Piagam Madinah dan Terusirnya Kaum Yahudi dari Tanah Suci
Rabu, 30 Juni 2021 - 14:16 WIB
loading...
A
A
A
Dan yang pasti, seluruh sekolah, kampus dan lembaga pendidikan di semua jenjangnya dibiayai oleh negara, bahkan para murid dan mahasiswanya pun diberi mukafaah atau uang saku.
Tidak harus berprestasi, pokoknya asal masih aktif sekolah dan kuliah, tiap bulan akan dibayar oleh negara. Dari mana uangnya?
Dari jual minyak bumi. Minyak yang selama berjuta tahun mengendap di bumi mereka dan tidak bisa dimanfaatkan, dengan datangnya para ekspatrait itulah baru kemudian minyak itu ada gunanya. Wajar kalau negara Saudi Arabia menganak-emaskan para ekspatriat.
Namun begitu minyaknya hampir habis, barulah Saudi menerapkan pajak dan bea masuk. Kalau kita bandingkan dengan para muhajirin yang bermigrasi ke Madinah, maka kita belum menemukan faktor keuntungan secara finansial yang membuat mereka tertarik untuk menerima kedatangan para muhajirin.
Namun dalam kenyataannya, para Muhajirin ini tetap dibukakan pintu dan disambung dengan tangan terbuka. Tentu saja alasannya adalah kesamaan iman dan sikap saling bantu dan saling tolong yang merupakan bagian dari ibadah yang besar nilai pahalanya di sisi Allah.
Intinya, kita hanya bisa mengatakan bahwa faktor diterimanya para muhajirin di Madinah semata-mata ikhlas membantu sesama muslim. Tidak ada potensi lain seperti misalnya potensi ekonomi atau pun potensi lainnya.
Maka disitulah terletak pentingnya ada Bai'at Aqabah dua jilid yaitu yang pertama dan kedua. Sebab bisa saja di tengah proses hijrah, muncul keresahan di Madinah dalam hal ekonomi misalnya, sehingga tiba-tiba mereka membatalkan niat baik.
Namun dengan dasar ikatan dua kali bai’at, maka dengan sendirinya penduduk Madinah jadi terikat untuk jalan terus dan tidak boleh membatalkan kesepakatan secara sepihak di tengah jalan. Walau sepahit apapun keadaanya. Dan memang itulah yang terjadi.
2. Kaum Anshar
Secara bahasa makna Anshar adalah penolong. Pengertian Anshar adalah sebutan bagi penduduk Madinah yang sudah memeluk agama Islam sebelumnya dan menerima kedatangan arus gelombang hijrah dari Mekkah.
Karena yang mereka lakukan memang semata-mata hanya menolong saja, tidak ada imbal baliknya dari segi apapun. Pokoknya imbalannya hanya dari Allah saja. Sebagaimana umumnya penduduk Madinah, kebanyakan orang-orang Anshar ini hidup bukan dari perdagang tetapi dari bercocok tanam. Umumnya mereka bekerja di ladang-ladang kurma. Karena Madinah memang terkenal sebagai daerah penghasil kurma.
Secara lokasi, posisi Kota Madinah berada pada paling utara jazirah Arabia. Sehingga bila orang dari negeri Syam dan sekitarannya mau bepergian ke Mekkah, pastinya melewati Kota Madinah.
Hubungan Nabi Muhammad SAW dengan kota Madinah ini cukup erat, karena ayahanda beliau, Abdullah bin Abdil Muththalib wafat dan dikuburkan di Madinah.
Dan ketika Beliau masih kanak-kanak, pernah juga diajak berziarah ke makan ayahandanya itu. Sehingga boleh dibilang bahwa Madinah sebelum didatangi Nabi SAW saat hijrah, ternyata juga pernah didatangi Beliau ketika masih kecil.
Salah satu alasan mengapa kalangan Arab Madinah lebih mudah untuk menerima ajaran Islam yang notabene juga merupakan ajaran agama samawi adalah karena keberadaan orang-orang Yahudi yang banyak bertadangan ke Madinah.
Tidak harus berprestasi, pokoknya asal masih aktif sekolah dan kuliah, tiap bulan akan dibayar oleh negara. Dari mana uangnya?
Dari jual minyak bumi. Minyak yang selama berjuta tahun mengendap di bumi mereka dan tidak bisa dimanfaatkan, dengan datangnya para ekspatrait itulah baru kemudian minyak itu ada gunanya. Wajar kalau negara Saudi Arabia menganak-emaskan para ekspatriat.
Namun begitu minyaknya hampir habis, barulah Saudi menerapkan pajak dan bea masuk. Kalau kita bandingkan dengan para muhajirin yang bermigrasi ke Madinah, maka kita belum menemukan faktor keuntungan secara finansial yang membuat mereka tertarik untuk menerima kedatangan para muhajirin.
Namun dalam kenyataannya, para Muhajirin ini tetap dibukakan pintu dan disambung dengan tangan terbuka. Tentu saja alasannya adalah kesamaan iman dan sikap saling bantu dan saling tolong yang merupakan bagian dari ibadah yang besar nilai pahalanya di sisi Allah.
Intinya, kita hanya bisa mengatakan bahwa faktor diterimanya para muhajirin di Madinah semata-mata ikhlas membantu sesama muslim. Tidak ada potensi lain seperti misalnya potensi ekonomi atau pun potensi lainnya.
Maka disitulah terletak pentingnya ada Bai'at Aqabah dua jilid yaitu yang pertama dan kedua. Sebab bisa saja di tengah proses hijrah, muncul keresahan di Madinah dalam hal ekonomi misalnya, sehingga tiba-tiba mereka membatalkan niat baik.
Namun dengan dasar ikatan dua kali bai’at, maka dengan sendirinya penduduk Madinah jadi terikat untuk jalan terus dan tidak boleh membatalkan kesepakatan secara sepihak di tengah jalan. Walau sepahit apapun keadaanya. Dan memang itulah yang terjadi.
2. Kaum Anshar
Secara bahasa makna Anshar adalah penolong. Pengertian Anshar adalah sebutan bagi penduduk Madinah yang sudah memeluk agama Islam sebelumnya dan menerima kedatangan arus gelombang hijrah dari Mekkah.
Karena yang mereka lakukan memang semata-mata hanya menolong saja, tidak ada imbal baliknya dari segi apapun. Pokoknya imbalannya hanya dari Allah saja. Sebagaimana umumnya penduduk Madinah, kebanyakan orang-orang Anshar ini hidup bukan dari perdagang tetapi dari bercocok tanam. Umumnya mereka bekerja di ladang-ladang kurma. Karena Madinah memang terkenal sebagai daerah penghasil kurma.
Secara lokasi, posisi Kota Madinah berada pada paling utara jazirah Arabia. Sehingga bila orang dari negeri Syam dan sekitarannya mau bepergian ke Mekkah, pastinya melewati Kota Madinah.
Hubungan Nabi Muhammad SAW dengan kota Madinah ini cukup erat, karena ayahanda beliau, Abdullah bin Abdil Muththalib wafat dan dikuburkan di Madinah.
Dan ketika Beliau masih kanak-kanak, pernah juga diajak berziarah ke makan ayahandanya itu. Sehingga boleh dibilang bahwa Madinah sebelum didatangi Nabi SAW saat hijrah, ternyata juga pernah didatangi Beliau ketika masih kecil.
Salah satu alasan mengapa kalangan Arab Madinah lebih mudah untuk menerima ajaran Islam yang notabene juga merupakan ajaran agama samawi adalah karena keberadaan orang-orang Yahudi yang banyak bertadangan ke Madinah.
Lihat Juga :