Pengalaman Berpuasa Mahasiswa RI di Kanada: Bak Musafir, Menahan Lapar dan Dahaga hingga 16 Jam
Selasa, 19 April 2022 - 20:01 WIB
loading...
Dhafa Anam Ayatullah tetap berpuasa saat beraktivitas di kampusnya di Centennial Collage, Toronto Kanada, baru-baru ini. Foto/istimewa
A
A
A
TORONTO - Bulan Ramadan menjadi kesempatan bagi Dhafa meningkatkan ketakwaan sekaligus menyiarkan agama Islam kepada teman-teman kuliahnya.
Mahasiswa asal Bali yang bernama lengkap Dhafa Ayatullah Anam ini sudah hampir empat tahun menuntut ilmu di Toronto, Kanada.
Menurut Dhafa, tidak ada kendala dalam beribadah sejak tiba di Toronto pada Januari 2019 silam, karena di kampusnya disediakan ruangan untuk salat.
Baca juga: Imam Masjid di Turki Ajak Anak-anak Bermain Usai Tarawih
Di dekat tempat tinggalnya di kawasan Scarborough juga ada masjid milik komunitas Srilanka. Hanya di pekan pertama Ramadan saja ia merasa sedikit kendala, karena padatnya jadwal kuliah dan harus beradaptasi dengan durasi puasa yang lebih lama dibandingkan di Tanah Air, yakni mencapai 16 jam.
Baca juga: Ramadhan dan Jumat Agung Harus Jadi Momen Membuang Arogansi Beragama
“Setelah berdiskusi dengan ayah di Bali dan merujuk fatwa-fatwa ulama Indonesia dan Amerika Utara, saya berpuasa sebagai musafir. Ada dua pilihan untuk waktu tidak normal, ikut durasi Indonesia atau satu daerah yang sebujur dengan Toronto. Saya pilih yang pertama. Tetapi hanya sepekan saja, setelah itu saya ikut durasi di sini (Kanada),” papar pemuda asal Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali, ini, kepada KORAN SINDO, baru-baru ini.
Baca juga: Masjid Cambridge Inggris Gelar Buka Puasa Bersama, Undang Pembicara Kristen dan Yahudi
Pemuda berusia 22 tahun yang mengambil jurusan Robotic Automotion Engineering di Centennial Collage ini menuturkan, saat itu belum terjadi wabah Covid-19 sehingga aktivitas masyarakat masih normal.
Dia selalu salat tarawih dan buka puasa di masjid di dekat kediamannya. “Lumayan menghematlah,” ujarnya seraya tertawa.
Mahasiswa asal Bali yang bernama lengkap Dhafa Ayatullah Anam ini sudah hampir empat tahun menuntut ilmu di Toronto, Kanada.
Menurut Dhafa, tidak ada kendala dalam beribadah sejak tiba di Toronto pada Januari 2019 silam, karena di kampusnya disediakan ruangan untuk salat.
Baca juga: Imam Masjid di Turki Ajak Anak-anak Bermain Usai Tarawih
Di dekat tempat tinggalnya di kawasan Scarborough juga ada masjid milik komunitas Srilanka. Hanya di pekan pertama Ramadan saja ia merasa sedikit kendala, karena padatnya jadwal kuliah dan harus beradaptasi dengan durasi puasa yang lebih lama dibandingkan di Tanah Air, yakni mencapai 16 jam.
Baca juga: Ramadhan dan Jumat Agung Harus Jadi Momen Membuang Arogansi Beragama
“Setelah berdiskusi dengan ayah di Bali dan merujuk fatwa-fatwa ulama Indonesia dan Amerika Utara, saya berpuasa sebagai musafir. Ada dua pilihan untuk waktu tidak normal, ikut durasi Indonesia atau satu daerah yang sebujur dengan Toronto. Saya pilih yang pertama. Tetapi hanya sepekan saja, setelah itu saya ikut durasi di sini (Kanada),” papar pemuda asal Dauh Puri Klod, Denpasar, Bali, ini, kepada KORAN SINDO, baru-baru ini.
Baca juga: Masjid Cambridge Inggris Gelar Buka Puasa Bersama, Undang Pembicara Kristen dan Yahudi
Pemuda berusia 22 tahun yang mengambil jurusan Robotic Automotion Engineering di Centennial Collage ini menuturkan, saat itu belum terjadi wabah Covid-19 sehingga aktivitas masyarakat masih normal.
Dia selalu salat tarawih dan buka puasa di masjid di dekat kediamannya. “Lumayan menghematlah,” ujarnya seraya tertawa.
Lihat Juga :