Renungan: Meraih Suksesi, Belajar dari Pohon Jati
Rabu, 14 April 2021 - 05:22 WIB
loading...
A
A
A
Pohon jati dapat bertahan hidup selama dua hingga tiga ratus tahun. Papan yang terbuat dari jati seusia itu amat kuat. Jika dibuat mebel juga sangat indah. Kayu ini jika dipoles akan bersinar bak cermin, dan ia dapat bertahan dari generasi ke generasi. Hanya butuh polesan sesekali saja untuk membersihkan.
Baca juga: Renungan: Bergerak dari Satu Keinginan untuk Keinginan yang Lain
Pohon jati juga perlu perawatan. Saat berusia lima tahun, tatkala pohon masih kecil, cabangnya mesti dipotong secara teratur. Ini perlu dilakukan agar pohonnya tumbuh lurus, dan dalam dua puluh tahun pohon ini siap untuk dipotong.
"Guru mengaji saya memberikan perumpamaan bahwa manusia itu bak pohon jati," ujar lelaki yang tampaknya sudah berumur itu.
"Meskipun ia dapat disebut seorang manusia, ia tidak akan mampu mengembangkan nilai-nilai secara penuh sampai ia dewasa. Sebelum itu, tak peduli bagaimana ia belajar, tidak peduli berapa banyak seni dan ilmu yang telah dipelajari, ia akan seperti pohon jati muda. Belum banyak berguna bagi dirinya, atau orang lain. Jika dia ditebang sebelum waktunya, maka tak banyak gunanya. Ia akan mudah hancur dan keropos,' jelasnya.
Apa yang harus dilakukan agar manusia menjadi dewasa?
"Menurut guru mengaji saya, pertama-tama harus membuat sambungan antara dirinya dengan Allah. Membangun hubungan dengan Allah dengan menjalankan sifat-sifat Allah. Menempatkan antara keadilan dan hati nurani, keadilan Allah dan hati nurani dirinya, antara cinta dirinya dan cinta Allah."
Baca juga: Renungan: Kebahagiaan Dunia Materi Bak Sungai yang Tercemar
Dia harus membangun koneksi antara perdamaian dan belas kasih Allah. Damai untuk dirinya dan belas kasih. Untuk menjadi kuat dalam kebijaksanaan, kualitas dan tindakan harus ditempa oleh waktu. Ibadah, doa dan pendekatan dengan Allah juga harus matang.
Lalu, kapan rahmat Tuhan berkembang dalam dirinya? Kapan dia akan tampil dengan hati nan cantik, berkualitas, dan memiliki kebijaksanaan?
Baca juga: Renungan: Bergerak dari Satu Keinginan untuk Keinginan yang Lain
Pohon jati juga perlu perawatan. Saat berusia lima tahun, tatkala pohon masih kecil, cabangnya mesti dipotong secara teratur. Ini perlu dilakukan agar pohonnya tumbuh lurus, dan dalam dua puluh tahun pohon ini siap untuk dipotong.
"Guru mengaji saya memberikan perumpamaan bahwa manusia itu bak pohon jati," ujar lelaki yang tampaknya sudah berumur itu.
"Meskipun ia dapat disebut seorang manusia, ia tidak akan mampu mengembangkan nilai-nilai secara penuh sampai ia dewasa. Sebelum itu, tak peduli bagaimana ia belajar, tidak peduli berapa banyak seni dan ilmu yang telah dipelajari, ia akan seperti pohon jati muda. Belum banyak berguna bagi dirinya, atau orang lain. Jika dia ditebang sebelum waktunya, maka tak banyak gunanya. Ia akan mudah hancur dan keropos,' jelasnya.
Apa yang harus dilakukan agar manusia menjadi dewasa?
"Menurut guru mengaji saya, pertama-tama harus membuat sambungan antara dirinya dengan Allah. Membangun hubungan dengan Allah dengan menjalankan sifat-sifat Allah. Menempatkan antara keadilan dan hati nurani, keadilan Allah dan hati nurani dirinya, antara cinta dirinya dan cinta Allah."
Baca juga: Renungan: Kebahagiaan Dunia Materi Bak Sungai yang Tercemar
Dia harus membangun koneksi antara perdamaian dan belas kasih Allah. Damai untuk dirinya dan belas kasih. Untuk menjadi kuat dalam kebijaksanaan, kualitas dan tindakan harus ditempa oleh waktu. Ibadah, doa dan pendekatan dengan Allah juga harus matang.
Lalu, kapan rahmat Tuhan berkembang dalam dirinya? Kapan dia akan tampil dengan hati nan cantik, berkualitas, dan memiliki kebijaksanaan?
Lihat Juga :