Imam Nawawi Pilih Membujang Seumur Hidup, Ini Dalihnya
Kamis, 26 Agustus 2021 - 14:48 WIB
loading...
Hidup Imam Nawawi dihabiskan untuk menulis dan berdakwah. Beliau memilih hidup membujang. Ilustrasi/Ist
A
A
A
Imam Nawawi adalah ulama tersohor bermazhab Syafi'i . Beliau menulis sebanyak kurang lebih 40 karya ilmiah terkenal. Anehnya, beliau lebih memilih hidup membujang selama hidupnya.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (4-Habis): Meninggal Membela Kebenaran dalam Penjara
Nama lengkapnya Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi. Lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama dia, an-Nawawi ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.
Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini dia belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian dia menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, di bawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.
Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil.
Imam Nawawi memilih hidup menjomblo alias tidak menikah. Pilihan hidup Imam Nawawi ini dibukukan oleh Syeikh Abu Ghuddah –murid dan khodim dari Syeikh Zahid Kautsari yang merupakan mufti terakhir dari kekhalifahan Turki Ustmani– dalam risalahnya yang berjudul Al Ulama Al Uzzab Alladhina Atsarul Ilma A’la Zawaj.
Ketegasan prinsip beliau bisa ditemui dalam muqoddimah (bagian pembuka) kitab Al-Majmu' (kitab komentar dari kitab Al-Muhadzzab). Dalam kitab itu, Imam Nawawi secara tegas menyatakan dukungan atas 'mazhab jomblonya'. Dengan mengutip beberapa argumen ulama. Seperti Al-Khatib al-Bagdadi (ulama ahli hadis dan sejarawan) yang berpesan demikian.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (3): Pandangan dan Jalan Pikirannya
Hal ini disampaikan dalam Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, "Seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk menjomblo sebisa mungkin. Agar fokus belajarnya tidak terganggu oleh kesibukan rumah tangga dan repot mencari nafkah."
Dalam kitab yang sama juga dikutip ucapan seorang sufi besar Ibrahim di Adham, "Barangsiapa yang disibukkan dengan mulus paha para wanita, maka tidak akan bahagia."
Baca juga: Ibnu Taimiyah (4-Habis): Meninggal Membela Kebenaran dalam Penjara
Nama lengkapnya Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi. Lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama dia, an-Nawawi ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.
Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini dia belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian dia menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, di bawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.
Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil.
Imam Nawawi memilih hidup menjomblo alias tidak menikah. Pilihan hidup Imam Nawawi ini dibukukan oleh Syeikh Abu Ghuddah –murid dan khodim dari Syeikh Zahid Kautsari yang merupakan mufti terakhir dari kekhalifahan Turki Ustmani– dalam risalahnya yang berjudul Al Ulama Al Uzzab Alladhina Atsarul Ilma A’la Zawaj.
Ketegasan prinsip beliau bisa ditemui dalam muqoddimah (bagian pembuka) kitab Al-Majmu' (kitab komentar dari kitab Al-Muhadzzab). Dalam kitab itu, Imam Nawawi secara tegas menyatakan dukungan atas 'mazhab jomblonya'. Dengan mengutip beberapa argumen ulama. Seperti Al-Khatib al-Bagdadi (ulama ahli hadis dan sejarawan) yang berpesan demikian.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (3): Pandangan dan Jalan Pikirannya
Hal ini disampaikan dalam Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, "Seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk menjomblo sebisa mungkin. Agar fokus belajarnya tidak terganggu oleh kesibukan rumah tangga dan repot mencari nafkah."
Dalam kitab yang sama juga dikutip ucapan seorang sufi besar Ibrahim di Adham, "Barangsiapa yang disibukkan dengan mulus paha para wanita, maka tidak akan bahagia."
Lihat Juga :