Kisah Inspirasi Perjuangan Dakwah Ustaz Tengku Zulkarnain (1)
Selasa, 11 Mei 2021 - 23:38 WIB
loading...
A
A
A
Owh ya, Masjid Al-Hakim Taman Menteng di Jakarta Pusat itu dulunya adalah Majelis pengajian dimana dulu saya sering memberikan pengajian rutin di setiap malam Ahad di kisaran tahun 2017 dan kemudian saya tinggalkan pulang kampung ke Kalimantan.
Dengan penuh rasa takzim dan syukur, saya mencium tangan beliau dan beliau menariknya dengan rendah hati, seakan perjumpaan guru dan murid yang lama tak bertemu. Meski itu perjumpaan pertama kalinya ketika itu, saya bisa menangkap banyak pesan dan isyarat berharga dari pertemuan singkat itu.
Saat memberikan pengajian rutin di Masjid Al-Hakim, saya bisa menyimak langsung betapa kedalaman ilmu Tengku Zul tidak diragukan lagi; keilmuannya bukanlah kaleng-kaleng.
Beliau orang yang sangat paham tentang keilmuan Islam yang bersumber dari kitab turats; kitab-kitab klasik ditambah analisanya yang tajam, cerdas dan kritis, paham kondisi umat kekinian.
Dengan demikian, setiap pesan dakwahnya mampu menjawab tantangan dan kebutuhan umat yang tengah dahaga dengan pencerahan ajaran keislaman yang sesungguhnya. Tengku Zul adalah salah satu sosok dai yang banyak dirindukan umat.
Pada moment itulah saya mendapatkan kisah perjalanan panjang awal mula bagaimana pendidikan agama diperoleh oleh Tengku Zul sewaktu masih anak-anak. Meskipun beliau terdidik dari keluarga seniman dan diharapkan tumbuh besar menjadi seorang pemusik oleh ayah beliau, namun soal roh spirit keilmuan agama telah digandrungi beliau sejak muda.
"Sewaktu saya masih muda, kata Ustaz Tengku, saya sudah memiliki penghasilan sendiri dari usaha berkarya menjual lirik lagu dan hasil rekaman bernyanyi di studio radio. Dari penghasilan saya itu, saya sudah bisa membeli apa saja yang saya inginkan, bahkan saya sudah bisa sering jalan-jalan ke Malaysia."
"Sewaktu masih anak-anak hingga remaja, saya diwajibkan ayah saya berlatih bermain gitar selama 8 jam sehari! Saya metik gitar itu sudah seperti orang tidur saja!" Hal ini menunjukkan beliau seorang maestro dalam bidang seni musik sejak muda.
Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Allah lebih memilih Tengku Zul menjadi seorang Dai sekaligus pejuang umat yang hadir di tengah kondisi umat Islam yang sangat membutuhkan sosok tegas, lurus dan berani menyampaikan kebenaran.
Walau sejak kecil Ustaz Tengku dididik dalam keluarga seniman, ditambah ayah beliau seorang pemain musik di salah satu satu group musik di Medan, namun soal urusan mengaji keilmuan agama masih tetap menjadi prioritas agama.
Dengan penuh rasa takzim dan syukur, saya mencium tangan beliau dan beliau menariknya dengan rendah hati, seakan perjumpaan guru dan murid yang lama tak bertemu. Meski itu perjumpaan pertama kalinya ketika itu, saya bisa menangkap banyak pesan dan isyarat berharga dari pertemuan singkat itu.
Saat memberikan pengajian rutin di Masjid Al-Hakim, saya bisa menyimak langsung betapa kedalaman ilmu Tengku Zul tidak diragukan lagi; keilmuannya bukanlah kaleng-kaleng.
Beliau orang yang sangat paham tentang keilmuan Islam yang bersumber dari kitab turats; kitab-kitab klasik ditambah analisanya yang tajam, cerdas dan kritis, paham kondisi umat kekinian.
Dengan demikian, setiap pesan dakwahnya mampu menjawab tantangan dan kebutuhan umat yang tengah dahaga dengan pencerahan ajaran keislaman yang sesungguhnya. Tengku Zul adalah salah satu sosok dai yang banyak dirindukan umat.
Pada moment itulah saya mendapatkan kisah perjalanan panjang awal mula bagaimana pendidikan agama diperoleh oleh Tengku Zul sewaktu masih anak-anak. Meskipun beliau terdidik dari keluarga seniman dan diharapkan tumbuh besar menjadi seorang pemusik oleh ayah beliau, namun soal roh spirit keilmuan agama telah digandrungi beliau sejak muda.
"Sewaktu saya masih muda, kata Ustaz Tengku, saya sudah memiliki penghasilan sendiri dari usaha berkarya menjual lirik lagu dan hasil rekaman bernyanyi di studio radio. Dari penghasilan saya itu, saya sudah bisa membeli apa saja yang saya inginkan, bahkan saya sudah bisa sering jalan-jalan ke Malaysia."
"Sewaktu masih anak-anak hingga remaja, saya diwajibkan ayah saya berlatih bermain gitar selama 8 jam sehari! Saya metik gitar itu sudah seperti orang tidur saja!" Hal ini menunjukkan beliau seorang maestro dalam bidang seni musik sejak muda.
Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Allah lebih memilih Tengku Zul menjadi seorang Dai sekaligus pejuang umat yang hadir di tengah kondisi umat Islam yang sangat membutuhkan sosok tegas, lurus dan berani menyampaikan kebenaran.
Walau sejak kecil Ustaz Tengku dididik dalam keluarga seniman, ditambah ayah beliau seorang pemain musik di salah satu satu group musik di Medan, namun soal urusan mengaji keilmuan agama masih tetap menjadi prioritas agama.
Lihat Juga :