Wasiat Sang Dermawan Sa’id bin al-‘Ash Menjelang Wafat
Senin, 19 April 2021 - 17:17 WIB
loading...
A
A
A
Cerita ini sampai ke telinga Sa'id bin al-‘Ash. Ia pun memberi Muhammad bin Jahm 100.000 dirham seraya berkata, "Ambillah uang ini dan urungkan niatmu untuk menjual rumah!"
Baca juga: Rebutan Calon Istri, Sahabat Nabi Mughirah bin Syu’bah Diperdaya Anak Muda
Pada tahun 30 H khalifah Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai penguasa di Kufah. Said termasuk pembantu khalifah dalam program pengkodifikasian Al-Qur'an. Pernah juga menjadi gubernur Madinah di era Muawiyyah bin Abi Sufyan. Ia wafat di Madinah dan dikuburkan di kompleks pemakaman Baqi’.
Wasiat
Sebelum wafat beliau meninggalkan wasiat penting untuk anak-anaknya, agar mereka tidak menghilangkan kebiasaannya berbagi dan memberi.
Ia berujar: “Wahai anakku, jangan kalian hilangkan saudara-saudaraku dariku (setelah kematianku). Kunjungilah mereka sebagaimana aku mengunjungi (mereka). Perlakukanlah mereka sebagaimana aku perlakukan (mereka). Jangan (biarkan mereka mencari) perlindungan dengan meminta-minta. Karena sesungguhnya, ketika seseorang meminta (sesuatu) yang dibutuhkan(nya), persendiannya gemetar dan menggigil (karena malu), lidahnya kelu dan wajahnya pucat pasi. (Maka dari itu), cukupilah kebutuhan (mereka) sebelum (mereka) meminta.
Sungguh, aku tidak temukan wajah orang yang (sedang dalam kebutuhan), (kecuali) dia (terus) bergerak-gerak (gelisah) di atas tempat tidurnya sembari teringat akan kebutuhannya.
Kemudian dia mendatangi kalian karena kebutuhannya, (dan) aku tidak melihat, (meskipun) kebutuhannya terpenuhi, (dapat) menggantikan (rasa malu yang tampak) di wajahnya. Karena itu, bergegaslah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sebelum mereka (mendatangi kalian) terlebih dahulu untuk meminta(nya)” (Imam al-Hafidz Ibnu Abi Dunya, al-Ikhwân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988, h. 223).
Baca juga: Perang Unta: Syahidnya Dua Sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair
Baca juga: Rebutan Calon Istri, Sahabat Nabi Mughirah bin Syu’bah Diperdaya Anak Muda
Pada tahun 30 H khalifah Utsman bin Affan mengangkatnya sebagai penguasa di Kufah. Said termasuk pembantu khalifah dalam program pengkodifikasian Al-Qur'an. Pernah juga menjadi gubernur Madinah di era Muawiyyah bin Abi Sufyan. Ia wafat di Madinah dan dikuburkan di kompleks pemakaman Baqi’.
Wasiat
Sebelum wafat beliau meninggalkan wasiat penting untuk anak-anaknya, agar mereka tidak menghilangkan kebiasaannya berbagi dan memberi.
Ia berujar: “Wahai anakku, jangan kalian hilangkan saudara-saudaraku dariku (setelah kematianku). Kunjungilah mereka sebagaimana aku mengunjungi (mereka). Perlakukanlah mereka sebagaimana aku perlakukan (mereka). Jangan (biarkan mereka mencari) perlindungan dengan meminta-minta. Karena sesungguhnya, ketika seseorang meminta (sesuatu) yang dibutuhkan(nya), persendiannya gemetar dan menggigil (karena malu), lidahnya kelu dan wajahnya pucat pasi. (Maka dari itu), cukupilah kebutuhan (mereka) sebelum (mereka) meminta.
Sungguh, aku tidak temukan wajah orang yang (sedang dalam kebutuhan), (kecuali) dia (terus) bergerak-gerak (gelisah) di atas tempat tidurnya sembari teringat akan kebutuhannya.
Kemudian dia mendatangi kalian karena kebutuhannya, (dan) aku tidak melihat, (meskipun) kebutuhannya terpenuhi, (dapat) menggantikan (rasa malu yang tampak) di wajahnya. Karena itu, bergegaslah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sebelum mereka (mendatangi kalian) terlebih dahulu untuk meminta(nya)” (Imam al-Hafidz Ibnu Abi Dunya, al-Ikhwân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988, h. 223).
Baca juga: Perang Unta: Syahidnya Dua Sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair
(mhy)
Lihat Juga :