Kisah Menyentuh Rabi'ah ar-Ra'yi, 30 Tahun Ditinggal Jihad sang Ayah

Senin, 11 April 2022 - 17:27 WIB
loading...
A A A
Baca juga: Tenggelamnya Jihad Laut di Masa Daulah Abbasiyah

Ar-Rabi’ah menapaki jalan hidup yang sudah digariskan atasnya dengan penuh semangat dan tak mau membuang waktu. Beliau rajin mendatangi halaqah-halaqah ilmu yang memenuhi Masjid Nabawi dengan membawa rasa haus akan sumber-sumber pengetahuan yang baik.

Beliau bersahabat baik dengan sisa-sisa sahabat utama, di antaranya Anas bin Malik, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengenyam ilmu dari para tabi’in terkemuka seperti Said bin Musayyab, Makhul asy-Syami dan Salamah bin Dinar.

Beliau terus belajar hingga larut malam, sampai lelah. Kawan-kawannya menasihati agar dia menjaga dan menyayangi dirinya sendiri, namun dia berkata, “Aku mendengar dari orang-orang tua dan guru-guruku berkata, “Sesungguhnya ilmu tidak akan memberikan sebagian dari dirinya kepadamu kecuali jika kamu memberikan seluruh jiwamu untuk mendapatkannya.”

Tak heran bila sebentar kemudian namanya sudah tersohor, menjadi tinggi pamornya, semakin banyak kawannya, dihargai oleh murid-muridnya, dan diunggulkan oleh kaumnya.

Prajurit Tua Pulang
Kehidupan ulama Madinah ini begitu cemerlang, dibagilah hari-harinya. Sebagian untuk keluarganya di rumah, sebagian lagi di masjid Nabawi menghadiri kajian ilmu dan halaqah-halaqah. Sampai suatu kali terjadi peristiwa yang sama sekali tak terduga dalam hidupnya.

Malam itu, di musim panas bulan bersinar dengan terangnya. Seorang prajurit berusia enam puluhan tahun memasuki kota Madinah. Dia menyusuri jalan-jalan kampung menuju rumahnya dengan naik kuda. Dia tidak tahu apakah rumahnya masih seperti yang dulu atau sudah berubah, karena telah dia tinggalkan sekitar 30 tahun yang lalu.

Baca juga: Jihad Dimaknai Secara Sempit, Ini Penjelasan MUI

Dia bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang dilakukan istrinya saat ini? Istrinya yang masih muda dan yang ditinggalkannya di rumah dulu, bagaimana dengan kandungannya, lahir laki-aki atau perempuan? Apakah anak itu hidup atau mati? Jika hidup, apa yang tengah dilakukannya? Dia juga teringat akan uang yang diperoleh dari jihad yang dia tinggalkan untuk istrinya, kemudian dia pergi sebagai mujahid fi sabilillah. Berangkat bersama pasukan muslimin untuk membuka daerah Bukhara, Samarkand dan sekitarnya.

Masih banyak orang hilir mudik di perkampungan Madinah, mengingat baru saja sholat isya usai ditunaikan. Tetapi orang-orang itu berlalu begitu saja. Tidak ada yang mengenalinya, tak ada yang menghiraukannya, tak ada yang memperhatikan kuda atau pedang yang bersandang di pundaknya, sebab mereka yang tinggal di kota-kota Islam sudah tak asing lagi melihat mujahidin yang pulang pergi untuk berperang fii sabilillah.

Rasa penasaran dan was-was menggelayuti pikiran prajurit tua ini. Saat ini ia masih sibuk memikirkan jalan-jalan dan bangunan yang telah banyak berubah, tiba-tiba ia dapatkan dirinya telah berada di depan rumahnya. Dia dapatkan pintunya sedikit terbuka. Kegembiraannya yang meluap menyebabkan ia lupa meminta izin kepada yang berada di dalam rumah. Ia pun langsung masuk rumah melalui pintu tersebut.

Si empunya rumah yang mendengar suara pintu terbuka menengok dari lantai atas rumahnya. Maka dalam cahaya bulan dilihatnya ada seorang yang menyandang pedang dan membawa tombak, malam-malam memasuki kediamannya.

Laki-laki yang menghuni rumah itu pun meloncat dengan marah dan turun sambil membentak, “Engkau berani memasuki rumah dan menodai kehormatanku malam-malam, wahai musuh Allah?!”

Dia menerkam bagaikan singa yang mengamuk ketika sarangnya hendak dirusak. Tak ada kesempatan lagi untuk bicara. Keduanya langsung bergulat, saling terkam, saling tuduh dan makin lama makin panas. Para tetangga dan orang-orang di jalanan mengerumuni dua orang yang sedang berkelahi itu. Mereka hendak mengeroyok orang asing itu untuk membela tetangganya.

Beberapa jurus kemudian, laki-laki yang di rumah itu mencengkeram kuat-kuat leher lawannya seraya berkata, “Wahai musuh Allah, Demi Allah aku tak akan melepaskanmu kecuali di muka hakim!”

Orang asing itu berkata, “Aku bukan musuh Allah dan bukan penjahat. Tapi ini rumahku, milikku, kudapati pintunya terbuka lalu aku masuk.”

Dia menoleh kepada orang-orang sembari berkata, “Wahai saudara-saudara, dengarkan keteranganku. Rumah ini milikku, kubeli dengan uangku. Wahai kaum, aku adalah Farrukh. Tiadakah seorang tetangga yang masih mengenali Farrukh yang tiga puluh tahu lalu pergi berjihad fi sabilillah?”

Bersaman itu, ibu si empunya rumah yang sedang tidur terbangun oleh keributan itu lalu menengok dari jendela atas dan melihat suaminya sedang bergulat dengan darah dagingnya. Lidahnya nyaris kelu. Namun dengan sekuat tenaga dia berseru, “Lepaskan… lepaskan dia, Rabiah… lepaskan dia, putraku, Dia adalah ayahmu… dia ayahmu… saudara-saudara, tinggalkanlah mereka, semoga Allah memberkahi kalian, tenanglah, Abu Abdurrahman, dia putramu… dia putramu.. jantung hatimu…”

Demi mendengar teriakan itu, seketika Farrukh memeluk dan menciumi putranya. Begitu pula ar-Rabi’ah, beliau mencium tangan ayahnya. Orang-orang pun bubar meninggalkan keduanya.

Turunlah Ummu ar-Rabiah untuk menyambut suaminya dan memberi salam. Padahal dia tak mengira bisa bertemu lagi dengan suaminya setelah hampir sepertiga abad terputus kabar beritanya.

Baca juga: Ramadhan, Momentum Jihad Melawan Nafsu dan Ego Diri

Uang Titipan
Suatu kali, Farrukh duduk-duduk bersama istrinya, bercerita asyik tentang keadaannya dan sebab-musabab terputusnya berita darinya. Namun isterinya tak bisa menikmati ceritanya, karena tiba-tiba muncul perkara yang menggelayuti pikirannya.

Kebahagiaannya berkumpul dengan suaminya dibayangi kekhawatiran akan masalah uang titipan suaminya yang telah ludes. Dalam hati dia bergumam, “Apa yang harus aku katakan bila suamiku menanyakan uang yang diamanatkan kepadaku agar kumanfaatkan dengan baik, bagaimana kiranya sikap suamiku bila aku katakan bahwa hartanya itu sudah habis tak tersisa."

"Bisakah dia menerima alasanku bahwa uang itu habis untuk biaya pendidikan putranya? Percayakah dia bahwa pendidikan putranya sampai menghabiskan 30 ribu dinar? Bisakah suaminya percaya bahwa tangan putranya lebih pemurah dari awan yang mencurahkan hujannya? Sementara dia tidak menyisakan satu dirham pun? Seluruh penduduk Madinah tahu bahwa dia sangat pemurah dalam memberikan bayaran kepada guru-guru putranya."

Selagi pikirannya terbang jauh, tiba-tiba suaminya menoleh kepadanya dan berkata, “Aku membawa uang 4.000 dinar. Ambillah uang yang aku titipkan kepadamu dahulu. Kita kumpulkan lalu kita belikan kebun atau rumah. Kita bisa hidup dari hasil sewanya selama sisa usia kita.”

Ummu ar-Rabi’ah pura-pura sibuk dan tidak menjawabnya, suaminya mengulangi pertanyaannya, “Lekaslah, mana uang itu? Bawalah kemari agar bisa disatukan dengan hasil yang kubawa.”

Dia berkata, “Aku letakkan uang tersebut di tempat yang semestinya dan akan kuambil beberapa hari lagi insyaAllah…"

Pembicaraan antara keduanya terputus lantaran terdengar suara azan. Farrukh bergegas mengambil air wudlu lalu menuju ke pintu sambil bertanya, “Mana ar-Rabi’ah?”

Istrinya menjawab, “Dia sudah lebih dahulu berangkat ke masjid. Saya kira engkau akan tertinggal sholat berjamaah.”

Sampailah Farrukh di masjid, beliau mendapati imam sudah menyelesaikan sholatnya. Dia pun segera sholat, kemudian menuju ke makam Rasulullah SAW dan mengucap shalawat atasnya, setelah itu mengambil tempat di Raudhah Muthahharah (tempat antara makam nabi dengan mimbarnya). Betapa rindunya beliau untuk sholat. Maka beliau memilih tempat untuk salat sunah kemudian beliau berdoa sekehendaknya.

Baca juga: Jangan Remehkan, Amalan Ini Lebih Utama dari Jihad Fi Sabilillah
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Rekomendasi
Rotasi Inti Bumi Melambat,...
Rotasi Inti Bumi Melambat, Ahli Beberkan Dampaknya
Warna Laut Teluk Persia...
Warna Laut Teluk Persia Berubah Jadi Merah Darah
Dampak Badai Celia Bikin...
Dampak Badai Celia Bikin Langit Spanyol Menjadi Berwarna Oranye
Artikel Terkini
Populer di Bulan Safar...
Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Teladan Rasulullah SAW...
Teladan Rasulullah SAW kepada Tetangga: Akhlak Mulia yang Tetap Relevan hingga Kini
5 Adab Bertetangga dalam...
5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Orang yang Mengganggu...
Orang yang Mengganggu Tetangganya Bukan Mukmin, Ini Dalil Hadis dan Penjelasan Ulama
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Kasus Teror Tetangga...
Kasus Teror Tetangga Viral, Begini Hak Tetangga Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved