Dinasti Ghaznawi, Kesultanan yang Didirikan Seorang Budak
Kamis, 10 Maret 2022 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu dia juga membuka hubungan baik dengan masyarakat non-Muslim. Dia menyambut para prajurit dan perwira Hindu dan Ismailiyah yang ingin bergabung ke dalam pasukannya. Namun, karena ekspansi dan peperangan yang terus-menerus, pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, kondisi keuangan Dinasti Ghaznawiyah mulai sulit. Akibatnya Mahmud memerintahkan pasukannya untuk menyerang kuil-kuil Hindu dan menjarah sejumlah besar emas.
Pada tahun 1026, Sultan Mahmud yang sudah berusia 55 tahun berangkat untuk menyerang negara bagian Kathiawar, yang berada di pantai barat India (Laut Arab). Pasukannya melaju ke ujung selatan Somnath, yang terkenal dengan kuil yang indah Dewa Siwa.
Meskipun pasukan Mahmud berhasil menduduki Somnath, dan menjarah dan menghancurkan kuil, namun berita buruk datang dari Afghanistan. Sejumlah suku Turki telah bangkit untuk menantang pemerintahan Ghaznawiyah, termasuk di antaranya orang-orang Turki Seljuk, yang telah merebut Merv (Turkmenistan) dan Nishapur (Iran).
Pada saat Mahmud meninggal pada 30 April 1030, para pemberontak ini sudah mulai menggerogoti perbatasan-perbatasan wilayah kekuasaan Kesultanan Ghaznawiyah. Sultan Mahmud meninggal pada usia 59 tahun.
Baca juga: Catatan Emas Jihad di Zona Laut Daulah Umayyah
Keruntuhan
Mahmud meninggalkan berbagai warisan. Dinastinya akan bertahan sampai tahun 1187, meskipun sudah mulai runtuh dari barat ke timur bahkan sebelum kematiannya.
Dinasti Ghaznawi tidak ditopang oleh angkatan bersenjata yang kuat, sehingga ketika seorang pemimpinnya yang sangat berpengaruh meninggal, maka semuanya segera menemui kehancuran.
Wilayah kekuasaan dinasti Ghaznawi di sebelah timur berangsur melepaskan diri dari pusat kota, dan munculah sejumlah dinasti Muslim independen di India.
Di utara dan barat muncul dinasti Khan dari Turkistan dan dinasti Seljuk dari Persia. Keduanya memisahkan diri dari kekuasaan Ghaznawi.
Di bagian tengah, dinasti Ghuriyah dari Afghanistan yang dipimpin Syihab al-Din al-Ghuri melakukan pemberontakan luar biasa dan puncaknya, pada tahun 1186 berhasil menghancurkan pijakan Ghaznawi yang terakhir di Lahore. Dengan hancurnya pijakan terkahir dinasti Ghaznawi tersebut maka berakhir pula eksistensi dinasti Ghaznawi.
Baca juga: Marwan Bin Hakam, Pecahan Laknat Allah yang Jadi Khalifah Dinasti Umayyah
Pada tahun 1026, Sultan Mahmud yang sudah berusia 55 tahun berangkat untuk menyerang negara bagian Kathiawar, yang berada di pantai barat India (Laut Arab). Pasukannya melaju ke ujung selatan Somnath, yang terkenal dengan kuil yang indah Dewa Siwa.
Meskipun pasukan Mahmud berhasil menduduki Somnath, dan menjarah dan menghancurkan kuil, namun berita buruk datang dari Afghanistan. Sejumlah suku Turki telah bangkit untuk menantang pemerintahan Ghaznawiyah, termasuk di antaranya orang-orang Turki Seljuk, yang telah merebut Merv (Turkmenistan) dan Nishapur (Iran).
Pada saat Mahmud meninggal pada 30 April 1030, para pemberontak ini sudah mulai menggerogoti perbatasan-perbatasan wilayah kekuasaan Kesultanan Ghaznawiyah. Sultan Mahmud meninggal pada usia 59 tahun.
Baca juga: Catatan Emas Jihad di Zona Laut Daulah Umayyah
Keruntuhan
Mahmud meninggalkan berbagai warisan. Dinastinya akan bertahan sampai tahun 1187, meskipun sudah mulai runtuh dari barat ke timur bahkan sebelum kematiannya.
Dinasti Ghaznawi tidak ditopang oleh angkatan bersenjata yang kuat, sehingga ketika seorang pemimpinnya yang sangat berpengaruh meninggal, maka semuanya segera menemui kehancuran.
Wilayah kekuasaan dinasti Ghaznawi di sebelah timur berangsur melepaskan diri dari pusat kota, dan munculah sejumlah dinasti Muslim independen di India.
Di utara dan barat muncul dinasti Khan dari Turkistan dan dinasti Seljuk dari Persia. Keduanya memisahkan diri dari kekuasaan Ghaznawi.
Di bagian tengah, dinasti Ghuriyah dari Afghanistan yang dipimpin Syihab al-Din al-Ghuri melakukan pemberontakan luar biasa dan puncaknya, pada tahun 1186 berhasil menghancurkan pijakan Ghaznawi yang terakhir di Lahore. Dengan hancurnya pijakan terkahir dinasti Ghaznawi tersebut maka berakhir pula eksistensi dinasti Ghaznawi.
Baca juga: Marwan Bin Hakam, Pecahan Laknat Allah yang Jadi Khalifah Dinasti Umayyah
(mhy)
Lihat Juga :