Kisah Tabi’in Zainul Abidin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (2)

Cicit Rasulullah SAW: Garis Keturunanku Tidak Menjamin Keamananku

loading...
Cicit Rasulullah SAW: Garis Keturunanku Tidak Menjamin Keamananku
Ilustrasi/Ist
Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib atau lebih dikenal dengan julukan Zainul Abidin meyakini bahwa sumsum ibadah adalah do’a. Beliau sendiri paling gemar berdoa di tirai Ka’bah dengan do’anya:

“Wahai Rabb-ku, engkau menjadikan aku merasakan rahmat-Mu kepadaku seperti yang kurasakan dan Engkau berikan nikmat kepadaku sebagaimana Engkau anugerahkan, sehingga aku berdo’a dalam ketenangan tanpa rasa takut dan meminta sesuka hatiku tanpa malu dan ragu.

Wahai Rabb-ku, aku berwasilah kepada-Mu dengan wasilah seorang hamba lemah yang sangat membutuhkan rahmat dan kekuatan-Mu demi melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak-Mu. Maka terimalah do’aku, do’a orang yang lemah, asing dan tak ada yang mampu menolong kecuali Engkau semata, wahai Akramal Akramin…”

Baca juga: Keturunan Rasulullah SAW: Cucu Ali bin Abu Thalib yang Banyak Julukan

Dr Abdurrahman Ra’fat Basya dalam bukunya Shuwaru min Hayati at-Tabi’in, atau Mereka Adalah Para Tabi’in , menceritakan Thawus bin Kaisan pernah melihat Zainul Abidin berdiri di bawah bayang-bayang baitul Atiq (ka’bah). Beliau gelagapan seperti orang tenggelam. Menangis seperti ratapan seorang penderita sakit dan berdo’a terus menerus seperti orang yang sedang terdesak kebutuhan yang sangat.

Setelah Zainul Abidin selesai berdo’a, Thawus bin Kaisan mendekat dan berkata:

“Wahai cicit Rasulullah, kulihat Anda dalam keadaan demikian padahal Anda memiliki tiga keutamaan yang saya mengira bisa mengamankan Anda dari rasa takut.”

Zainul Abidin bertanya, “Apakah itu wahai Thawus?”

“Pertama, Anda adalah keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, Anda akan mendapatkan syafa’at dari kakek Anda dan ketiga rahmat Allah bagi Anda,” jawab Thawus.

Baca juga: Begini Komentar Si Kaki Bengkok Ketika Diberi Tahu Rasulullah SAW Mendoakannya
halaman ke-1
cover top ayah
اِنَّمَا التَّوۡبَةُ عَلَى اللّٰهِ لِلَّذِيۡنَ يَعۡمَلُوۡنَ السُّوۡٓءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوۡبُوۡنَ مِنۡ قَرِيۡبٍ فَاُولٰٓٮِٕكَ يَتُوۡبُ اللّٰهُ عَلَيۡهِمۡ‌ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيۡمًا حَكِيۡمًا
Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya pantas bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

(QS. An-Nisa:17)
cover bottom ayah
preload video