Sejarah dan Asal Usul Puasa Ramadhan
Senin, 28 Maret 2022 - 14:48 WIB
loading...
Puasa adalah ibadah ruhiyyah yang ada sejak lama; di mana Allâh Azza wa Jalla mewajibkannya atas banyak umat sebelum umat ini. Foto ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
Sejarah dan asal usul puasa sebenarnya sudah sangatlah tua. Puasa adalah ibadah ruhiyyah yang ada sejak lama; di mana Allâh Azza wa Jalla mewajibkannya atas banyak umat sebelum umat ini. Bila menilik sejarahnya, puasa sudah dikenal mulai dari bangsa Mesir, India, Yunani dan Romawi.
Begitu pula kaum Yahudi dan Nasrani masih terus melestarikan puasa hingga saat ini. Telah nyata pada mereka bahwa para nabi berpuasa, seperti puasa Nabi Musa alaihissalâm , puasa Nabi Isa alaihissalâm, dan juga para Hawariyyun pengikut setia Nabi Isa alaihissalâm.
Perhatikan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS Al-Baqarah :183)
Baca juga: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadhan Ternyata Lewat 3 Tahapan
Disyariatkannya ibadah puasa ini kepada semua umat, menunjukkan bahwa ibadah ini di antara ibadah yang paling agung dalam menyucikan ruhani, membersihkan jiwa, menguatkan sentimental agama dalam hati, serta untuk melengkapi hubungan antara hamba dengan RabbNya.
Sedangkan perintah puasa bagi umat Islam, awal mula disyariatkan setelah peristiwa hijrah. Seperti dilansir NU online, Syekh Manna’ Al-Qaththan menceritakan, ketika hijrah dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, Beliau aktif menjalankan puasa Asyura (10 Muharram) sebelum puasa Ramadhan diwajibkan.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, “Ketika tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyaksikan umat Yahudi Madinah berpuasa Asyura. ‘Puasa apa?’ tanya Rasulullah. ‘Ini (Asyura) hari baik. Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka pada hari ini,’ jawab Yahudi Madinah. Rasulullah SAW kemudian juga ikut berpuasa Asyura dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa Asyura.” “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,” kata Rasulullah SAW. (Manna’ Al-Qaththan, Tarikhut Tasyri Al-Islami At-Tasyri wal Fiqh, [Riyadh, Maktabah Al-Ma’arif: 2012 M/1433 H], halaman 145).
Riwayat lain meriwayatkan pertanyaan Rasulullah kepada Yahudi Madinah, “Hari apa yang kalian puasakan ini?” Mereka menjawab, “Ini hari agung di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya; dan menenggelamkan Fira’un dan pengikutnya. Musa berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur. Kami pun berpuasa pada ini hari.” “Aku lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian,” kata Rasulullah.
Rasulullah kemudian juga ikut berpuasa Asyura dan memerintahkan sahabatnya untuk (wajib) berpuasa Asyura.
Perintah Puasa Ramadhan Terjadi Pada Tahun Kedua Hijriyah
Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 183-185 sebagai perintah wajib puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada sahabatnya untuk mengamalkan dan tidak mengamalkan puasa Asyura. “Sungguh, Asyura adalah salah satu hari (milik) Allah. Siapa saja yang ingin berpuasa di dalamnya, silakan berpuasa,” kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar. (Al-Qaththan, 2012 M: 146).
Begitu pula kaum Yahudi dan Nasrani masih terus melestarikan puasa hingga saat ini. Telah nyata pada mereka bahwa para nabi berpuasa, seperti puasa Nabi Musa alaihissalâm , puasa Nabi Isa alaihissalâm, dan juga para Hawariyyun pengikut setia Nabi Isa alaihissalâm.
Perhatikan firman Allâh Azza wa Jalla berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS Al-Baqarah :183)
Baca juga: Sejarah Pensyariatan Puasa Ramadhan Ternyata Lewat 3 Tahapan
Disyariatkannya ibadah puasa ini kepada semua umat, menunjukkan bahwa ibadah ini di antara ibadah yang paling agung dalam menyucikan ruhani, membersihkan jiwa, menguatkan sentimental agama dalam hati, serta untuk melengkapi hubungan antara hamba dengan RabbNya.
Sedangkan perintah puasa bagi umat Islam, awal mula disyariatkan setelah peristiwa hijrah. Seperti dilansir NU online, Syekh Manna’ Al-Qaththan menceritakan, ketika hijrah dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, Beliau aktif menjalankan puasa Asyura (10 Muharram) sebelum puasa Ramadhan diwajibkan.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu'anhu, “Ketika tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyaksikan umat Yahudi Madinah berpuasa Asyura. ‘Puasa apa?’ tanya Rasulullah. ‘Ini (Asyura) hari baik. Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari musuh mereka pada hari ini,’ jawab Yahudi Madinah. Rasulullah SAW kemudian juga ikut berpuasa Asyura dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa Asyura.” “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,” kata Rasulullah SAW. (Manna’ Al-Qaththan, Tarikhut Tasyri Al-Islami At-Tasyri wal Fiqh, [Riyadh, Maktabah Al-Ma’arif: 2012 M/1433 H], halaman 145).
Riwayat lain meriwayatkan pertanyaan Rasulullah kepada Yahudi Madinah, “Hari apa yang kalian puasakan ini?” Mereka menjawab, “Ini hari agung di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya; dan menenggelamkan Fira’un dan pengikutnya. Musa berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur. Kami pun berpuasa pada ini hari.” “Aku lebih berhak dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian,” kata Rasulullah.
Rasulullah kemudian juga ikut berpuasa Asyura dan memerintahkan sahabatnya untuk (wajib) berpuasa Asyura.
Perintah Puasa Ramadhan Terjadi Pada Tahun Kedua Hijriyah
Allah menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 183-185 sebagai perintah wajib puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada sahabatnya untuk mengamalkan dan tidak mengamalkan puasa Asyura. “Sungguh, Asyura adalah salah satu hari (milik) Allah. Siapa saja yang ingin berpuasa di dalamnya, silakan berpuasa,” kata Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar. (Al-Qaththan, 2012 M: 146).
Lihat Juga :