Kisah Sufi Saiful Muluk Sang Pencari Kebenaran

Minggu, 05 Desember 2021 - 10:52 WIB
loading...
Kisah Sufi Saiful Muluk...
Kisah sufi: Hanya dengan mengembangkan suatu kemampuan khusus, yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata. (Foto/Ilustras : Ist)i
A A A
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" menukil kisah sufi yang menggambarkan, di samping hal lainnya, tema kesukaan sufi bahwa kebenaran 'mencoba mewujudkan dirinya sendiri' bagi manusia dan bahwa kebenaran itu muncul lagi dan lagi bagi setiap orang secara tersamar yang membuatnya sulit ditembus dan sekilas mungkin tidak berhubungan satu sama lain.

"Hanya dengan mengembangkan suatu 'kemampuan khusus', yang bisa memungkinkan manusia tetap mengikuti proses yang tak kasat mata ini," tulis Idries Shah. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi Dzun Nun: Ketika Air Berubah

Ada seorang bernama Saiful Muluk yang mempergunakan sebagian hidupnya untuk mencari kebenaran. Dibacanya semua buku tentang kebijaksanaan kuno yang bisa didapatnya. Orang itu pun mengadakan perjalanan ke setiap negeri untuk mendengar pengajaran dari para guru kerohanian. Siang hari ia bekerja, malamnya ia merenungkan Misteri Agung.

Pada suatu hari, ia mendengar tentang seorang guru lain yang belum ditemuinya, Pujangga Agung Ansari, yang tinggal di Kota Herat. Si pencari kebenaran itu pun segera ke sana, dan sampailah ia di depan pintu Sang Bijak. Di pintu itu, berlawanan dengan harapannya, tertera suatu pengumuman aneh: "Di sini Dijual Pengetahuan."

"Pasti ada yang keliru, atau, mungkin pengumuman itu disengaja agar pencari kebenaran yang setengah hati itu mengurungkan niatnya," batinnya, "sebab belum pernah kudengar dikatakan pengetahuan bisa dibeli atau dijual." Lalu, ia pun masuk ke dalam rumah itu.

Di pelataran dalam rumah, tampak Ansari, yang bungkuk karena usia, sedang menulis sajak. "Apakah Saudara datang mau membeli pengetahuan?' tanya Sang Agung.

Saiful pun mengangguk. Ansari mengatakan padanya untuk menyediakan sebanyak mungkin uang yang dimilikinya. Lalu, Saiful pun mengeluarkan semua uangnya, sejumlah seratus keping uang perak.

"Dengan uang segitu," kata Ansari, "Saudara bisa mendapat tiga nasihat."

"Apa ini sungguhan?" tanya Saiful. "Kenapa Guru perlu uang, kalau Guru seorang sederhana dan mengabdi?'

"Kita hidup dalam dunia, yang dikelilingi oleh kenyataan-kenyataan bendawi," kata orang itu. "Dan pengetahuan yang kumiliki memberiku tanggung jawab baru yang besar. Sebab aku mengetahui perihal tertentu yang orang lain tidak ketahui, aku harus menggunakan uang, di antara hal lainnya, agar bisa mengabdi ketika kata atau latihan 'berkah' tidak perlu ditunjukkan."

Sang Bijak itu lalu mengambil uang perak tersebut dan berkata, "Dengarkan baik-baik. Nasihat pertama: Awan tipis isyarat bahaya."

"Tetapi, inikah pengetahuan itu?" tanya Saiful. "Nasihat tadi tampaknya tidak menjelaskan padaku mengenai sifat kebenaran puncak, atau perihal kedudukan manusia dalam dunia."

"Kalau Saudara terus menyanggahku," kata Orang Bijak itu, "Silakan Saudara ambil kembali uang itu dan pergi. Apa pula gunanya pengetahuan tentang tempat manusia dalam dunia, kalau manusia itu mati?"

Saiful Muluk terdiam, dan dinantinya nasihat kedua.

Nasihat yang kedua: "Kalau Saudara bisa menemukan seekor burung, kucing, dan anjing pada satu tempat, tangkaplah dan pelihara mereka sampai akhir."

"Nasihat yang aneh," pikir Saiful. "Tetapi mungkin nasihat itu mengandung makna mendalam yang baru akan kupahami jika kurenungkan cukup lama."

Jadi ia tetap tenang saja hingga Si Tua itu mengatakan nasihat terakhir:

"Kalau Saudara mengalami hal tertentu yang tampak tidak masuk akal, tetaplah berpegang teguh pada nasihat terdahulu, hanya dengan begitu sebuah pintu akan terbuka bagi Saudara. Lalu, masukilah pintu itu."

Saifulmuluk masih ingin tinggal dan mengikuti Sang Guru yang mengherankan itu, tetapi Ansari dengan agak memaksa menyuruhnya pergi.

Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Orang yang Waktunya Keliru

Si pencari kebenaran itu pun melanjutkan pengembaraannya, dan pergi ke Kashmir untuk belajar kepada seorang guru di sana. Ketika berjalan lewat Asia Tengah lagi, Saiful Muluk sampai di sebuah pasar di Bokhara ketika sedang diadakan lelang.

Seorang lelaki terlihat membawa seekor kucing, burung, dan anjing yang baru saja dibelinya. "Kalau saja aku tak berlama-lama di Kashmir kemarin," pikir Saiful Muluk, "tentu aku sempat membeli binatang-binatang itu, yang pastilah merupakan bagian dari takdirku."

Kemudian, ia mulai khawatir, sebab meskipun telah dilihatnya bersamaan burung, kucing, dan anjing itu, ia belum menyaksikan segaris awan kecil.

Segalanya tampak serba salah baginya. Satu hal yang menenangkannya adalah ketika dibacanya dalam catatannya, nasihat seorang Guru Agung: 'Hal-hal terjadi dalam urutan. Orang membayangkannya berlangsung dalam kaidah tertentu. Tetapi nyatanya, urutan itu kadang-kadang berbeda dari yang kita bayangkan."

Kemudian, orang itu menyadari bahwa meskipun ketiga binatang tadi telah dibeli di sebuah lelang, sebenarnya Ansari tidak mengatakan padanya untuk membeli ketiganya di sebuah lelang. Ia tak mengingat isi nasihat itu, 'Kalau Saudara bisa menemukan seekor burung, kucing, dan anjing pada satu tempat, tangkaplah dan peliharalah mereka sampai akhir.'

Jadi, mulailah Saifulmuluk mencari pembeli ketiga binatang tadi, kalau-kalau ketiganya masih berada 'pada satu tempat'.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Mobil Tiba-tiba Terbang...
Mobil Tiba-tiba Terbang Akibat Cuaca Panas Ekstrem di AS
Pisahkan Arab dan Afrika,...
Pisahkan Arab dan Afrika, Ini Fenomena Alam Paling Ekstrem yang Terjadi Jutaan Tahun Lalu
Harta Karun Air Purba...
Harta Karun Air Purba Berusia 6 Juta Tahun Ditemukan di Bawah Pegunungan Sisilia
Artikel Terkini
Jemaah asal Tuban Bagikan...
Jemaah asal Tuban Bagikan Pentingnya JKN untuk Perjalanan Ibadah Haji yang Tenang
Syarat Istithaah Sukses...
Syarat Istithaah Sukses Tekan Angka Jemaah Haji Indonesia Sakit Pascaarmuzna
Kunjungi Misi Haji di...
Kunjungi Misi Haji di Makkah, Wamenhaj Arab Saudi Puji Perubahan Radikal Sistem Haji Indonesia
Baca Selawat Nabi 1000...
Baca Selawat Nabi 1000 Kali di Hari Jumat, Kelak Diperlihatkan Kedudukannya di Surga
Cemas karena Ekonomi...
Cemas karena Ekonomi Terpuruk? Baca Doa Ini Bakda Ashar Hari Jumat, InsyaAllah Mustajab!
Amalan Jumat: Raih Cahaya...
Amalan Jumat: Raih Cahaya dengan Membaca Surat Al-Kahfi
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved