Kebahagiaan Ramadhan yang Terganggu Covid-19, Kuncinya Sabar
Selasa, 21 April 2020 - 18:51 WIB
loading...
A
A
A
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ / الزمر ١٠
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar [39]: 10).
Sedangkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Segala amalan kebaikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali lipat. Allah berfirman,: Kecuali puasa, puasa itu untukku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya”. (H.R Muslim).
Selama puasa Ramadhan, kesabaran dan ketahanan mental individu dan sosial diuji Allah SWT. Apakah kita tetap merasa ringan mengeluarkan derma untuk memberi buka orang lain, padahal kita sama-sama memerlukan setelah sama-sama menahan lapar dan dahaga seharian?
Puasa Ramadhan memang sarat dengan nilai-nilai kesabaran yang sangat kita perlukan apalagi pada saat ini di tengah-tengah mewabahnya Covid-19 yang melanda seluruh dunia.
Wabah Corona adalah musibah yang harus kita hadapi dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Quran:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧) /البقرة: ١٥٥ـــ١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
Rangkaian ayat ini merupakan tuntunan komprehensif dari Allah SWT dalam menghadapi musibah yang didefinisikan oleh ulama:
كُلُّ مَكْرُوْهٍ يَحِلُّ بِالْاِنْسَانِ
“Segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia”.
Dengan menggunakan kalimat Ta’kid (penguatan), Allah SWT menjelaskan bahwa setiap manusia tidak mungkin lepas dari musibah. Namun Allah SWT juga mengisyaratkan agar manusia tetap berpikir positif dalam menghadapi musibah karena walaupun sebesar apapun musiabah yang dirasakan, itu masih lebih sedikit dibanding besarnya rahmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia sebagaimana yang dapat kita fahami dari “ Min” yang menurut Ibu Katsir artinya “sedikit dari”.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar [39]: 10).
Sedangkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Segala amalan kebaikan anak Adam dilipatgandakan pahalanya dengan 10 hingga 700 kali lipat. Allah berfirman,: Kecuali puasa, puasa itu untukku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya”. (H.R Muslim).
Selama puasa Ramadhan, kesabaran dan ketahanan mental individu dan sosial diuji Allah SWT. Apakah kita tetap merasa ringan mengeluarkan derma untuk memberi buka orang lain, padahal kita sama-sama memerlukan setelah sama-sama menahan lapar dan dahaga seharian?
- Apakah kita sanggup untuk tidak meminum air tatkala berkumur-kumur ketika kita berwudhu, padahal ada kesempatan?
- Apakah kita masih konsisten melaksanakan salat lima waktu dan salat sunnah yang lain ketika cairan tubuh kita berkurang karena shaum?
- Apakah kita tetap semangat dan disiplin bekerja di tengah lapar dan dahaga yang mendera?
- Apakah syahwat kita tergoda dengan istri yang cantik di depan kita ketika tidak ada orang yang melihat kita?.
Puasa Ramadhan memang sarat dengan nilai-nilai kesabaran yang sangat kita perlukan apalagi pada saat ini di tengah-tengah mewabahnya Covid-19 yang melanda seluruh dunia.
Wabah Corona adalah musibah yang harus kita hadapi dengan kesabaran, sebagaimana disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Quran:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧) /البقرة: ١٥٥ـــ١٥٧
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
Rangkaian ayat ini merupakan tuntunan komprehensif dari Allah SWT dalam menghadapi musibah yang didefinisikan oleh ulama:
كُلُّ مَكْرُوْهٍ يَحِلُّ بِالْاِنْسَانِ
“Segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia”.
Dengan menggunakan kalimat Ta’kid (penguatan), Allah SWT menjelaskan bahwa setiap manusia tidak mungkin lepas dari musibah. Namun Allah SWT juga mengisyaratkan agar manusia tetap berpikir positif dalam menghadapi musibah karena walaupun sebesar apapun musiabah yang dirasakan, itu masih lebih sedikit dibanding besarnya rahmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia sebagaimana yang dapat kita fahami dari “ Min” yang menurut Ibu Katsir artinya “sedikit dari”.
Lihat Juga :