Berfiqih Tanpa Mazhab, Mungkinkah?
Sabtu, 08 Januari 2022 - 19:40 WIB
loading...
A
A
A
Apakah Imam Muzanni dengan begitu mudahnya memahami dan kemudian langsung mensyarahkan kitab gurunya itu?
Imam Muzanni merupakan salah satu diantara murid terbaik Imam Syafi'i, murid kesayangan serta murid terpandai. Lantas, apa yang kemudian dikatakan oleh Imam Muzanni manakala dia mulai mencoba memahami serta mempelajari karya gurunya itu, kitab "Al-Umm" karya Imam Syafi'i?
Kata Imam al-Muzanni, "Aku perlu membaca dan menela'ah Kitab al-Umm karya guruku Imam Syafi'i sebanyak 500 kali berulang-ulang, hingga aku benar-benar memahami setiap maknanya." Subhanallah!
Selanjutnya, Kitab "Mukhtasar al-Muzanni" tersebut kembali disyarahkan oleh Imam al-Haramain dengan judul "Nihayut Mathlab".
Selanjutnya oleh Imam Al-Ghazali diringkaskan lagi menjadi karyanya berjudul kitab "Al-Basith", kemudian diringkaskan menjadi kitab "Al-Wasith" dan terakhir diringkaskan dalam kitab bernama "al-Wajiz".
Karya-karya Imam Al-Ghazali ini kemudian disyarahkan lagi oleh Imam ar-Rafi'e dengan dua karyanya berjudul: "Al-Muharrar" dan "Fath Aziez".
Kitab "Al-Muharrar" disyarahkan oleh Imam Nawawi selanjutnya menghasilkan karya baru berjudul "Minhajut Thalibin". Sedangkan kitab "Fath Aziez" yang masih karya Imam ar-Rafi'e disyarahkan sama oleh Imam Nawawi dengan judul: "Raudhatut Thalibin".
Berawal dari Kitab "Raudhatut Thalibin" karya Imam Nawawi ini melahirkan kitab "Raudh at-Thalib" karya Imam al-Muqry. Dari kitab "Raudh ath-Thalib" kembali disyarahkan oleh Imam Zakariyya al-Anshari yang selanjutnya melahirkan karya besar berjudul "Asna al-Mathalib".
Sedangkan karya paling monemental Imam Nawawi yang satunya ini yang kemudian menjadi karya "Masterpiece" dalam bidang Fiqh Syafiyyah yang paling ramai dan banyak mendapatkan perhatian para Fuqaha beratus-ratus tahun adalah kitab yang bernama"Minhajut Thalibin".
Dari karya "Minhajut Thalibin" Imam Nawawi inilah lahir karya Imam Jalaluddin al-Mahalli berjudul "Kanz Raghibin" dan kitab "Tuhfah al-Muhtaj" karya Imam Ibn Hajar al-Haitamy.
Imam Muzanni merupakan salah satu diantara murid terbaik Imam Syafi'i, murid kesayangan serta murid terpandai. Lantas, apa yang kemudian dikatakan oleh Imam Muzanni manakala dia mulai mencoba memahami serta mempelajari karya gurunya itu, kitab "Al-Umm" karya Imam Syafi'i?
Kata Imam al-Muzanni, "Aku perlu membaca dan menela'ah Kitab al-Umm karya guruku Imam Syafi'i sebanyak 500 kali berulang-ulang, hingga aku benar-benar memahami setiap maknanya." Subhanallah!
Selanjutnya, Kitab "Mukhtasar al-Muzanni" tersebut kembali disyarahkan oleh Imam al-Haramain dengan judul "Nihayut Mathlab".
Selanjutnya oleh Imam Al-Ghazali diringkaskan lagi menjadi karyanya berjudul kitab "Al-Basith", kemudian diringkaskan menjadi kitab "Al-Wasith" dan terakhir diringkaskan dalam kitab bernama "al-Wajiz".
Karya-karya Imam Al-Ghazali ini kemudian disyarahkan lagi oleh Imam ar-Rafi'e dengan dua karyanya berjudul: "Al-Muharrar" dan "Fath Aziez".
Kitab "Al-Muharrar" disyarahkan oleh Imam Nawawi selanjutnya menghasilkan karya baru berjudul "Minhajut Thalibin". Sedangkan kitab "Fath Aziez" yang masih karya Imam ar-Rafi'e disyarahkan sama oleh Imam Nawawi dengan judul: "Raudhatut Thalibin".
Berawal dari Kitab "Raudhatut Thalibin" karya Imam Nawawi ini melahirkan kitab "Raudh at-Thalib" karya Imam al-Muqry. Dari kitab "Raudh ath-Thalib" kembali disyarahkan oleh Imam Zakariyya al-Anshari yang selanjutnya melahirkan karya besar berjudul "Asna al-Mathalib".
Sedangkan karya paling monemental Imam Nawawi yang satunya ini yang kemudian menjadi karya "Masterpiece" dalam bidang Fiqh Syafiyyah yang paling ramai dan banyak mendapatkan perhatian para Fuqaha beratus-ratus tahun adalah kitab yang bernama"Minhajut Thalibin".
Dari karya "Minhajut Thalibin" Imam Nawawi inilah lahir karya Imam Jalaluddin al-Mahalli berjudul "Kanz Raghibin" dan kitab "Tuhfah al-Muhtaj" karya Imam Ibn Hajar al-Haitamy.
Lihat Juga :