Mengenal Rasm Utsmani, Mushaf Qur'an Standar Indonesia (1)

loading...
Mengenal Rasm Utsmani, Mushaf Quran Standar Indonesia (1)
Salah satu mushaf Al-Quran Rasm Utsmani yang dijual di Indonesia. Foto/Ist
Al-Qur'an merupakan Kalamullah yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Sejarah diturunkannya Al-Qur'an ini terjadi di bulan Ramadhan dan di malam yang mulia (Lailatul-Qadar).

Al-Qur'an pertama kali turun di Gua Hira. Kalam Allah ini dibacakan langsung oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad hingga kemudian disempurnakan secara berangsur selama dua periode yaitu Makkah dan Madinah.

Baca Juga: Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Alquran

Sepeninggal Rasulullah, pembukuan Al-Qur'an mulai digagas di zaman Khalifah Abu Bakar, kemudian berlanjut ke zaman Umar radhiyallahu'anhu. Mushaf Al-Qur'an baru sempurna dibukukan pada zaman Sayyididina Utsman Bin Affan radhiyallahu 'anhu.

Metode penulisan Al-Qur'an inilah yang disebut dengan Rasm. Adapun yang sangat populer di Indonesia adalah Rasm Utsmani yang dinisbahkan kepada Sayidina Utsman Bin Affan. Beliaulah yang mengarahkan supaya Al-Qur'an disalin ke dalam beberapa mushaf dengan menggunakan Rasm tersebut.

Dilansir dari Lajnah Kemenag, mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia adalah Mushaf Al-Qur'an yang dibakukan cara penulisannya (rasm), harakat, tanda baca dan tanda wakafnya berdasarkan hasil Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Al-Qur’an I-IX (1974-983) dan dijadikan sebagai pedoman penerbitan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.



Dr Zainal Arifin Madzkur, Peneliti dan Pentashih di LPMQ Balitbang dan Diklat Kementerian Agama mengatakan, sebagaimana diketahui, mushaf-mushaf yang beredar di Indonesia pada tahun 1970-an didominasi mushaf model Bombay. Mushaf itulah yang kemudian pada Muker Ulama Al-Qur’an yang berlangsung 9 tahun banyak dijadikan pijakan untuk menyusun rumusan-rumusan cara penulisan (rasm), harakat, tanda baca dan tanda wakaf yang nantinya pada Muker ke IX/1983 ditetapkan dalam format yang baru dengan diberi nama, ‘Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia’ atau 'Mushaf Standar Indonesia.'
Mengenal Rasm Utsmani, Mushaf Qur'an Standar Indonesia (1)

Semua huruf yang dibaca ditulis lengkap dengan harakat, sebaliknya yang tidak dibaca akan dihilangkan baris harakatnya. Demikian pula tanda-tanda wakafnya, yang sebelumnya ada 12 tanda wakaf, dalam Mushaf Standar Indonesia yang disahkan oleh Menteri Agama melalui KMA No. 25/1984 disederhanakan menjadi tujuh.

Dalam sejarah perkembangan Al-Qur’an di Indonesia, kehadiran Mushaf Standar Indonesia dinilai cukup efektif dalam menyeragamkan semua cetakan dan penerbitan Al-Qur’an. Persoalan-persoalan perbedaan penulisan, harakat, tanda baca dan tanda wakaf hampir tidak lagi terulang. Bahkan LPMQ yang berdiri dari tahun 1957 pun dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam banyak hal semakin dimudahkan.

Di sisi lain, LPMQ yang tadinya merupakan tim ad hoc, sejak 2007 menjadi satuan kerja tersendiri. Upaya-upaya penelitian dan pengembangan terkait dengan isu-isu kealqur’anan juga menjadi bahan kajian khusus selain tugas dan fungsinya untuk mengeluarkan surat tanda tashih bagi setiap mushaf Al-Qur’an yang diterbitkan di Indonesia. Belakangan muncul beberapa pertanyaan terkait dengan pilihan-pilihan cara penulisan yang dalam disiplin ilmu Al-Qur’an dikenal dengan istilah rasm.

Kenapa Mushaf Standar Indonesia ketika menuliskan kata صراط tertulis dengan Alif setelah Ra', sementara Mushaf Madinah tidak dan hanya diberi tanda harakat kecil berdiri (صرط)? Pertanyaan itu sejatinya sudah dijawab pada abad ke-5 H/ 11 M. Pola penulisan Mushaf Standar ternyata bersesuaian dengan riwayat Abu Amr al-Dani (wafat 444 H/1052 M), sementara Mushaf Madinah mengacu riwayat Abu Dawud (wafat 496 H/ 1102 M).

Dalam konteks konsistensi riwayat al-Dani inilah sebenarnya, Mushaf Al-Qur'an Standar Indonesia yang pada Mukernas Ulama Al-Qur'an di Bogor pada tanggal 25-27 September 2018 dengan melibatkan 110 Ulama dari dalam dan luar negeri berusaha untuk disempurnakan.

(Bersambung)!

Baca Juga: Sejarah Ilmu Tafsir Al-Qur'an, Pengertian dan Jenisnya (2)
(rhs)
cover top ayah
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اِنۡ كُنۡـتُمۡ فِىۡ رَيۡبٍ مِّنَ الۡبَـعۡثِ فَاِنَّـا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيۡرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمۡ‌ ؕ وَنُقِرُّ فِى الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّكُمۡ ‌ۚ وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّتَوَفّٰى وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَتَرَى الۡاَرۡضَ هَامِدَةً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡهَا الۡمَآءَ اهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَاَنۡۢبَـتَتۡ مِنۡ كُلِّ زَوۡجٍۢ بَهِيۡجٍ
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.

(QS. Al-Hajj:5)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!