Abbad bin Bisyir: Ada Cahaya Allah yang Selalu Menyertainya
Minggu, 02 Mei 2021 - 17:07 WIB
loading...
A
A
A
Ujar Abbad: "Ketika aku salat tadi, aku membaca beberapa ayat al-Quran yang amat mengharukan hatiku, hingga aku tak ingin untuk memutuskannya. Dan demi Allah, aku tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita menjaganya, sungguh, aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu!"
Kecintaan Abbad kepada Allah dan Rasulnya memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan semenjak Nabi SAW berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada Kaum Anshar, ia termasuk salah seorang di antara mereka.
Sabdanya: "Hai golongan Anshar, kalian adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit ari! Maka tak mungkin aku dicederai oleh pihak kalian!"
Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (2): Si Ompong Tapi Ganteng Itu Jadi Korban Thoun
Semenjak itu, yakni semenjak Abbad mendengar ucapan ini dari Rasulnya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, dan ia rela menyerahkan harta benda nyawa dan hidupnya di jalan Allah dan di jalan Rasul-Nya.
Ia selalu tampil di arena pengurbanan dan di medan laga sebagai orang pertama. Sebaliknya di waktu pembagian keuntungan dan harta rampasan, sukar untuk ditemuinya.
Di samping itu ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun. Seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang. Seorang dermawan yang rela berkurban. Dan seorang mukmin sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanannya.
Keutamaannya ini telah dikenai luas di antara sahabat-sahabat Rasul. Dan Aisyah radhiallahu anha Ummul Mu'minin pernah mengatakan tentang dirinya: Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tak dapat diatasi oleh seorang pun juga yaitu: Sa'ad bin Mu'adz, Useid bin Hudlair dan Abbad bin Bisyir.”
Orang-orang Islam angkatan pertama mengetahui bahwa Abbad adalah seorang tokoh yang beroleh karunia berupa cahaya dari Allah. Penglihatannya yang jelas dan beroleh penerangan, dapat mengetahui tempat-tempat yang baik dan meyakinkan tanpa mencarinya dengan susah-payah. Bahkan kepercayaan sahabat-sahabatnya mengenai cahaya ini sampai ke suatu tingkat yang lebih tinggi, bahwa ia merupakan benda yang dapat terlihat. Mereka sama sekata bahwa bila Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah daripadanya berkas-berkas cahaya dan sinar yang menerangi baginya jalan yang akan ditempuh.
Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad sepeninggal Rasulullah SAW, Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya. Apalagi dalam pertempuran Yamamah di mana Kaum Muslimin menghadapi balatentara yang
paling kejam dan paling berpengalaman di bawah pimpinan Musailamah. Abbad melihat bahaya besar yang mengancam Islam. Maka jiwa pengurbanan dan teras kepahlawanannya mengambil bentuk sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya, dan meningkat ke taraf yang sejajar dengan kesadarannya akan bahaya tersebut, hingga menjadikannya sebagai prajurit yang berani mati, yang tak menginginkan kecuali mati syahid di jalan Ilahi.
Sehari sebelum perang Yamamah itu dimulai, Abbad mengalami suatu mimpi yang tak lama antaranya diketahui ta'birnya secara gamblang dan terjadi di arena pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin.
Abu Sa'id al-Khudri radhiallahu anhu menceritakan mimpi yang dilihat oleh Abbad tersebut begitu pun ta'birnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya.
Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (1): Memenggal Kepala Sang Ayah di Perang Badar
Berikut cerita Abu Sa'id:
Abbad bin Bisyir mengatakan kepadaku: "Hai Abu Sa'id! Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi. Saya yakin bahwa ta'birnya insya Allah saya akan menemui syahid.”
Kecintaan Abbad kepada Allah dan Rasulnya memenuhi segenap perasaan dan seluruh kehidupannya. Dan semenjak Nabi SAW berpidato dan mengarahkan pembicaraannya kepada Kaum Anshar, ia termasuk salah seorang di antara mereka.
Sabdanya: "Hai golongan Anshar, kalian adalah inti, sedang golongan lain bagai kulit ari! Maka tak mungkin aku dicederai oleh pihak kalian!"
Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (2): Si Ompong Tapi Ganteng Itu Jadi Korban Thoun
Semenjak itu, yakni semenjak Abbad mendengar ucapan ini dari Rasulnya, dari guru dan pembimbingnya kepada Allah, dan ia rela menyerahkan harta benda nyawa dan hidupnya di jalan Allah dan di jalan Rasul-Nya.
Ia selalu tampil di arena pengurbanan dan di medan laga sebagai orang pertama. Sebaliknya di waktu pembagian keuntungan dan harta rampasan, sukar untuk ditemuinya.
Di samping itu ia adalah seorang ahli ibadah yang tekun. Seorang pahlawan yang gigih dalam berjuang. Seorang dermawan yang rela berkurban. Dan seorang mukmin sejati yang telah membaktikan hidupnya untuk keimanannya.
Keutamaannya ini telah dikenai luas di antara sahabat-sahabat Rasul. Dan Aisyah radhiallahu anha Ummul Mu'minin pernah mengatakan tentang dirinya: Ada tiga orang Anshar yang keutamaannya tak dapat diatasi oleh seorang pun juga yaitu: Sa'ad bin Mu'adz, Useid bin Hudlair dan Abbad bin Bisyir.”
Orang-orang Islam angkatan pertama mengetahui bahwa Abbad adalah seorang tokoh yang beroleh karunia berupa cahaya dari Allah. Penglihatannya yang jelas dan beroleh penerangan, dapat mengetahui tempat-tempat yang baik dan meyakinkan tanpa mencarinya dengan susah-payah. Bahkan kepercayaan sahabat-sahabatnya mengenai cahaya ini sampai ke suatu tingkat yang lebih tinggi, bahwa ia merupakan benda yang dapat terlihat. Mereka sama sekata bahwa bila Abbad berjalan di waktu malam, terbitlah daripadanya berkas-berkas cahaya dan sinar yang menerangi baginya jalan yang akan ditempuh.
Dalam peperangan menghadapi orang-orang murtad sepeninggal Rasulullah SAW, Abbad memikul tanggung jawab dengan keberanian yang tak ada taranya. Apalagi dalam pertempuran Yamamah di mana Kaum Muslimin menghadapi balatentara yang
paling kejam dan paling berpengalaman di bawah pimpinan Musailamah. Abbad melihat bahaya besar yang mengancam Islam. Maka jiwa pengurbanan dan teras kepahlawanannya mengambil bentuk sesuai dengan tugas yang dibebankan oleh keimanannya, dan meningkat ke taraf yang sejajar dengan kesadarannya akan bahaya tersebut, hingga menjadikannya sebagai prajurit yang berani mati, yang tak menginginkan kecuali mati syahid di jalan Ilahi.
Sehari sebelum perang Yamamah itu dimulai, Abbad mengalami suatu mimpi yang tak lama antaranya diketahui ta'birnya secara gamblang dan terjadi di arena pertempuran sengit yang diterjuni oleh Kaum Muslimin.
Abu Sa'id al-Khudri radhiallahu anhu menceritakan mimpi yang dilihat oleh Abbad tersebut begitu pun ta'birnya, serta peranannya yang mengagumkan dalam pertempuran yang berakhir dengan syahidnya.
Baca juga: Abu Ubaidah bin Jarrah (1): Memenggal Kepala Sang Ayah di Perang Badar
Berikut cerita Abu Sa'id:
Abbad bin Bisyir mengatakan kepadaku: "Hai Abu Sa'id! Saya bermimpi semalam melihat langit terbuka untukku, kemudian tertutup lagi. Saya yakin bahwa ta'birnya insya Allah saya akan menemui syahid.”
Lihat Juga :