Pra-Islam: Pemeluk Yahudi Masuk Wilayah Arab dan Peristiwa Ashabul Ukhdud
Senin, 03 Januari 2022 - 12:15 WIB
loading...
Situs reruntuhan Kota Najran tempat kisa Ashabul Ukhdud terjadi di Yaman. Kisah yang diceritakan dalam surat al-Buruj. (Foto/Ilusrasi: richardwilding)
A
A
A
Sebelum Islam datang, penduduk wilayah Arab sebagian sudah memeluk agama Yahudi dan Nasrani . Umat Yahudi telah lama tersebar di Khaibar, Yatsrib (Madinah), Wadi al-Qura, Fadak, Taima, dan di bagian selatan, khususnya Himyar. Penyebaran agama ini diwarnai kekerasan. Salah satunya adalah para peristiwa Ashabul Ukhdud.
Baca juga: Ashhabul Ukhdud: Kisah Pembakaran Orang-Orang Beriman Pra-Islam
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya berjudul "Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam" menyebutkan berbagai riwayat historis mengenai penyebaran agama Yahudi di kalangan orang Arab kurang begitu jelas.
Salah satu riwayat mengaitkan penyebaran agama ini dengan peristiwa hijrahnya orang Yahudi dari Babylonia sekitar tahun 606 SM di masa Raja Nebukadnezar (Bukhtanasar) yang kekuasaannya mencakup Palestina.
Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab 'Sirah Nabawiyah' menjelaskan penaklukan bangsa Babylonia dan Asyur di Palestina oleh Nebukadnezar mengakibatkan tekanan terhadap orang-orang Yahudi. Banyak di antara mereka yang ditawan dan dibawa ke Babylonia.
Sebagian orang Yahudi lainnya meninggalkan Palestina dan pindah ke Hijaz bagian utara.
Riwayat lain menyebutkan, sebagian orang Yahudi bermigrasi ke wilayah selatan dari Kanaan di Palestina pada masa kekuasaan Romawi di bawah Kaisar Titus pada 70 M dan sebagian lagi pada masa Kaisar Adrianus tahun 132 M.
Pencaplokan bangsa Romawi terhadap Palestina ini disertai tekanan terhadap orang-orang Yahudi dan penghancuran tempat suci mereka.
Lalu banyak kabilah Yahudi yang berpindah ke Hijaz kemudian menetap di Yatsrib, Khaibar, dan Taima. Di sana orang Yahudi mendirikan perkampungan Yahudi dan benteng pertahanan. Dalam kondisi itulah, agama Yahudi menyebar di sebagian masyarakat Arab melalui orang-orang Yahudi imigran itu.
Menurut Abdul Aziz, Palestina di masa silam merupakan bagian Semenanjung Arabia yang tidak memiliki perintang apa pun bagi orang Yahudi untuk bermigrasi ke wilayah selatan Arabia, bukan hanya untuk mencari daerah subur tempat mengembangkan keahlian pertanian mereka tetapi juga untuk tujuan dagang dan keagamaan.
Baca juga: Ashhabul Ukhdud: Kisah Pembakaran Orang-Orang Beriman Pra-Islam
Dr Abdul Aziz MA dalam bukunya berjudul "Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam" menyebutkan berbagai riwayat historis mengenai penyebaran agama Yahudi di kalangan orang Arab kurang begitu jelas.
Salah satu riwayat mengaitkan penyebaran agama ini dengan peristiwa hijrahnya orang Yahudi dari Babylonia sekitar tahun 606 SM di masa Raja Nebukadnezar (Bukhtanasar) yang kekuasaannya mencakup Palestina.
Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab 'Sirah Nabawiyah' menjelaskan penaklukan bangsa Babylonia dan Asyur di Palestina oleh Nebukadnezar mengakibatkan tekanan terhadap orang-orang Yahudi. Banyak di antara mereka yang ditawan dan dibawa ke Babylonia.
Sebagian orang Yahudi lainnya meninggalkan Palestina dan pindah ke Hijaz bagian utara.
Riwayat lain menyebutkan, sebagian orang Yahudi bermigrasi ke wilayah selatan dari Kanaan di Palestina pada masa kekuasaan Romawi di bawah Kaisar Titus pada 70 M dan sebagian lagi pada masa Kaisar Adrianus tahun 132 M.
Pencaplokan bangsa Romawi terhadap Palestina ini disertai tekanan terhadap orang-orang Yahudi dan penghancuran tempat suci mereka.
Lalu banyak kabilah Yahudi yang berpindah ke Hijaz kemudian menetap di Yatsrib, Khaibar, dan Taima. Di sana orang Yahudi mendirikan perkampungan Yahudi dan benteng pertahanan. Dalam kondisi itulah, agama Yahudi menyebar di sebagian masyarakat Arab melalui orang-orang Yahudi imigran itu.
Menurut Abdul Aziz, Palestina di masa silam merupakan bagian Semenanjung Arabia yang tidak memiliki perintang apa pun bagi orang Yahudi untuk bermigrasi ke wilayah selatan Arabia, bukan hanya untuk mencari daerah subur tempat mengembangkan keahlian pertanian mereka tetapi juga untuk tujuan dagang dan keagamaan.
Lihat Juga :