Kiblat Berubah, Sahabat Nabi Bertanya Apakah Salatnya Diterima?

loading...
Kiblat Berubah, Sahabat Nabi Bertanya Apakah Salatnya Diterima?
Ketika terjadi perubahan kiblat, sahabat bertanya apakah salat mereka diterima atau tidak. Foto/Ist
Perubahan arab kiblat dari Baitul Maqdis Palestina ke Masjidil Haram Makkah dinilai sebagai tahapan pertama dalam pensyariatan salat. Sebelumnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) salat menghadap ke Baitul Maqdis Palestina lebih kurang 17 bulan lamanya.

Hingga akhirnya Allah Ta'ala menurunkan ayat-Nya: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai". (QS. Al-Baqarah: ayat 144)

Ketika terjadi perubahan kiblat menghadap ke Masjidil Haram Makkah, sebagian sahabat yang tidak ikut bersama Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya bagaimana salat mereka, diterima atau tidak?

Dai yang juga Direktur Quantum Akhyar Institute Ustaz Adi Hidayat mengatakan, apa yang belum diketahui tetap bernilai pahala. Amalan iman itu adalah niat, dan niat itu di hati.

Allah Ta'ala berfirman: "Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS Al-Baqarah: ayat 143)

Dari Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang Hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka Hijrahnya kepada yang ia tuju." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
(rhs)
preload video