Kisah Bijak Para Sufi: Gerbang Surga
Sabtu, 13 Juni 2020 - 05:14 WIB
loading...
Kisah ini merupakan bahan ajaran darwis yang disukai, kadang- kadang disebut Perumpamaan tentang Kurangnya Perhatian. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Zaman dahulu ada seorang lelaki baik hati . Ia telah menjalani hidupnya dengan melakukan segala hal yang memungkinkan orang masuk surga . Ia menolong orang miskin , mengasihi sesamanya, dan melayani mereka.
Mengingat pentingnya kesabaran , ia bertahan menanggung kesulitan besar yang terkadang tak terduga, dan sering kali ini dilakukannya demi kebahagian orang lain.
Ia pun berkelana ke berbagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahan hati dan perilakunya yang pantas ditiru dikenal dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan; orang-orang memujinya sebagai seorang bijaksana dan warga yang baik. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Empat Harta Ajaib )
Segala kebajikan ia jalankan kapan pun ia ingat untuk melakukannya. Namun, ia mempunyai satu kekurangan yaitu kurang perhatian. Kecenderungan ini memang tidak begitu kuat, ia menyadarinya, dan bila dibandingkan dengan semua kelebihanya, kekurangan itu sungguh hanyalah cacat kecil saja. (Baca juga: Hikayat-Hikayat Mistis: Burung Hoopoe dan Burung Hantu )
Ada sejumlah orang miskin yang belum ditolongnya, sebab dari waktu ke waktu ia kurang perhatian terhadap kebutuhan mereka. Cinta kasih dan pelayanan pun kadang terlupakan apabila apa yang dipikirkannya adalah keperluan atau hasrat pribadi yang muncul dalam dirinya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan )
Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang ketika ia sedang tidur, kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya, atau melaksanakan kerendahan hati, atau menambahkan jumlah tindakan-tindakannya yang baik, kesempatan-kesempatan serupa itu lewat begitu saja, dan tidak kembali lagi.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Api
Sama seperti karakternya yang baik meninggalkan kesan pada diri sejatinya, begitu pula karakternya yang buruk tadi.
Kemudian, ia meninggal. Menyadari dirinya berada di alam baka, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman Bertembok, orang itu berhenti sebentar. Ia menguji kata hatinya. Ia merasa mempunyai kesempatan yang besar untuk memasuki Gerbang Mulia itu.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan)
Tiba-tiba, dilihatnya gerbang itu tertutup; lalu terdengar suara berkata kepadanya: "Berjaga-jagalah senantiasa; sebab gerbang ini hanya terbuka sekali dalam seratus tahun." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran )
Mengingat pentingnya kesabaran , ia bertahan menanggung kesulitan besar yang terkadang tak terduga, dan sering kali ini dilakukannya demi kebahagian orang lain.
Ia pun berkelana ke berbagai tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Kerendahan hati dan perilakunya yang pantas ditiru dikenal dari Timur ke Barat dan dari Utara ke Selatan; orang-orang memujinya sebagai seorang bijaksana dan warga yang baik. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Empat Harta Ajaib )
Segala kebajikan ia jalankan kapan pun ia ingat untuk melakukannya. Namun, ia mempunyai satu kekurangan yaitu kurang perhatian. Kecenderungan ini memang tidak begitu kuat, ia menyadarinya, dan bila dibandingkan dengan semua kelebihanya, kekurangan itu sungguh hanyalah cacat kecil saja. (Baca juga: Hikayat-Hikayat Mistis: Burung Hoopoe dan Burung Hantu )
Ada sejumlah orang miskin yang belum ditolongnya, sebab dari waktu ke waktu ia kurang perhatian terhadap kebutuhan mereka. Cinta kasih dan pelayanan pun kadang terlupakan apabila apa yang dipikirkannya adalah keperluan atau hasrat pribadi yang muncul dalam dirinya.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Warisan )
Ia suka sekali tidur. Dan kadang-kadang ketika ia sedang tidur, kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan, atau memahaminya, atau melaksanakan kerendahan hati, atau menambahkan jumlah tindakan-tindakannya yang baik, kesempatan-kesempatan serupa itu lewat begitu saja, dan tidak kembali lagi.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Api
Sama seperti karakternya yang baik meninggalkan kesan pada diri sejatinya, begitu pula karakternya yang buruk tadi.
Kemudian, ia meninggal. Menyadari dirinya berada di alam baka, dan sedang berjalan menuju pintu-pintu Taman Bertembok, orang itu berhenti sebentar. Ia menguji kata hatinya. Ia merasa mempunyai kesempatan yang besar untuk memasuki Gerbang Mulia itu.(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan)
Tiba-tiba, dilihatnya gerbang itu tertutup; lalu terdengar suara berkata kepadanya: "Berjaga-jagalah senantiasa; sebab gerbang ini hanya terbuka sekali dalam seratus tahun." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran )
Lihat Juga :