Kisah Sufi Mencari Makna Merak dan Ular
Sabtu, 13 November 2021 - 15:19 WIB
loading...
A
A
A
Dan, sementara kedua binatang itu mendengarkannya, Adi menjelaskan peran mereka masing-masing.
"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."
Dianggap misteri oleh para Orientalis, Pemujaan Ular dan Merak didasarkan pada ajaran seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua belas.
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menjelaskan kisah ini, yang melegenda, menunjukkan bagaimana guru-guru darwis membentuk 'aliran-aliran'-nya berdasarkan berbagai lambang, yang dipilih sebagai contoh dalam ajaran-ajarannya.
Dalam bahasa Arab, ' Merak ' diartikan juga sebagai 'perhiasan', sedangkan bentuk huruf 'Ular' sama dengan bentuk huruf kata 'organisme' dan 'kehidupan'. Karenanya, perlambangan samar Pemujaan Malaikat Merak Kaum Yezidi merupakan cara untuk menunjukkan 'Bagian Dalam dan Luar', rumus-rumus Sufi tradisional.
"Pemujaan ini masih ada di Timur Tengah dan memiliki penganut (tak ada di antara mereka yang adalah orang Irak) di Inggris dan Amerika Serikat," ujar Idries Shah.
Baca juga: Kisah Sufi Ibrahim bin Adham: Ketika Anaknya Meninggal dalam Pelukannya
"Manusia melata di tanah seperti Si Ular. Ia sanggup melayang tinggi bagai burung. Namun, seperti halnya ular yang tamak, ia memelihara keegoisannya ketika berusaha terbang, dan menjadi layaknya Merak, terlalu angkuh. Dalam diri Merak, kita bisa melihat kemungkinan manusia, namun yang tidak tercapai dengan semestinya. Dalam kemilau Ular, kita bisa menyaksikan kemungkinan keindahan. Pada Merak, kita menyaksikan keindahan itu semakin semarak."
Dan kemudian terdengar suara dari dalam berbicara kepada Adi, "Bukan hanya itu. Kedua makhluk itu diberkahi kehidupan itulah faktor penentu. Mereka bertengkar karena masing-masing telah menjalani jenis kehidupannya sendiri, mengira bahwa itu merupakan perwujudan kedudukan yang sebenarnya. Namun, yang satu menjagai harta karun, tetapi tidak bisa mempergunakannya. Yang lain mencerminkan keindahan, suatu harta juga, tetapi tidak bisa mengubah dirinya sendiri menjadi keindahan. Meskipun tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang terbuka bagi mereka, mereka melambangkannya, bagi orang-orang yang bisa melihat dan mendengarnya."
Dianggap misteri oleh para Orientalis, Pemujaan Ular dan Merak didasarkan pada ajaran seorang Syeh Sufi, Adi, putra Musafir, pada abad kedua belas.
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menjelaskan kisah ini, yang melegenda, menunjukkan bagaimana guru-guru darwis membentuk 'aliran-aliran'-nya berdasarkan berbagai lambang, yang dipilih sebagai contoh dalam ajaran-ajarannya.
Dalam bahasa Arab, ' Merak ' diartikan juga sebagai 'perhiasan', sedangkan bentuk huruf 'Ular' sama dengan bentuk huruf kata 'organisme' dan 'kehidupan'. Karenanya, perlambangan samar Pemujaan Malaikat Merak Kaum Yezidi merupakan cara untuk menunjukkan 'Bagian Dalam dan Luar', rumus-rumus Sufi tradisional.
"Pemujaan ini masih ada di Timur Tengah dan memiliki penganut (tak ada di antara mereka yang adalah orang Irak) di Inggris dan Amerika Serikat," ujar Idries Shah.
Baca juga: Kisah Sufi Ibrahim bin Adham: Ketika Anaknya Meninggal dalam Pelukannya
(mhy)
Lihat Juga :