Kisah Rasulullah Marah Saat Orang Yahudi Menanyakan Hal Ini
Minggu, 30 Januari 2022 - 18:20 WIB
loading...
A
A
A
Setelah itu, kata-kata kotor dan tidak baik mulai mereka lontarkan. Abdullah bin Salam dicaci dengan berbagai fitnah dan diumpat dengan kata-kata yang amat kasar.
Sejak saat itu, kaum Yahudi mulai bersepakat untuk menghancurkan Islam. Sebelum Rasulullah diutus, orang-orang Yahudi sudah mengetahui dari Taurat bahwa dalam waktu dekat akan ada seorang Nabi yang diutus Allah. Namun, mereka menduga bahwa Nabi itu akan lahir dari kalangan Yahudi.
Beberapa pemimpin Yahudi mendatangi Rasulullah dan bertanya dengan congkak: "Hai Muhammad! Allah yang telah menciptakan segenap makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?" (Na'udzubillahi min dzalik)
Mendengar pertanyaan sekeji itu, wajah Rasulullah berubah karena menahan marah. Seketika, turunlah Malaikat Jibril menenangkan Rasulullah seraya menyampaikan firman Allah yang pernah diturunkan di Mekkah untuk menjawab:
Artinya: "Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara (serupa) dengan Dia." (QS Al-Ikhlas Ayat 1-4)
Sesudah Rasulullah membaca ayat tersebut, para ketua Yahudi terdiam dan saling mengejek, ia berkata: "Muhammad, coba engkau sifatkan kepada kami, bagaimana Allah itu. Berapa hasta tinggi-Nya, bagaimana lengan-Nya, bagaimana....?"
Sudah tentu Rasulullah menjadi sangat marah, lebih marah daripada yang pertama. Namun, Jibril kembali turun memadamkan rasa marah Rasulullah sambil menyampaikan firman Allah untuk menjawab pertanyaan lancang itu:
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Surah Az-Zumar: 67)
Demikian kisah Rasulullah marah ketika pemuka-pemuka Yahudi mempermainkan Allah dengan pertanyaan ngawur. Kemarahan beliau dinilai wajar, namun beliau tetap menunjukkan akhlak terpuji. Beliau tidak lantas membalasnya dengan cacian dan hinaan. Justru beliau menjawab pertanyaan konyol Yahudi itu dengan firman Allah Yang Maha Agung.
Baca Juga: Cara Mengendalikan Marah yang Diajarkan Rasulullah SAW
Sejak saat itu, kaum Yahudi mulai bersepakat untuk menghancurkan Islam. Sebelum Rasulullah diutus, orang-orang Yahudi sudah mengetahui dari Taurat bahwa dalam waktu dekat akan ada seorang Nabi yang diutus Allah. Namun, mereka menduga bahwa Nabi itu akan lahir dari kalangan Yahudi.
Beberapa pemimpin Yahudi mendatangi Rasulullah dan bertanya dengan congkak: "Hai Muhammad! Allah yang telah menciptakan segenap makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?" (Na'udzubillahi min dzalik)
Mendengar pertanyaan sekeji itu, wajah Rasulullah berubah karena menahan marah. Seketika, turunlah Malaikat Jibril menenangkan Rasulullah seraya menyampaikan firman Allah yang pernah diturunkan di Mekkah untuk menjawab:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
Artinya: "Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara (serupa) dengan Dia." (QS Al-Ikhlas Ayat 1-4)
Sesudah Rasulullah membaca ayat tersebut, para ketua Yahudi terdiam dan saling mengejek, ia berkata: "Muhammad, coba engkau sifatkan kepada kami, bagaimana Allah itu. Berapa hasta tinggi-Nya, bagaimana lengan-Nya, bagaimana....?"
Sudah tentu Rasulullah menjadi sangat marah, lebih marah daripada yang pertama. Namun, Jibril kembali turun memadamkan rasa marah Rasulullah sambil menyampaikan firman Allah untuk menjawab pertanyaan lancang itu:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Surah Az-Zumar: 67)
Demikian kisah Rasulullah marah ketika pemuka-pemuka Yahudi mempermainkan Allah dengan pertanyaan ngawur. Kemarahan beliau dinilai wajar, namun beliau tetap menunjukkan akhlak terpuji. Beliau tidak lantas membalasnya dengan cacian dan hinaan. Justru beliau menjawab pertanyaan konyol Yahudi itu dengan firman Allah Yang Maha Agung.
Baca Juga: Cara Mengendalikan Marah yang Diajarkan Rasulullah SAW
(rhs)
Lihat Juga :