Jangan Putus Asa, Allah Sangat Senang Menerima Tobat Hamba-Nya

loading...
Jangan Putus Asa, Allah Sangat Senang Menerima Tobat Hamba-Nya
Pengasuh Al-Hawthah Al-Jindaniyah, Al-Habib Ahmad Bin Novel Bin Salim Jindan. Foto/Ist
Pengasuh Ponpes Al-Hawthoh Al-Jindaniyah Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang bertobat. Betapa Allah Ta'ala sangat senang menerima tobat hamba-Nya.

Dalam satu kajiannya, Habib Ahmad menukil salah satu sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam bahwa Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ حَيْثُ يَذْكُرُنِيْ .وَاللهِ وَاللهِ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالْفَلاَةِ. وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِذَا أَقْبَلَ إِلَيَّ يَمْشِى أَقْبَلْتُ إِلَيْهِ أُهَرْوِلُ.

"Aku ada pada dugaan hamba-Ku dan Aku bersamanya setiap saat ia berzikir menyebut-Ku. Demi Allah, Aku lebih senang menerima tobat hamba-Ku daripada (kegembiraan) seseorang dari kalian yang menemukan kembali untanya yang tersesat di gunung sahara. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaku sejengkal, Aku mendekatinya sehasta, siapa yang mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, Aku mendekatinya sedepa (dua hasta), dan siapa yang datang kepa­da-Ku berjalan, Aku datang kepadanya berlari-lari." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Al-Bukhari)

Yang dimaksud dengan kata "mendekati" dalam Hadits tersebut di atas tidak seperti yang kita bayangkan dalam benak kita. Demikian pula mengenai kata jengkal, hasta. depa (dua hasta), berjalan, dan berlari-lari. Itu hanya sekadar kata kiasan untuk memudahkan pemahaman kita.

Dalam Hadis yang lain, setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasllam mengutip (mengulang) kata-kata tersebut, beliau mengucapkan: "Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia, Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia, Allah Maha Tinggi lagi Maha Mulia", diulang sampai tiga kali. (HR Ahmad dan at-Thabrani).

Ucapan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam itu merupakan dalil dan argumentasi yang sangat kuat, bahwa kalimat-kalimat Mahatinggi lagi Mahamulia tidaklah bermakna seperti yang telintas dalam angan-angan kita.

Adapun makna Hadits tersebut adalah bahwa Allah ridha menerima tobat hamba-Nya dan sangat senang. Lebih senang dan lebih ridha daripada orangyang kehilangan unta kemudian menemukannya di tengah gurun Sahara.

Demikian gembiranya karena unta itu baginya merupakan (bahan) makanan (dagingnya), minuman (susunya), dan alat (angkutan); yang pada mulanya ia sudah berputus asa untuk dapat menemukannya, bahkan sudah pasrah mati kelaparan dan kehausan.

Saking gembiranya orang itu hingga terlontar ucapan (tak disengaja) dari ujung lidahnya: "Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku ada­lah tuhanmu!" (Diriwayatkan oleh Muslim)

Habib Ahmad menceritakan, seorang bernama Abu Thawil Syathbul-Mamdud menuturkan, suatu hari ia datang menghadap Rasulullah lalu bertanya: "Bagaimanakah pendapat Anda Ya Rasulullah, mengenai orang yang telah berbuat berbagai macam dosa, sedangkan yang mengenai kepentingannya sendiri, betapapun kecilnya ia perlukan. Apakah dalam hal seperti itu masih dapat bertobat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam balik bertanya: "Apakah engkau sudah memeluk Islam?" Ia menyahut: "Kalau saya, saya telah bersaksi bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwa Anda adalah Rasul (Utusan) Allah!"

Beliau kemudian berkata: "Kalau engkau berbuat kebajikan dan meninggalkan keburukan, Allah akan menjadikan semuanya itu sebagai kebajikan." Abu Thawil bertanya: "(Termasuk) semua pengkhianatanku dan semua kedurhakaanku?" Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Ya."

Abu Thawil (mendengar jawaban itu) berucap: "Allahu Akbar." Sambil bertakbir ia pergi sampai tak tampak lagi. (Diriwayatkan oleh An-Najjar dan Thabrani)

Referensi:
Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah Karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani

Baca Juga: 9 Tanda Taubat Diterima Allah Ta'ala
(rhs)
preload video