Kisah Tabiin Abu Hanifah An-Nu’man (1)

Saudagar Tajir Nan Dermawan Itu Peletak Dasar-Dasar Fikih

loading...
Saudagar Tajir Nan Dermawan Itu Peletak Dasar-Dasar Fikih
Ilustrasi/Ist
Wajahnya tampan dan ceria. Fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga enak dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai wewangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka bisa menebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya.

Baca juga: Kisah Imam Syafi’i Ngalap Berkah di Kuburan Imam Abu Hanifah

Itulah dia Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah , orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.

Buku Mereka adalah Para Tabi’in karya Dr Abdurrahman Ra’at Basya (2009) menceritakan Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya Khilafah Bani Umayah dan awal kekuasaan Bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama hingga rezeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sadari.

Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.

Ketika beliau bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengulurkan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat tiga puluh ribu dirham, padahal Al-Manshur dikenal kikir dibanding yang lain.

Lalu Abu Hanifah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Maka aku titipkan di baitul maal, kelak jika aku memerlukannya, saya akan meminta kepada Anda.”

Maka Al-Manshur mengabulkan permohonannya. Hanya saja, masa hidup Abu Hanifah tak begitu lama setelah peristiwa itu. Ketika beliau wafat, ternyata didapatkan di rumahnya harta titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul Mukminin.

Baca juga: Imam Syafi'i, Meramu Pendapat Fikih Imam Malik dan Imam Abu Hanifah

Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabuhi kita, dia tidak ingin mengambil sesuatu pun dari kita, dia menolak pemberianku dengan cara halus.”
halaman ke-1
cover top ayah
خُذِ الۡعَفۡوَ وَاۡمُرۡ بِالۡعُرۡفِ وَاَعۡرِضۡ عَنِ الۡجٰهِلِيۡنَ
Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang baik, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.

(QS. Al-A’raf:199)
cover bottom ayah
preload video