Kisah Sufi Saiful Muluk Sang Pencari Kebenaran

loading...
Kisah Sufi Saiful Muluk Sang Pencari Kebenaran
Kisah sufi: Hanya dengan mengembangkan suatu kemampuan khusus, yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata. (Foto/Ilustras : Ist)i
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah sufi yang menggambarkan, di samping hal lainnya, tema kesukaan sufi bahwa kebenaran 'mencoba mewujudkan dirinya sendiri' bagi manusia dan bahwa kebenaran itu muncul lagi dan lagi bagi setiap orang secara tersamar yang membuatnya sulit ditembus dan sekilas mungkin tidak berhubungan satu sama lain.

"Hanya dengan mengembangkan suatu 'kemampuan khusus', yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata ini," tulis Idries Shah. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi Dzun Nun: Ketika Air Berubah

Ada seorang bernama Saiful Muluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya. Orang itu pun mengadakan perjalanan ke setiap negeri untuk mendengar pengajaran dari para guru kerohanian. Siang hari ia bekerja, malamnya ia merenungkan Misteri Agung.

Pada suatu hari, ia mendengar tentang seorang guru lain yang belum ditemuinya, Pujangga Agung Ansari, yang tinggal di Kota Herat. Si pencari kebenaran itu pun segera ke sana, dan sampailah ia di depan pintu Sang Bijak. Di pintu itu, berlawanan dengan harapannya, tertera suatu pengumuman aneh: "Di sini Dijual Pengetahuan."

"Pasti ada yang keliru, atau, mungkin pengumuman itu disengaja agar pencari kebenaran yang setengah hati itu mengurungkan niatnya," batinnya, "sebab belum pernah kudengar dikatakan pengetahuan bisa dibeli atau dijual." Lalu, ia pun masuk ke dalam rumah itu.

Di pelataran dalam rumah, tampak Ansari, yang bungkuk karena usia, sedang menulis sajak. "Apakah Saudara datang mau membeli pengetahuan?' tanya Sang Agung.

Saiful pun mengangguk. Ansari mengatakan padanya untuk menyediakan sebanyak mungkin uang yang dimilikinya. Lalu, Saiful pun mengeluarkan semua uangnya, sejumlah seratus keping uang perak.

"Dengan uang segitu," kata Ansari, "Saudara bisa mendapat tiga nasihat."

"Apa ini sungguhan?" tanya Saiful. "Kenapa Guru perlu uang, kalau Guru seorang sederhana dan mengabdi?'
halaman ke-1
cover top ayah
اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,

(QS. Al-'Alaq:1)
cover bottom ayah
preload video