Kesantunan Rasulullah SAW dalam Berbahasa Menyangkut Masalah Tabu
Jum'at, 03 September 2021 - 19:21 WIB
loading...
Rasulullah SAW bertutur kata santun, lembut, bersahaja serta menjaga kesopanan. Ilusrasi/Dok. SINDOnews
A
A
A
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bertutur kata santun, lembut, bersahaja serta menjaga kesopanan. Beliau tidak pernah menjadikan hal tabu (baca: seks) sebagai bumbu dalam pembicaraan. "Tidak menggunakan ungkapan porno," tulis Prof DR Fadhl Ilahi dalam kitab an Nabiyyi al Karim Mu’alliman.
Imam al Bukhari meriwayatkan dari ‘ Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, ia mengatakan:
لَمْ يَكُنْ النَّيُِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا
Nabi SAW bukan orang yang perkataannya keji ataupun orang yang berusaha berkata keji. (HR al Bukhari, no. 3559).
Baca juga: Keutamaan Penduduk Yaman, Berikut Pujian Rasulullah SAW
Beliau biasa menggunakan bahasa kinayah (kiasan) saat menyinggung perbuatan yang keji, atau jika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan aurat.
Sebagai contoh, yaitu hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berisi tata cara membersihkan diri dari menstruasi.
Imam al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata: “Ada seorang wanita bertanya kepada Nabi, bagaimana cara mandi dari haidhnya”.
‘Aisyah kemudian menceritakan, bahwa beliau (Nabi SAW) mengajarinya cara mandi. Dan kemudian diperintahkan untuk mengambil secarik kertas (dengan dibubuhi) misik untuk ia pakai ketika membersihkannya.
Wanita tadi bertanya: “Bagaimana cara aku membersihkan diri?”
Imam al Bukhari meriwayatkan dari ‘ Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, ia mengatakan:
لَمْ يَكُنْ النَّيُِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا
Nabi SAW bukan orang yang perkataannya keji ataupun orang yang berusaha berkata keji. (HR al Bukhari, no. 3559).
Baca juga: Keutamaan Penduduk Yaman, Berikut Pujian Rasulullah SAW
Beliau biasa menggunakan bahasa kinayah (kiasan) saat menyinggung perbuatan yang keji, atau jika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan aurat.
Sebagai contoh, yaitu hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berisi tata cara membersihkan diri dari menstruasi.
Imam al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu anhuma , ia berkata: “Ada seorang wanita bertanya kepada Nabi, bagaimana cara mandi dari haidhnya”.
‘Aisyah kemudian menceritakan, bahwa beliau (Nabi SAW) mengajarinya cara mandi. Dan kemudian diperintahkan untuk mengambil secarik kertas (dengan dibubuhi) misik untuk ia pakai ketika membersihkannya.
Wanita tadi bertanya: “Bagaimana cara aku membersihkan diri?”
Lihat Juga :