Ketika Malik Bin Dinar Menghadapi Tetangga yang Berakhlak Buruk
Minggu, 17 Oktober 2021 - 09:10 WIB
loading...
Kisah Malik bin Dinar menegur tetangganya dan munculnya suara ghaib membuat sang tetangga bertobat. (Ilustrasi : Ist)
A
A
A
Farid al-Din Attar dalam bukunya berjudul Tadhkirat al-Auliya’ berkisah, ada seorang pemuda yang tinggal di sekitar rumah Malik, dia sangat bejat dan berakhlak rendah. Malik bin Dinar terus-menerus merasa sedih karena perilakunya yang buruk, tetapi dia bertahan dengan sabar menunggu orang lain berbicara terlebih dahulu.
Baca juga: Malik bin Dinar Saat Mengikuti Burung Gagak Utusan Tuhan
Singkat cerita, pada suatu waktu ada seseorang yang datang, mengeluh tentang pemuda itu. Malik kemudian bangkit dan pergi kepadanya, meminta dia untuk memperbaiki akhlaknya. Pemuda itu bereaksi dengan begitu keras kepala dan sombong.
“Aku adalah kesayangan sang Sultan,” katanya kepada Malik. “Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk mengawasi atau melarangku untuk melakukan apapun yang kusukai.”
“Aku akan berbicara dengan Sultan,” Malik mengancam.
“Sultan tidak akan pernah berubah pikiran atas izinnya untukku,” balas pemuda itu. “Apa pun yang aku lakukan, dia akan menyetujuinya.”
“Baiklah, jika Sultan tidak bisa berbuat apa-apa,” Malik melanjutkan, “Aku akan memberi tahu Yang Maha Penyayang.”
Dan dia menunjuk ke atas.
“Ha!” jawab pemuda itu. “Dia terlalu Murah Hati untuk mengurusiku.”
Kali ini Malik menyerah, dan dia meninggalkannya. Beberapa hari berlalu, dan keburukan pemuda ini terus berlanjut hingga melampaui semua batas. Orang-orang datang lagi untuk mengeluh. Malik bangkit untuk menegurnya; tetapi dalam perjalanan dia mendengar suara.
Baca juga: Malik bin Dinar Saat Mengikuti Burung Gagak Utusan Tuhan
Singkat cerita, pada suatu waktu ada seseorang yang datang, mengeluh tentang pemuda itu. Malik kemudian bangkit dan pergi kepadanya, meminta dia untuk memperbaiki akhlaknya. Pemuda itu bereaksi dengan begitu keras kepala dan sombong.
“Aku adalah kesayangan sang Sultan,” katanya kepada Malik. “Tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk mengawasi atau melarangku untuk melakukan apapun yang kusukai.”
“Aku akan berbicara dengan Sultan,” Malik mengancam.
“Sultan tidak akan pernah berubah pikiran atas izinnya untukku,” balas pemuda itu. “Apa pun yang aku lakukan, dia akan menyetujuinya.”
“Baiklah, jika Sultan tidak bisa berbuat apa-apa,” Malik melanjutkan, “Aku akan memberi tahu Yang Maha Penyayang.”
Dan dia menunjuk ke atas.
“Ha!” jawab pemuda itu. “Dia terlalu Murah Hati untuk mengurusiku.”
Kali ini Malik menyerah, dan dia meninggalkannya. Beberapa hari berlalu, dan keburukan pemuda ini terus berlanjut hingga melampaui semua batas. Orang-orang datang lagi untuk mengeluh. Malik bangkit untuk menegurnya; tetapi dalam perjalanan dia mendengar suara.
Lihat Juga :