Puasa Umat Terdahulu, Bagaimana Umat Kristen dan Yahudi?
Jum'at, 25 Maret 2022 - 16:50 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian seorang raja yang lain memakan daging lalu merasakan sakit pada mulutnya dan berkata, “andaikan Allah menyembuhkan penyakitnya niscaya ia akan menambah puasanya sebanyak 7 hari”. Lantas raja tersebut sembuh dan menambah puasanya sebanyak 7 hari. Lalu raja yang lain mengatakan, kami akan berdoa dan menambahkan puasa 3 hari lagi sehingga menjadi genap 50 hari dan mereka mengerjakannya di musim semi.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa umat-umat terdahulu yang diwajibkan berpuasa adalah ahli kitab, yakni orang Yahudi, hal ini sebagaimana pendapat ‘Atha’ al-Khurasani dari Ibnu Abbas.
Baca juga: Benarkah Tak Semua Musafir Dapat Meninggalkan Kewajiban Puasa?
Umat Yahudi terbiasa melakukan puasa selama tiga hari. Selain itu Nabi Adam as. juga melakukan puasa salaam tiga hari tiap bulan dan sepanjang tahun. Namun, ada pendapat lain mengatakan bahwa beliau melakukan puasa tepat pada tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan syukur atas pertemuannya dengan Siti Hawa.
Amalan puasa juga pernah dilakukan oleh Nabi Daud as. Beliau melakukan puasa secara berselang, sehari berpuasa sehari tidak atau yang biasa kita kenal dengan istilah puasa Daud. Bahkan puasa ini dikenal sebagai puasa sunnah yang disukai oleh Allah SAW. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis:
Dari Abdullah bin Amru ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sholat (sunnah) yang paling Aku cintai adalah sholat seperti Nabi Daud. dan puasa (sunnah) yang paling Aku sukai adalah puasa seperti Nabi Daud beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari” (HR. Bukhari).
Bagi umat Islam puasa Ramadhan sejatinya bukan perkara yang sulit, sebab puasa sudah menjadi hal yang umum dilakukan orang banyak (orang-orang terdahulu). Oleh karenanya puasa menjadi perkara yang mudah bukan malah memberatkan kaum muslimin.
Baca juga: Tak Hanya Kewajiban, Puasa Juga Bermanfaat untuk Kesehatan Lansia
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa umat-umat terdahulu yang diwajibkan berpuasa adalah ahli kitab, yakni orang Yahudi, hal ini sebagaimana pendapat ‘Atha’ al-Khurasani dari Ibnu Abbas.
Baca juga: Benarkah Tak Semua Musafir Dapat Meninggalkan Kewajiban Puasa?
Umat Yahudi terbiasa melakukan puasa selama tiga hari. Selain itu Nabi Adam as. juga melakukan puasa salaam tiga hari tiap bulan dan sepanjang tahun. Namun, ada pendapat lain mengatakan bahwa beliau melakukan puasa tepat pada tanggal 10 Muharram sebagai ungkapan syukur atas pertemuannya dengan Siti Hawa.
Amalan puasa juga pernah dilakukan oleh Nabi Daud as. Beliau melakukan puasa secara berselang, sehari berpuasa sehari tidak atau yang biasa kita kenal dengan istilah puasa Daud. Bahkan puasa ini dikenal sebagai puasa sunnah yang disukai oleh Allah SAW. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis:
Dari Abdullah bin Amru ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sholat (sunnah) yang paling Aku cintai adalah sholat seperti Nabi Daud. dan puasa (sunnah) yang paling Aku sukai adalah puasa seperti Nabi Daud beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari” (HR. Bukhari).
Bagi umat Islam puasa Ramadhan sejatinya bukan perkara yang sulit, sebab puasa sudah menjadi hal yang umum dilakukan orang banyak (orang-orang terdahulu). Oleh karenanya puasa menjadi perkara yang mudah bukan malah memberatkan kaum muslimin.
Baca juga: Tak Hanya Kewajiban, Puasa Juga Bermanfaat untuk Kesehatan Lansia
(mhy)
Lihat Juga :