Kisah Sufi Saiful Muluk Sang Pencari Kebenaran

Minggu, 05 Desember 2021 - 10:52 WIB
loading...
A A A
Kemudian pada suatu hari, ia terkejut mendapati kucing peliharaannya bicara kepadanya dalam bahasa yang bisa ia mengerti. "Tuan," kata Si Kucing, "Tuan mempunyai tugas, dan tugas itu harus Tuan kerjakan. Namun, tidakkah Tuan heran bahwa waktu yang Tuan sebut 'akhir' itu belum juga tiba?"

"Aku tidak begitu terkejut," kata Saif Baba, "sebab setahuku akhir itu mungkin baru tiba setelah seratus tahun."

"Di situlah letak kekeliruan Tuan," kata Si Burung, yang kini ikut berbicara, "sebab Tuan tidak mempelajari apa yang bisa Tuan simak dari berbagai kelana yang melewati jalan ini. Tuan tak menyadari bahwa meskipun mereka tampak berbeda (seperti kami semua binatang, tampak berbeda bagi Tuan), mereka semua diutus oleh sumber pengajaranmu, oleh Khaja Ansar sendiri, untuk melihat apakah Tuan telah cukup mempunyai pengetahuan untuk mengikuti mereka."

"Kalau benar demikian," kata Saif Baba, "yang belum kupercayai sekarang, bisakah kalian jelaskan padaku bagaimana mungkin seekor kucing dan burung pipit kecil bisa memberitahuku perihal yang aku, dengan kemampuan ajaib yang kumiliki, sendiri tidak menyadarinya?"

"Sederhana saja," jawab kedua binatang itu, "Tuan telah terbiasa menilai segala sesuatu hanya dengan satu cara sehingga kelemahan-kelemahan Tuan terlihat jelas bahkan oleh pikiran yang paling ringkas sekalipun."

Penjelasan itu membuat Saif Baba gusar. "Jadi, aku pasti telah menemukan Pintu ke Nasihat Ketiga itu sejak dahulu, kalau saja aku telah cukup menyesuaikan diri padanya?"

"Begitulah," kata Si Anjing, bergabung dalam percakapan, "pintu itu telah terbuka lusinan kali di tahun-tahun lampau, namun Tuan tak melihatnya. Kami menyaksikannya, tetapi karena kami ini hewan, kami tak bisa mengatakannya pada Tuan."

"Lalu, kenapa kalian bisa berbicara kepadaku sekarang?"

"Tuan bisa memahami bahasa kami sebab Tuan sendiri akhirnya telah menjadi lebih manusiawi. Tetapi, kini Tuan tinggal punya satu kesempatan lagi, sebab Tuan semakin menua."

Saif Baba semula membatin, "Ah, aku mengkhayal." Lalu, ia berpikir, "Mereka ini tidak pantas berbicara padaku seperti itu; aku ini Tuan mereka, aku yang menyediakan makanan." Lagi, bagian lain dirinya berkata, "Kalau mereka keliru, tak mengapa. Tetapi kalau mereka benar, sungguh ngeri bagiku. Aku tak bisa mengambil sebuah peluang."

Maka, ia menanti kesempatannya. Berbulan-bulan lewat. Pada suatu hari, seorang darwis pengembara muncul dan memasang tenda di dekat rumah Saif Baba. Darwis itu berteman dengan ketiga binatang tadi, dan Saif memutuskan untuk mencoba memperoleh kepercayaannya.

"Maaf saja!" kata Sang Darwis, "aku tak tertarik pada cerita Saudara tentang Guru Ansari, awan kecil itu, dan penglihatan, dan binatang peliharaan, bahkan Cincin Ajaib milik Saudara. Biarkan aku sendiri. Aku mengetahui apa yang harus Saudara, sampaikan, namun tidak mengetahui yang Saudara katakan barusan."

Saif Baba merasa putus asa; dipanggilnya Roh Cincin itu. Tetapi, Jin itu hanya berkata, "Hamba tidak boleh mengatakan pada Tuan perihal yang tidak boleh dikatakan. Namun, hamba mengetahui bahwa Tuan sedang menderita sebuah penyakit yang disebut 'Prasangka Tersembunyi Tetap' yang menguasai pemikiran Tuan dan membuat Tuan sulit mencapai kemajuan dalam jalan."

Kemudian, Saif Baba kembali menemui Sang Darwis yang sedang duduk-duduk di ambang pintunya, dan berkata, "Apa yang harus kulakukan, sebab aku merasakan suatu tanggung jawab terhadap hewan peliharaanku, dan kebingungan tentang diriku sendiri, sementara tak ada lagi petunjuk dalam Tiga Nasihat yang kupunyai."

"Saudara berkata tulus," kata Sang Darwis, "dan itu sebuah permulaan. Berikan ketiga binatang Saudara padaku, dan akan kuberitahukan jawabannya."

"Tetapi, aku tak mengenal Saudara, dan Saudara minta terlalu banyak," kata Saif Baba. "Bagaimana bisa Saudara meminta hal semacam itu? Aku menghormati Saudara, namun masih ada sedikit keraguan dalam benakku."

"Tepat sekali," kata Sang Darwis. "Saudara telah mengungkapkan bukan saja perhatian Saudara terhadap hewan-hewan itu, tetapi juga kurangnya pengenalan Saudara tentang aku. Kalau Saudara menilai berdasarkan perasaan atau logika, Saudara tidak bisa menarik manfaat. Bisa dibilang Saudara masih rakus karena Saudara masih mempertahankan kekuasaan atas binatang-binatang 'Saudara'. Nah, sekarang pergilah dengan yakin, bahwa namaku Darwaza."

Kini, 'Darwaza' artinya 'pintu', dan Saif Baba berpikir keras mengenai hal itu. Mungkinkah ini 'pintu' yang diramalkan oleh Sang Syeh, Ansari?

"Saudara mungkin 'Pintu' yang kucari-cari, tetapi aku tak yakin," katanya kepada Sang Darwis Darwaza.

"Sampai kapan Saudara berpraduga seperti itu?" kata darwis itu.

"Tidakkah Saudara lihat bahwa kedua nasihat yang pertama ditujukan bagi pikiran Saudara, dan bahwa yang ketiga bisa dipahami hanya bila Saudara meyakininya?"

Setelah hampir dua tahun mengalami kebingungan dan kegelisahan, Saif Baba tiba-tiba menyadari kebenaran tersebut. Ia pun memanggil ketiga binatang itu dan dilepasnya mereka, katanya, "Kini kalian bebas mengambil jalan masing-masing. Inilah akhirnya."

Sementara berkata demikian, ketiga binatang peliharaannya itu berubah bentuk menjadi manusia. Di sebelahnya berdiri Darwaza, tetapi ujudnya kini berubah menjadi Khaja Ansar yang Agung.

Tanpa berkata apa pun, Ansari membuka pintu pada sebuah pohon di samping sebuah sungai, dan ketika ia berjalan melewati ambang pintu, Saif Baba menyaksikan huruf-huruf keemasan yang tertera dalam gua menakjubkan itu, segala jawaban mengenai hidup dan mati, keabadian dan kemanusiaan, pengetahuan dan ketololan, yang telah mengusiknya selama hidupnya.

"Kelekatan pada kebendaan," kata suara Ansari, "telah menghambat kemajuan Saudara selama bertahun-tahun. Hal itu menyebabkan Saudara sangat terlambat menemukan kebenaran. Ambillah dari sini sisa bagian kebijaksanaan yang masih terbuka bagi Saudara."

Kisah ini juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam buku berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.

Baca juga: Kisah Sufi Hatim al-Tha'i dan Raja yang Ingin Menjadi Dermawan
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Rekomendasi
Fenomena Tornado Api...
Fenomena Tornado Api di Balik Kebakaran Hebat Kanada Terkuak
Misteri Lightsaber Cahaya...
Misteri Lightsaber Cahaya Aneh di Malang Pasca Gempa Magnitudo 6,7
Google Maps Tangkap...
Google Maps Tangkap Struktur Bulat yang Tidak Biasa, Ini Detailnya
Artikel Terkini
5 Adab Bertetangga dalam...
5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Orang yang Mengganggu...
Orang yang Mengganggu Tetangganya Bukan Mukmin, Ini Dalil Hadis dan Penjelasan Ulama
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Kasus Teror Tetangga...
Kasus Teror Tetangga Viral, Begini Hak Tetangga Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Mengapa Surat Al-Fatihah...
Mengapa Surat Al-Fatihah Disebut Induk Al-Qur'an? Ini Makna dan Keistimewaannya
Asal Usul Nama Surat...
Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Infografis
Dua Fenomena Antariksa...
Dua Fenomena Antariksa Bakal Terjadi Awal April 2021
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved