Anggap Galak dan Pelit, Dua Perempuan Ini Tolak Lamaran Umar bin Khattab
Selasa, 02 Juni 2020 - 11:33 WIB
loading...
A
A
A
Dengan watak kerasnya dalam perdagangan ia tak pernah dapat mengeluarkan air dari batu, tak pernah ia dapat mengubah tanah menjadi emas, demikian ungkapan masyarakatnya sendiri, Quraisy.
Di samping itu, menurut Haekal, dalam perdagangan pun ia tak terbatas hanya pada perjalanan musim panas dan musim dingin ke Yaman dan ke Syam saja, bahkan ia pergi sampai ke Persia dan Romawi. “Tetapi dalam perjalanan itu ia mengutamakan untuk mencerdaskan pikirannya daripada untuk mengembangkan perdagangannya,” tulis Haekal.
Baca juga: Sayyidah Shafiyah binti Huyai, Istri Rasulullah Keturunan Nabi Harun
Dalam Muruj az-Zahab al-Mas'udi menyebutkan bahwa selama dalam pelbagai perjalanan di masa jahiliyah itu Umar banyak menemui pemuka-pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka. Kemungkinan besar segala yang sudah dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai utusan dari pihak Quraisy, dan luasnya pengetahuannya mengenai silsilah orang-orang Arab dan cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta apa yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah membuatnya lebih banyak untuk menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.
Baca juga: Beda Pendapat Tentang Raihanah, Antara Istri dan Hamba Sahaya
Pendidikan dan konsep pemikirannya inilah yang membuatnya lebih percaya diri dan lebih punya rasa harga diri. Orang yang berharta selalu perlu menjaga hubungan baik dengan semua orang, untuk melindungi dan memperbesar kekayaannya.
Haekal mengatakan orang yang dalam usaha perdagangan, keberhasilannya bergantung pada kelihaian serta menguasai segala seluk beluknya. Tetapi orang yang haus ilmu dan ingin menambah pengetahuannya, harta kekayaan tak banyak mendapat perhatian, sebab orang yang sudah keranjingan harta cenderung tidak memperhatikan ilmu dan lebih banyak menggantungkan diri pada masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang lebih menguasainya.
Baca juga: Pernikahan Tak Lazim Dua Kali Sayyidah Zainab bin Jahsy
Tetapi, menurut Haekal lagi, orang yang memandang dunia dan harta itu rendah dan memburu ilmu dan pengetahuan lebih membanggakan diri, sampai-sampai ia mau menjauhi orang, maka ia tidak akan tertarik pada segala yang ada di tangan mereka karena ia sudah lebih tinggi dari semua mereka. “Tingkat ini yang belum dicapai Umar di masa mudanya. Rasa bangga dan percaya diri yang luar biasa itu, itulah yang benar-benar dihayatinya,” tulis Haekal.
Usaha Umar dalam memburu pengetahuan membuatnya sejak mudanya ia memikirkan nasib masyarakatnya dan usaha apa yang akan dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian yang membuatnya bangga, bersikeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri tentang tujuan yang ingin dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau berdebat.
Karena sikap keras dan ketegarannya itu sehingga dengan fanatiknya ia berlaku begitu sewenang-wenang. Ia akan mempertahankan pendapatnya dengan tangan besi dan dengan ketajaman lidahnya. Tetapi yang demikian ini bukan tidak mungkin akan mengubah pendapat orang lain yang dihadapinya untuk menjadi bukti kuat dalam pembelaannya dan untuk mematahkan alasan lawan. (Baca juga: Istri Rasulullah: Sayyidah Zainab, Hanya Tiga Bulan Bersama Nabi )
Di samping itu, menurut Haekal, dalam perdagangan pun ia tak terbatas hanya pada perjalanan musim panas dan musim dingin ke Yaman dan ke Syam saja, bahkan ia pergi sampai ke Persia dan Romawi. “Tetapi dalam perjalanan itu ia mengutamakan untuk mencerdaskan pikirannya daripada untuk mengembangkan perdagangannya,” tulis Haekal.
Baca juga: Sayyidah Shafiyah binti Huyai, Istri Rasulullah Keturunan Nabi Harun
Dalam Muruj az-Zahab al-Mas'udi menyebutkan bahwa selama dalam pelbagai perjalanan di masa jahiliyah itu Umar banyak menemui pemuka-pemuka Arab dan bertukar pikiran dengan mereka. Kemungkinan besar segala yang sudah dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai utusan dari pihak Quraisy, dan luasnya pengetahuannya mengenai silsilah orang-orang Arab dan cerita-cerita rakyat masyarakat Arab serta apa yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya masa itu, itulah membuatnya lebih banyak untuk menambah ilmu daripada untuk memperoleh kekayaan.
Baca juga: Beda Pendapat Tentang Raihanah, Antara Istri dan Hamba Sahaya
Pendidikan dan konsep pemikirannya inilah yang membuatnya lebih percaya diri dan lebih punya rasa harga diri. Orang yang berharta selalu perlu menjaga hubungan baik dengan semua orang, untuk melindungi dan memperbesar kekayaannya.
Haekal mengatakan orang yang dalam usaha perdagangan, keberhasilannya bergantung pada kelihaian serta menguasai segala seluk beluknya. Tetapi orang yang haus ilmu dan ingin menambah pengetahuannya, harta kekayaan tak banyak mendapat perhatian, sebab orang yang sudah keranjingan harta cenderung tidak memperhatikan ilmu dan lebih banyak menggantungkan diri pada masalah-masalah dunia dan tunduk pada yang lebih menguasainya.
Baca juga: Pernikahan Tak Lazim Dua Kali Sayyidah Zainab bin Jahsy
Tetapi, menurut Haekal lagi, orang yang memandang dunia dan harta itu rendah dan memburu ilmu dan pengetahuan lebih membanggakan diri, sampai-sampai ia mau menjauhi orang, maka ia tidak akan tertarik pada segala yang ada di tangan mereka karena ia sudah lebih tinggi dari semua mereka. “Tingkat ini yang belum dicapai Umar di masa mudanya. Rasa bangga dan percaya diri yang luar biasa itu, itulah yang benar-benar dihayatinya,” tulis Haekal.
Usaha Umar dalam memburu pengetahuan membuatnya sejak mudanya ia memikirkan nasib masyarakatnya dan usaha apa yang akan dapat memperbaiki keadaan mereka. Ini juga kemudian yang membuatnya bangga, bersikeras dan menjadi fanatik dengan pendapatnya sendiri tentang tujuan yang ingin dicapainya itu. Ia tidak mau dibantah atau berdebat.
Karena sikap keras dan ketegarannya itu sehingga dengan fanatiknya ia berlaku begitu sewenang-wenang. Ia akan mempertahankan pendapatnya dengan tangan besi dan dengan ketajaman lidahnya. Tetapi yang demikian ini bukan tidak mungkin akan mengubah pendapat orang lain yang dihadapinya untuk menjadi bukti kuat dalam pembelaannya dan untuk mematahkan alasan lawan. (Baca juga: Istri Rasulullah: Sayyidah Zainab, Hanya Tiga Bulan Bersama Nabi )
(mhy)
Lihat Juga :