Tafsir Surat Yasin Ayat 20-22: Figur Orang Tak Bernama dari Pinggiran Kota

loading...
Masyarakat Antokiah hampir tidak percaya adanya ketulusan. Kecurigaan yang demikian tidak akan timbul apabila tidak ada tradisi untung-rugi yang mendarah daging dalam setiap aktivitas sosial mereka.

Pantas saja, pembelaan yang dikemukakan oleh Habib adalah, “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Secara tidak langsung menyindir pandangan masyarakat Antokiah masa itu. Mereka mengukur semua orang dengan diri mereka sendiri dan selalu menduga adanya keuntungan material dibalik aktivitas semua orang.

Baca juga: Surat Yasin Ayat 13-14 dan Kisah tentang Tiga Utusan yang Diingkari Ashab al-Qaryah

Allah SWT berfirman:

وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? ( QS Yasin : 22 )

Wahab bin Munabbih sebagaimana dikutip ucapannya oleh Ibn Jarir at-Tabari menyatakan bahwa Habib adalah sosok pemuda pemberani yang dengan gagahnya memperjuangkan dan membela kebenaran yang diyakininya. Ia tidak gentar ‘melawan arus’ demi mempertahankan idealismenya.

Habib menyuarakan tauhid kepada kaumnya yang menyembah berhala. Ia juga dengan terang-terangan menampakkan keimananya kepada mereka. Akibat hal tersebutlah pada beberapa ayat berikutnya diceritakan Habib sampai dibunuh oleh penduduk Antokiah.

Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan, ucapan Habib tersebut merupakan sebuah bentuk pertanyaan yang secara lahiriah ditujukan kepada dirinya sendiri, namun hakikatnya merupakan sindiran pada orang-orang yang enggan menyembah Allah Swt yang telah menciptakan mereka seperti para penduduk Antokiah ini.

Sementara Ibn Asyur berpendapat, kalimat tersebut seakan-akan menanyakan, “Siapa yang bisa mencegahku menyembah Tuhan yang telah menciptaku?” Sebab Allah Swt telah memberikan manusia keinginan (iradah) dan kemampuan (qudrah) untuk melaksanakan perintahnya.

Allah SWT juga telah menerangkan melalui utusan-utusannya mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Sebagaimana firmannya dalam QS. Al-Insan: 3 yang berbunyi:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. ( QS AL-Insan : 3 )

Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menggaris bawahi kata fatara yang menurutnya berbeda dengan kata khalaqa maupun ja’ala yang sama-sama berarti menciptakan.

Fatara bermakna menciptakan dari ketiadaan atau penciptaan yang pertama kali. Ini mengisyaratkan bahwa Allah Swt adalah yang pertama kali menciptakan manusia dan kelak kepadanya pulalah terakhir kali mereka akan dikembalikan.

Kita semua berasal dari Allah SWT Kita dan segala nikmat yang kita rasakan hakikatnya milik Allah SWT semata, maka ketika masanya telah tiba, semua akan kembali kepadanya. Filosofi ini yang agama Islam ajarkan ketika seseorang menghadapi musibah.

Baca juga: Surat Yasin Ayat 11-12: Jangan Mudah Mengatakan Kafir meski kepada Orang Kafir
(mhy)
halaman ke-2
cover top ayah
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ‌ۚ‌وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.

(QS. Al-Hujurat:10)
cover bottom ayah
preload video