Dua Bagian Suul Khatimah, Semoga Kita Dijauhkan dari Si Puncak Kemalangan
Kamis, 03 Juni 2021 - 18:07 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimana jika dalam kondisi demikian itu nyawa seseorang lepas dari raganya? Itulah arti husnul khatimah ataupun suul khatimah yang menjadi acuan kebahagiaan atau penderitaan seseorang di akhirat nanti.
Sebagaimana Rasulullah telah mengatakan bahwa orang yang mati syahid, nanti ketika hari dibangkitkan, darah mereka akan selalu menetes dengan tetap berwarna darah, namun berbau kesturi.
Adapun orang yang mati ketika melaksanakan haji, ia akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiyah. Bahkan para muadzin nanti akan memiliki leher yang paling panjang dan sangat memesona.
Sementara itu, orang-orang kafir akan segera berubah menjadi anjing atau babi dan berbagai visual buruk lainnya. Hal ini jelas mengacu pada pangkalan khatimah atau akhir hayat dan penutup sebuah kehidupan di dunia ini.
Jika diutarakan sebuah pertanyaan: “Betapa tidak adil hukuman Allah yang akan berlaku di akhirat nanti, sebab sebuah kekafiran atau kejahatan yang berlangsung seumur hidup, katakanlah sepanjang seratus tahun, tapi mengapa mereka akan mendapat balasan yang abadi. Begitu pula seorang hamba mukmin, mengapa nanti di akhirat akan mendapat kebahagiaan abadi, tidak terbatas ruang dan waktu?
Padahal peribadatan mereka tidaklah sampai menjangkau seratus tahun, bahkan masih bisa dikurangi waktu tidur dan bekerja atau aktivitas yang lain?
Anggaplah jika seseorang setiap hari memerlukan tidur delapan jam. Kemudian ia hidup selama enam puluh tahun, bukankah waktu yang tersita untuk tidur selama hidupnya akan menyita dua puluh tahun?
Kemudian masih dipotong lagi waktu untuk bekerja dan aktivitas yang lain, sehingga waktu beribadah hanya sekitar lima jam setiap hari, bahkan bisa jadi kurang.”
Syaikh Izzuddin Ibnu Abdis Salam dari Mesir menjawab bahwa ketentuan dan kondisi yang berlaku di akhirat, seluruhnya menyalahi hukum adat, sehingga dapat dikatakan dengan sebuah gaidah at-tagdir “ala khilafi at-tahgig (perkiraan yang menyalahi kenyataan).
Masalahnya, jika saja orang kafir diberi umur seribu tahun atau lebih, mereka pun akan tetap pada kekafirannya, akan tetap berlaku maksiat. Begitu pun orang mukmin akan tetap berpegang pada kebenarannya, akan selalu teguh dalam beribadah.
Dengan demikian, kehidupan di dunia ini hanya sebagai ujian sebentar, mana yang tampak kafir dan mana yang tampak mukmin. Jika setiap individu dihidupkan seribu tahun atau selamanya, tentulah bumi ini akan sangat sempit menanggung bermiliar-miliar penduduk.
Oleh sebab itu, setelah mereka tampak kekafirannya atau mukminnya, setelah betul-betul diketahui bahwa mereka merupakan bibit-bibit penduduk surga ataupun neraka, maka Allah segera mencabut nyawa mereka kemudian mereka dikekalkan pada masing-masing tempat yang sesuai dengan perilakunya.
Selanjutnya mari kita renungkan syair Abu Nawas pujangga Arab yang bernama asli Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami, dalam I'tirof sebagaimana dikutip Ahmad Abu Nizar dalam bukunya berjudul "Celupkan Hatimu ke Samudera Rindu-Nya: The Wisdom of Abu Nawas" (2011):
Si durjana dengan uban di kepala
Adakah kau tidak takut pada siksa
*
Duh celaka atas siksa yang menimpa
Derita tlah menghancurkan dan mendera dari sendi sampai pergelangan
Bagai percik api menyembur kilatan
*
Banyak malam kupenuhi permainan
Si durjana mengharapkan bisa tahan Allah telah mengharamkan, namun kumenghalalkan
Bagaimana Dia memberi ampunan?
*
Si durjana dengan uban di kepala
Adakah kau tidak takut pada siksa
*
Duh celaka atas siksa yang menimpa
Derita tlah menghancurkan dan mendera dari sendi sampai pergelangan
Bagai percik api menyembur kilatan
*
Banyak malam kupenuhi permainan
Si durjana mengharapkan bisa tahan Allah telah mengharamkan, namun kumenghalalkan
Bagaimana Dia memberi ampunan?
Sebagaimana Rasulullah telah mengatakan bahwa orang yang mati syahid, nanti ketika hari dibangkitkan, darah mereka akan selalu menetes dengan tetap berwarna darah, namun berbau kesturi.
Adapun orang yang mati ketika melaksanakan haji, ia akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiyah. Bahkan para muadzin nanti akan memiliki leher yang paling panjang dan sangat memesona.
Sementara itu, orang-orang kafir akan segera berubah menjadi anjing atau babi dan berbagai visual buruk lainnya. Hal ini jelas mengacu pada pangkalan khatimah atau akhir hayat dan penutup sebuah kehidupan di dunia ini.
Jika diutarakan sebuah pertanyaan: “Betapa tidak adil hukuman Allah yang akan berlaku di akhirat nanti, sebab sebuah kekafiran atau kejahatan yang berlangsung seumur hidup, katakanlah sepanjang seratus tahun, tapi mengapa mereka akan mendapat balasan yang abadi. Begitu pula seorang hamba mukmin, mengapa nanti di akhirat akan mendapat kebahagiaan abadi, tidak terbatas ruang dan waktu?
Padahal peribadatan mereka tidaklah sampai menjangkau seratus tahun, bahkan masih bisa dikurangi waktu tidur dan bekerja atau aktivitas yang lain?
Anggaplah jika seseorang setiap hari memerlukan tidur delapan jam. Kemudian ia hidup selama enam puluh tahun, bukankah waktu yang tersita untuk tidur selama hidupnya akan menyita dua puluh tahun?
Kemudian masih dipotong lagi waktu untuk bekerja dan aktivitas yang lain, sehingga waktu beribadah hanya sekitar lima jam setiap hari, bahkan bisa jadi kurang.”
Syaikh Izzuddin Ibnu Abdis Salam dari Mesir menjawab bahwa ketentuan dan kondisi yang berlaku di akhirat, seluruhnya menyalahi hukum adat, sehingga dapat dikatakan dengan sebuah gaidah at-tagdir “ala khilafi at-tahgig (perkiraan yang menyalahi kenyataan).
Masalahnya, jika saja orang kafir diberi umur seribu tahun atau lebih, mereka pun akan tetap pada kekafirannya, akan tetap berlaku maksiat. Begitu pun orang mukmin akan tetap berpegang pada kebenarannya, akan selalu teguh dalam beribadah.
Dengan demikian, kehidupan di dunia ini hanya sebagai ujian sebentar, mana yang tampak kafir dan mana yang tampak mukmin. Jika setiap individu dihidupkan seribu tahun atau selamanya, tentulah bumi ini akan sangat sempit menanggung bermiliar-miliar penduduk.
Oleh sebab itu, setelah mereka tampak kekafirannya atau mukminnya, setelah betul-betul diketahui bahwa mereka merupakan bibit-bibit penduduk surga ataupun neraka, maka Allah segera mencabut nyawa mereka kemudian mereka dikekalkan pada masing-masing tempat yang sesuai dengan perilakunya.
Selanjutnya mari kita renungkan syair Abu Nawas pujangga Arab yang bernama asli Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami, dalam I'tirof sebagaimana dikutip Ahmad Abu Nizar dalam bukunya berjudul "Celupkan Hatimu ke Samudera Rindu-Nya: The Wisdom of Abu Nawas" (2011):
Si durjana dengan uban di kepala
Adakah kau tidak takut pada siksa
*
Duh celaka atas siksa yang menimpa
Derita tlah menghancurkan dan mendera dari sendi sampai pergelangan
Bagai percik api menyembur kilatan
*
Banyak malam kupenuhi permainan
Si durjana mengharapkan bisa tahan Allah telah mengharamkan, namun kumenghalalkan
Bagaimana Dia memberi ampunan?
*
Si durjana dengan uban di kepala
Adakah kau tidak takut pada siksa
*
Duh celaka atas siksa yang menimpa
Derita tlah menghancurkan dan mendera dari sendi sampai pergelangan
Bagai percik api menyembur kilatan
*
Banyak malam kupenuhi permainan
Si durjana mengharapkan bisa tahan Allah telah mengharamkan, namun kumenghalalkan
Bagaimana Dia memberi ampunan?
(mhy)
Lihat Juga :