Jangan Kaget! Inilah Kebiasaan Nabi Muhammad Saat Malam Hari

loading...
Jangan Kaget! Inilah Kebiasaan Nabi Muhammad Saat Malam Hari
Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha pernah mengungkap kebiasaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saat malam hari. Foto/dok SINDOnews
Tak ada manusia yang dalam dirinya tersimpan kesempurnaan kecuali ada pada diri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau tak hanya teladan dalam memimpin umat manusia, tetapi juga contoh terbaik dalam beribadah kepada Allah.

Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah mengungkap kebiasaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat malam hari. Meskipun Baginda Nabi adalah orang yang ma'shum (terpelihara dari dosa) dan menjadi pemegang kunci surga, tetapi beliau tidak lalai dari beribadah kepada Allah.

Baca Juga: 44 Kebiasaan Nabi Muhammad SAW (Bagian 4 Penutup)

Kedekatan Sayyidah 'Aisyah dengan Rasulullah SAW tentu memberikan banyak pengalaman dan ilmu berharga, tak terkecuali terkait dengan kebiasaan dan sunah Rasulullah SAW.

Apakah kebiasaan Rasulullah saat malam hari? Dalam Kitab Qishasul Anbiya dan Fadhilah Sholat Malam dijelaskan, suatu hari, Sayyidah Aisyah ditemui 'Amr bin 'Ubaid dan 'Atha. Keduanya berkata kepada Aisyah, "Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengesankan yang pernah engkau lihat pada Nabi Muhammad?"

Sayyidah 'Aisyah berkata, "Adakah sesuatu yang tidak mengesankan pada diri beliau? Baiklah, ada satu hal yang paling mengesankanku. Pada suatu malam, beliau mendekat kepadaku.

Lalu beliau berdiri dan berkata: "Hai Aisyah, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku." Aku berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah aku ingin dekat denganmu, tetapi aku tidak bisa mencegah keinginanmu."

"Beliau berdiri lalu sholat dan menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Kemudian beliau rukuk dan menangis hingga air matanya membasahi pangkuannya."

Lalu, beliau bersujud dan menangis hingga air matanya membasahi tempat sujudnya. Setelah selesai aku berkata, ''Wahai Nabi, bukankah Allah telah mengampuni semua dosamu?''

Beliau menjawab: ''Hai Aisyah, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?'' (HR Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmizi, al-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).
halaman ke-1
cover top ayah
اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَالۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡعٰمِلِيۡنَ عَلَيۡهَا وَالۡمُؤَلَّـفَةِ قُلُوۡبُهُمۡ وَفِى الرِّقَابِ وَالۡغٰرِمِيۡنَ وَفِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ‌ؕ فَرِيۡضَةً مِّنَ اللّٰهِ‌ؕ وَاللّٰهُ عَلِيۡمٌ حَكِيۡمٌ
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

(QS. At-Taubah:60)
cover bottom ayah
preload video