Kebahagiaan Ramadhan yang Terganggu Covid-19, Kuncinya Sabar
Selasa, 21 April 2020 - 18:51 WIB
loading...
A
A
A
Di samping itu, Allah SWT juga menyatakan bahwa manusia akan keluar dari musibah itu asal mereka sabar menghadapinya.
Dengan kesabaran, segala kesedihan dan dampak dari segala musibah itu akan dapat diatasi karena sabar pada hakikatnya adalah kemampuan jiwa untuk menghimpun potensi diri guna mencari jalan keluar untuk mengatasi musibah dan tidak hanya berkeluh kesah.
Orang yang sabar akan mengembalikan segala musibah kepada Allah SWT . Ketika musibah datang, ia akan mengucapkan istirja. “Sesunguhnya kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”.
اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
Menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauzi, kalimat istirja ini adalah ucapan paling ampuh untuk mengobati penyakit karena musibah, amat mujarab bagi orang yang tertimpa musibah di dunia dan akhirat karena kalimat ini mengandung dua pokok penting yang bila diketahui oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, pasti dia akan terhibur.
Pokok pertama; bahwa seorang hamba, keluarga dan seluruh hartanya adalah benar-benar milik Allah SWT. Semua itu diberikan kepada seorang hamba adalah sebagai pinjaman belaka. Kalau Allah SWT mengambilnya kembali, tak ubahnya seperti seorang pemberi pinjaman yang mengambil kembali barang miliknya dari orang yang diberi pinjaman. Seorang hamba hanya bisa mengurus barang yang dipinjamnya tanpa bisa memilikinya karena pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT.
Pokok kedua; tempat kembali dan berpulangnya seorang hamba hanyalan kepada Allah Sang Penguasa yang Haq. Seseorang pasti akan meninggalkan dunia ini, untuk kembali kepada Allah SWT seorang diri, sama seperti dahulu ia dilahirkan dan diciptakan, tanpa sanak saudara, tanpa harta dan tanpa keluarga. Setelah ia mati, yang dibawanya hanyalah amal kebajikan dan keburukan. Kalaulah demikian, awal keadaan seorang hamba dan akhir keberadaannya, bagaimana ia harus bergembira sedemikian rupa atas adanya sesuatu atau bersedih sedemikian rupa karena kehilangan sesuatu.
Tehadap orang yang sabar ini, Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk memberi kabar gembira berupa keberkahan dan rahmat dari-Nya.
Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menukilkan ucapan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, ”Sebaik-baik dua jenis balasan dan tambahan adalah yang disebutkan dalam firman Allah: Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan-Nya” (awal surah Al-Baqarah: 152).
Kedua jenis balasan itu adalah berkah dan rahmat yang sempurna. Dan apa yang disebutkan dalam firman-Nya: “Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (ujung surah Al-Baqarah: 157) adalah balasan tambahannya yang ditambahkan di antara kedua balasan tersebut sehingga mereka mendapat pahala sekaligus tambahannya. Jadi, sabar akan mendapat tiga balasan, dua yang pokok, yaitu shalawat dan rahmat, sedangkan tambahannya adalah hidayah.
Sebagian ulama menjelaskan tiga balasan yang akan diterima oleh orang yang sabar sebagai berikut:
Oleh karena itu, marilah kita jadikan puasa Ramadhan ini sebagai sarana untuk memantapkan kesabaran kita dalam menghadapi virus Corona sehingga kita tetap tenang dan optimis bahwa wabah ini dapat berakhir sebagiamana optimisme kita menanti datangnya waktu berbuka saat kita sedang lapar dan dahaga ketika kita sedang berpuasa.
Dengan kesabaran, segala kesedihan dan dampak dari segala musibah itu akan dapat diatasi karena sabar pada hakikatnya adalah kemampuan jiwa untuk menghimpun potensi diri guna mencari jalan keluar untuk mengatasi musibah dan tidak hanya berkeluh kesah.
Orang yang sabar akan mengembalikan segala musibah kepada Allah SWT . Ketika musibah datang, ia akan mengucapkan istirja. “Sesunguhnya kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”.
اِنَّا لِلَّهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
Menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauzi, kalimat istirja ini adalah ucapan paling ampuh untuk mengobati penyakit karena musibah, amat mujarab bagi orang yang tertimpa musibah di dunia dan akhirat karena kalimat ini mengandung dua pokok penting yang bila diketahui oleh seorang hamba dengan sebaik-baiknya, pasti dia akan terhibur.
Pokok pertama; bahwa seorang hamba, keluarga dan seluruh hartanya adalah benar-benar milik Allah SWT. Semua itu diberikan kepada seorang hamba adalah sebagai pinjaman belaka. Kalau Allah SWT mengambilnya kembali, tak ubahnya seperti seorang pemberi pinjaman yang mengambil kembali barang miliknya dari orang yang diberi pinjaman. Seorang hamba hanya bisa mengurus barang yang dipinjamnya tanpa bisa memilikinya karena pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT.
Pokok kedua; tempat kembali dan berpulangnya seorang hamba hanyalan kepada Allah Sang Penguasa yang Haq. Seseorang pasti akan meninggalkan dunia ini, untuk kembali kepada Allah SWT seorang diri, sama seperti dahulu ia dilahirkan dan diciptakan, tanpa sanak saudara, tanpa harta dan tanpa keluarga. Setelah ia mati, yang dibawanya hanyalah amal kebajikan dan keburukan. Kalaulah demikian, awal keadaan seorang hamba dan akhir keberadaannya, bagaimana ia harus bergembira sedemikian rupa atas adanya sesuatu atau bersedih sedemikian rupa karena kehilangan sesuatu.
Tehadap orang yang sabar ini, Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW untuk memberi kabar gembira berupa keberkahan dan rahmat dari-Nya.
Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menukilkan ucapan Amirul Mukminin Umar bin Khattab, ”Sebaik-baik dua jenis balasan dan tambahan adalah yang disebutkan dalam firman Allah: Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan-Nya” (awal surah Al-Baqarah: 152).
Kedua jenis balasan itu adalah berkah dan rahmat yang sempurna. Dan apa yang disebutkan dalam firman-Nya: “Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (ujung surah Al-Baqarah: 157) adalah balasan tambahannya yang ditambahkan di antara kedua balasan tersebut sehingga mereka mendapat pahala sekaligus tambahannya. Jadi, sabar akan mendapat tiga balasan, dua yang pokok, yaitu shalawat dan rahmat, sedangkan tambahannya adalah hidayah.
Sebagian ulama menjelaskan tiga balasan yang akan diterima oleh orang yang sabar sebagai berikut:
- Selawat (anugerah) berupa perlindungan dan pengampunan dosa dari Allah SWT.
- Rahmat (kasih sayang) berupa kasih sayang yang tidak pernah putus sepanjang hidup bahkan setelah meninggal dunia.
- Hidayah (petunjuk) yaitu berupa petunjuk dari Allah sehingga dapat mengatasi musibah tersebut.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan puasa Ramadhan ini sebagai sarana untuk memantapkan kesabaran kita dalam menghadapi virus Corona sehingga kita tetap tenang dan optimis bahwa wabah ini dapat berakhir sebagiamana optimisme kita menanti datangnya waktu berbuka saat kita sedang lapar dan dahaga ketika kita sedang berpuasa.
(mhy)
Lihat Juga :