Kisah Azab Pedih dari Putri yang Durhaka
Sabtu, 20 November 2021 - 13:41 WIB
loading...
A
A
A
“Aku merasa tidak nyaman saja tidur di ranjang ini,” jawab sang putri jujur
Jawaban putri tadi langsung direspon sang Kaisar dengan meminta para pengawalnya memeriksa ranjang yang mereka tempati. Rupanya bahan ranjang tersebut terlalu kasar bagi kulit sang putri yang amat lembut dan halus.
Saking lembutnya kulit sang putri membuat Kaisar terheran-heran, ia lantas bertanya, “Memangnya selama ini ayahmu memberi makan apa?”
“Kami lebih sering diberi makan madu, otak, keju, dan mentega,” jawab sang putri.
Mendengar hal tersebut, sang Kaisar merenung sejenak. Lantas ia berkata, “Tidak ada satu orang pun yang begitu menyayangi, memuliakan dan memanjakan anaknya seperti yang dilakukan ayahmu kepadamu. Besarnya kasih sayang, perhatian dan kebaikan ayahmu kepadamu, serta besarnya hak seorang ayah atas anaknya, rupanya begitu mudah engkau balas dengan pengkhianatan. Air susu yang selama ini diberikan oleh ayahmu kepadamu, dengan mudahnya engkau balas dengan air tuba. Jika terhadap ayahmu yang begitu baik saja engkau tega melakukan hal itu. Aku yakin engkau juga akan begitu mudah melakukan hal yang sama kepadaku.”
Ternyata sang kaisar sangat mengagumi perhatian dan perlakuan sang Raja pada putrinya tersebut. Sayangnya sang putri justru harus membalas seluruh kebaikan dan kasih sayang ayahnya dengan mengkhianatinya. Bukannya makin cinta, justru sang Kaisar marah dan jengkel sehingga memutuskan untuk mengeksekusi istrinya tersebut dengan cara yang amat kejam. Tubuhnya diikatkan pada kuda yang berlari kencang dan dikoyak hingga rusak.
Sungguh gambaran sebuah balasan yang amat kejam bagi seorang putri yang durhaka pada ayahnya. Apalagi sang putri telah dirawat dengan kasih sayang berlimpah. Naudzubillah.
Baca juga: Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman
Wallahu A'lam
Jawaban putri tadi langsung direspon sang Kaisar dengan meminta para pengawalnya memeriksa ranjang yang mereka tempati. Rupanya bahan ranjang tersebut terlalu kasar bagi kulit sang putri yang amat lembut dan halus.
Saking lembutnya kulit sang putri membuat Kaisar terheran-heran, ia lantas bertanya, “Memangnya selama ini ayahmu memberi makan apa?”
“Kami lebih sering diberi makan madu, otak, keju, dan mentega,” jawab sang putri.
Mendengar hal tersebut, sang Kaisar merenung sejenak. Lantas ia berkata, “Tidak ada satu orang pun yang begitu menyayangi, memuliakan dan memanjakan anaknya seperti yang dilakukan ayahmu kepadamu. Besarnya kasih sayang, perhatian dan kebaikan ayahmu kepadamu, serta besarnya hak seorang ayah atas anaknya, rupanya begitu mudah engkau balas dengan pengkhianatan. Air susu yang selama ini diberikan oleh ayahmu kepadamu, dengan mudahnya engkau balas dengan air tuba. Jika terhadap ayahmu yang begitu baik saja engkau tega melakukan hal itu. Aku yakin engkau juga akan begitu mudah melakukan hal yang sama kepadaku.”
Ternyata sang kaisar sangat mengagumi perhatian dan perlakuan sang Raja pada putrinya tersebut. Sayangnya sang putri justru harus membalas seluruh kebaikan dan kasih sayang ayahnya dengan mengkhianatinya. Bukannya makin cinta, justru sang Kaisar marah dan jengkel sehingga memutuskan untuk mengeksekusi istrinya tersebut dengan cara yang amat kejam. Tubuhnya diikatkan pada kuda yang berlari kencang dan dikoyak hingga rusak.
Sungguh gambaran sebuah balasan yang amat kejam bagi seorang putri yang durhaka pada ayahnya. Apalagi sang putri telah dirawat dengan kasih sayang berlimpah. Naudzubillah.
Baca juga: Meniru Cara Menasehati Anak Berdasarkan Al-Qur'an Surat Luqman
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :