaku yang tidak sehat, termasuk perilaku yang didorong oleh emosi. Marah dapat mengurangi nilai ibadah puasa, begitu kajian ilmu fikih. Rasulullah menyatakan jika orang yang berpuasa dimaki atau dilecehkan harkat martabatnya, maka hendaknya ia mengataan "aku puasa".
(mhy)
Lihat Juga :