Penjelasan Gus Baha Tentang Hakikat Gerhana Bulan
Kamis, 25 November 2021 - 05:07 WIB
loading...
A
A
A
"...seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apapun..." (QS An-Nur Ayat 39)
Di sinilah Allah menertibkan itu semua. Nah itulah dasar ilmu tafsir. Makanya menurut ilmu tafsir, sesuatu yang tidak hakikat itu disandarkan pada yang melihat. Misalnya begini, ketika Dzulqornain berjalan ke arah Timur dan ke arah Barat, itu Allah tidak kemudian mengistilahkan "kemudian matahari tenggelam". Itu pasti salah, karena hakikatnya matahari tidak pernah tenggelam.
Tapi diistilahkan Allah وَجَدَهَا تَغۡرُبُ (wajada Haa Taghrubu). Maka bahasa yang benar itu "Roaitasy Syamsa Taghrubu". Kamu tidak boleh mengatakan "Matahari tenggelam," itu salah karena kita berbicara hakikat. Tapi kalau "Aku melihat matahari tenggelam". Artinya dalam pandangan mata. Tetapi hakikatnya tidak pernah tenggelam. Makanya Allah selalu menyandarkan sesuatu yang tidak hakikat kepada yang melihat.
Jadi semisal kamu ditanya: "Apakah Zaid hafal Al-Qur'an?" Kalau menurutku iya, kamu jangan bilang betul dia hafal Al-Qur'an. Itu salah! Itu berarti kamu berbicara hakikat. Dan itu pasti salah. Yang benar apa? Sepertinya betul dia hafal Al-Qur'an.
Makanya Allah tidak pernah mengatakan "matahari tenggelam" melainkan "wajadahaa Taghrubu" Dzulqarnain menemukan matahari, dilihatnya sebagai yang tenggelam. Wadaha tahhlu'u, Dzulqarnain melihat matahari dalam pandangannya terbit". Karena hakikatnya matahari tidak pernah terbit maupun tenggelam.
Tapi ada sistem putaran bumi yang kalau kamu di (daerah) atas, kamu menyebutnya siang. Dan kalau kamu di (daerah) bawah, kamu menyebutnya malam.
Itulah hakikat. Jadi di dunia ini ada yang hakikat dan ada yang zahir. Zahir ini juga disebut dengan Nazarul Ain (pandangan mata). Makanya Allah kadang mengatakan:
وَهُوَ الَّذِىۡ يَـبۡدَؤُا الۡخَـلۡقَ ثُمَّ يُعِيۡدُهٗ وَهُوَ اَهۡوَنُ عَلَيۡهِؕ وَلَهُ الۡمَثَلُ الۡاَعۡلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِۚ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ
"Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Ar-Rum Ayat 27)
Ingat ya, pokoknya dalam ilmu tafsir itu ada kaidah "Sesuatu itu kadang disebutkan Allah menurut pandangan manusia, kadang pula merujuk hakikat."
Di sinilah Allah menertibkan itu semua. Nah itulah dasar ilmu tafsir. Makanya menurut ilmu tafsir, sesuatu yang tidak hakikat itu disandarkan pada yang melihat. Misalnya begini, ketika Dzulqornain berjalan ke arah Timur dan ke arah Barat, itu Allah tidak kemudian mengistilahkan "kemudian matahari tenggelam". Itu pasti salah, karena hakikatnya matahari tidak pernah tenggelam.
Tapi diistilahkan Allah وَجَدَهَا تَغۡرُبُ (wajada Haa Taghrubu). Maka bahasa yang benar itu "Roaitasy Syamsa Taghrubu". Kamu tidak boleh mengatakan "Matahari tenggelam," itu salah karena kita berbicara hakikat. Tapi kalau "Aku melihat matahari tenggelam". Artinya dalam pandangan mata. Tetapi hakikatnya tidak pernah tenggelam. Makanya Allah selalu menyandarkan sesuatu yang tidak hakikat kepada yang melihat.
Jadi semisal kamu ditanya: "Apakah Zaid hafal Al-Qur'an?" Kalau menurutku iya, kamu jangan bilang betul dia hafal Al-Qur'an. Itu salah! Itu berarti kamu berbicara hakikat. Dan itu pasti salah. Yang benar apa? Sepertinya betul dia hafal Al-Qur'an.
Makanya Allah tidak pernah mengatakan "matahari tenggelam" melainkan "wajadahaa Taghrubu" Dzulqarnain menemukan matahari, dilihatnya sebagai yang tenggelam. Wadaha tahhlu'u, Dzulqarnain melihat matahari dalam pandangannya terbit". Karena hakikatnya matahari tidak pernah terbit maupun tenggelam.
Tapi ada sistem putaran bumi yang kalau kamu di (daerah) atas, kamu menyebutnya siang. Dan kalau kamu di (daerah) bawah, kamu menyebutnya malam.
Itulah hakikat. Jadi di dunia ini ada yang hakikat dan ada yang zahir. Zahir ini juga disebut dengan Nazarul Ain (pandangan mata). Makanya Allah kadang mengatakan:
وَهُوَ الَّذِىۡ يَـبۡدَؤُا الۡخَـلۡقَ ثُمَّ يُعِيۡدُهٗ وَهُوَ اَهۡوَنُ عَلَيۡهِؕ وَلَهُ الۡمَثَلُ الۡاَعۡلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِۚ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ
"Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Ar-Rum Ayat 27)
Ingat ya, pokoknya dalam ilmu tafsir itu ada kaidah "Sesuatu itu kadang disebutkan Allah menurut pandangan manusia, kadang pula merujuk hakikat."
Lihat Juga :