Waspada, Setan Mengintai Hati yang Lalai
Kamis, 29 Juli 2021 - 06:40 WIB
loading...
A
A
A
سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
"Nasihat apapun tidak mempan lagi, diberi peringatan atau tidak diberi peringatan mereka tidak berubah. Itulah kondisi hati yang sudah tertutup, hati orang-orang Yahudi yang mereka sendiri mengatakan قلوبنا غلف (hati kami sudah tertutup)."
Baca juga: Khamenei: Belajarlah dari Masa Lalu, Percaya pada Barat Tak Berguna
Seorang ulama salaf mengatakan: “Aku pernah melihat setan dan dia berkata kepadaku, ‘Dahulu aku menemui manusia untuk mengajari mereka, akan tetapi sekarang aku menemui mereka untuk belajar dari mereka.'” Begitulah hati yang sudah dikuasai bahkan menawan penjaga-penjaga benteng itu.
Menurut dai yang rutin mengisi kajian parenting islami ini, terkadang setan menyerang orang yang berilmu, orang yang cerdas, orang yang diberi kelebihan, yaitu dengan cara menggandeng hawa nafsu yang telah didandani. Sehingga orang yang berilmu itu pun sibuk melihat dan memperhatikan, hingga akhirnya setan pun berhasil menawannya.
Baca juga: Dewan Guru Besar UI Desak PP Nomor 75 Tahun 2021 Dicabut
Setan akan menampakkan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya, begitulah dahsyatnya langkah-langkah setan. Kalau dia tidak mampu menyeret manusia kepada keburukan, maka dia akan menghambat orang itu dari kebaikan, menghambat orang itu dari hal-hal yang utama. Karena seorang yang terhalang dari hal-hal yang utama, itu adalah jalan menuju keburukan walaupun saat itu dia tidak melakukan keburukan.
Setan membolak-balikkan skala prioritasnya sehingga dia tidak tahu apa yang harus didahulukan dan apa yang harus ditunda. Ini adalah keruntuhan ilmu ketika seorang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang lebih baik, mana yang mudharat dan mana yang lebih mudharat. Karena sekedar mengetahui baik dan buruk itu tidak perlu ilmu yang tinggi-tinggi. Tapi tidak semua orang yang berilmu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang lebih baik, mana yang buruk dan mana yang lebih buruk, mana keburukan yang lebih ringan dan mana kebaikan yang lebih utama. Ini adalah fikih yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki tingkatan ilmu yang lebih dan juga pengalaman.
Baca juga: Hasil Tes Antigen Negatif tapi PCR Positif Covid-19, Mana yang Benar?
Wallahu A'lam
"Nasihat apapun tidak mempan lagi, diberi peringatan atau tidak diberi peringatan mereka tidak berubah. Itulah kondisi hati yang sudah tertutup, hati orang-orang Yahudi yang mereka sendiri mengatakan قلوبنا غلف (hati kami sudah tertutup)."
Baca juga: Khamenei: Belajarlah dari Masa Lalu, Percaya pada Barat Tak Berguna
Seorang ulama salaf mengatakan: “Aku pernah melihat setan dan dia berkata kepadaku, ‘Dahulu aku menemui manusia untuk mengajari mereka, akan tetapi sekarang aku menemui mereka untuk belajar dari mereka.'” Begitulah hati yang sudah dikuasai bahkan menawan penjaga-penjaga benteng itu.
Menurut dai yang rutin mengisi kajian parenting islami ini, terkadang setan menyerang orang yang berilmu, orang yang cerdas, orang yang diberi kelebihan, yaitu dengan cara menggandeng hawa nafsu yang telah didandani. Sehingga orang yang berilmu itu pun sibuk melihat dan memperhatikan, hingga akhirnya setan pun berhasil menawannya.
Baca juga: Dewan Guru Besar UI Desak PP Nomor 75 Tahun 2021 Dicabut
Setan akan menampakkan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya, begitulah dahsyatnya langkah-langkah setan. Kalau dia tidak mampu menyeret manusia kepada keburukan, maka dia akan menghambat orang itu dari kebaikan, menghambat orang itu dari hal-hal yang utama. Karena seorang yang terhalang dari hal-hal yang utama, itu adalah jalan menuju keburukan walaupun saat itu dia tidak melakukan keburukan.
Setan membolak-balikkan skala prioritasnya sehingga dia tidak tahu apa yang harus didahulukan dan apa yang harus ditunda. Ini adalah keruntuhan ilmu ketika seorang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang lebih baik, mana yang mudharat dan mana yang lebih mudharat. Karena sekedar mengetahui baik dan buruk itu tidak perlu ilmu yang tinggi-tinggi. Tapi tidak semua orang yang berilmu bisa membedakan mana yang baik dan mana yang lebih baik, mana yang buruk dan mana yang lebih buruk, mana keburukan yang lebih ringan dan mana kebaikan yang lebih utama. Ini adalah fikih yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki tingkatan ilmu yang lebih dan juga pengalaman.
Baca juga: Hasil Tes Antigen Negatif tapi PCR Positif Covid-19, Mana yang Benar?
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :