Beberapa Syarat dan Hal-hal yang Membatalkan Iktikaf
Kamis, 28 April 2022 - 23:02 WIB
loading...
A
A
A
Sama halnya dengan riddah, mabuk pun membatalkan iktikaf. Sehingga saat pelaku sadar, dia wajib memulai kembali iktikafnya dengan niat. Ketentuan ini berlaku dalam konteks mabuk yang disengaja. Jadi, apabila seseorang mabuk karena memakan makanan tertentu, maka tidak membatalkan i’tikaf yang dilakukannya.
3. Bersetubuh
Pada dasarnya, bersetubuh di dalam masjid merupakan hal yang sangat diharamkan. Muslim yang sedang beriktikaf akan batal iktikafnya apabila melakukan persetubuhan di dalam masjid.
Syekh Jalaluddin al-Mahalli pernah mengatakan: "Iktikaf batal dengan bersetubuh bila pelakunya ingat dan mengetahui keharaman bersetubuh di dalam masjid, baik ia bersetubuh di masjid atau saat hendak keluar darinya untuk memenuhi kebutuhan, sebab berlangsungnya hukum i’tikaf dalam kondisi demikian." (Kanz al-Raghibin, juz 2, hal. 98).
4. Keluar dari Masjid
Keluar dari masjid menjadi salah satu hal yang bisa membatalkan iktikaf. Terkecuali memang ada sebuah urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, untuk kondisi bila ada keperluan seperti buang hajat, makan, dan minum yang tidak bisa dilakukan di masjid, maka iktikafnya tidak batal.
Hal tersebut dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri sebagai berikut:
وَالْخُرُوْجُ مِنَ الْمَسْجِدِ بِلَا عُذْرٍ وَكَذَا لِإِقَامَةِ حَدٍّ ثَبَتَ بِإِقْرَارِهِ أَمَّا الْخُرُوْجُ لِعُذْرٍ كَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ الَّذِيْ لَا يُمْكِنُ فِي الْمَسْجِدِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَالْحَدَثِ الْأَكْبَرِ فَلَا يَضُرُّ
Artinya: "Dan (di antara yang membatalkan i’tikaf) adalah keluar dari masjid tanpa udzur, demikian pula karena menegakan hukuman yang ditetapkan berdasarkan pengakuannya. Adapun keluar karena udzur, seperti makan dan minum yang tidak mungkin dilakukan di masjid, memenuhi hajat dan (menghilangkan) hadats besar, maka tidak bermasalah." (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal 313)
Baca Juga: Bacaan Niat Iktikaf Sebelum Masuk Masjid Lengkap Arab dan Latin
3. Bersetubuh
Pada dasarnya, bersetubuh di dalam masjid merupakan hal yang sangat diharamkan. Muslim yang sedang beriktikaf akan batal iktikafnya apabila melakukan persetubuhan di dalam masjid.
Syekh Jalaluddin al-Mahalli pernah mengatakan: "Iktikaf batal dengan bersetubuh bila pelakunya ingat dan mengetahui keharaman bersetubuh di dalam masjid, baik ia bersetubuh di masjid atau saat hendak keluar darinya untuk memenuhi kebutuhan, sebab berlangsungnya hukum i’tikaf dalam kondisi demikian." (Kanz al-Raghibin, juz 2, hal. 98).
4. Keluar dari Masjid
Keluar dari masjid menjadi salah satu hal yang bisa membatalkan iktikaf. Terkecuali memang ada sebuah urusan mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, untuk kondisi bila ada keperluan seperti buang hajat, makan, dan minum yang tidak bisa dilakukan di masjid, maka iktikafnya tidak batal.
Hal tersebut dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri sebagai berikut:
وَالْخُرُوْجُ مِنَ الْمَسْجِدِ بِلَا عُذْرٍ وَكَذَا لِإِقَامَةِ حَدٍّ ثَبَتَ بِإِقْرَارِهِ أَمَّا الْخُرُوْجُ لِعُذْرٍ كَالْأَكْلِ وَالشُّرْبِ الَّذِيْ لَا يُمْكِنُ فِي الْمَسْجِدِ وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ وَالْحَدَثِ الْأَكْبَرِ فَلَا يَضُرُّ
Artinya: "Dan (di antara yang membatalkan i’tikaf) adalah keluar dari masjid tanpa udzur, demikian pula karena menegakan hukuman yang ditetapkan berdasarkan pengakuannya. Adapun keluar karena udzur, seperti makan dan minum yang tidak mungkin dilakukan di masjid, memenuhi hajat dan (menghilangkan) hadats besar, maka tidak bermasalah." (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal 313)
Baca Juga: Bacaan Niat Iktikaf Sebelum Masuk Masjid Lengkap Arab dan Latin
(rhs)
Lihat Juga :