Menumbuhkan Semangat Saling Berbagi Menuju Jiwa yang Fitri
Senin, 02 Mei 2022 - 02:57 WIB
loading...
A
A
A
Sehingga, karena esensi puasa dan zakat guna menjadikan jiwa suci dan semakin bertaqwa, maka implikasinya ialah dengan mengendalikan ucapan, terutama dalam bersosial media,menjauhkan diri dari tulisan yang bisa memprovokasi orang lain untuk permusuhan, untuk membenci orang lain, termasuk berbuat radikal.
“Didalam hadits, Rasul mengatakan, ‘Barangsiapa berpuasa tapi tidak bisa meninggalkan ucapan yang buruk, dan juga tidak bisa meninggalkan perbuatan yang buruk maka tidak ada gunanya dia meninggalkan makan minum’. Karena esensi puasakanjiwa semakin suci, semakin bertaqwa,” ujar Khariri.
Pria yang juga pengasuh PonpesAlgebra di Ciawi ini mengatakan bahwa momen ini juga bisa dimaknai ini sebagaimomentum kemenangan diri dalam melawan virus keburukan dalam hati termasuk perilaku radikal intoleran.
“Artinya 1 Syawal itu kita kembali ke fitrah dan menang melawan hawa nafsu termasuk kita mengembalikan fitrah dalam beragama itu harus moderat, tidak terjebak dengan cara beragama yang radikal dan fundamental, tapi menjadi umat islam yang moderat,” tandasnya.
Terkait moderasi beragama, dirinya mengatakan bahwasanya menjadi moderat dalam beragama maka menjadikan seseorang tidak mudah terbawa kearah radikal serta tidak menjadi umat tidak mampu mengendalikan diri.
“Jadi esensi kita untuk beragama harus moderat supaya tidak mudah terbawa kearah radikal, dan kita tidak mampu mengendalikan diri (dan nafsu). Sejatinya beragama ini kan membantu umat, menolong, menjaga dan melindungi. Tapi kalau beragama memunculkan fitnah, kebencian, beragama membuat kita jauh dari rasa empati, lalu di mana fungsi agama?” tegas Khariri
Khariri membagikan tips agar pasca ramadan nanti, umat muslim mampu membawa diri untuk terus menjadi pribadi yang fitri serta menjadi pribadi yang menjadi jauh lebih baik hingga ramadan berikutnya dan seterusnya.
“Tipsnya adalah kita hadirkan Ramadhan di bulan lain, sehingga bisa mempertahankan capaian, achievement kita dalam beribadah bisa terus kita pertahankan, termasuk juga kemauan untuk terus berbagi mengisi agama ini dengan wawasan keislaman yang moderat,” pungkasnya.
“Didalam hadits, Rasul mengatakan, ‘Barangsiapa berpuasa tapi tidak bisa meninggalkan ucapan yang buruk, dan juga tidak bisa meninggalkan perbuatan yang buruk maka tidak ada gunanya dia meninggalkan makan minum’. Karena esensi puasakanjiwa semakin suci, semakin bertaqwa,” ujar Khariri.
Pria yang juga pengasuh PonpesAlgebra di Ciawi ini mengatakan bahwa momen ini juga bisa dimaknai ini sebagaimomentum kemenangan diri dalam melawan virus keburukan dalam hati termasuk perilaku radikal intoleran.
“Artinya 1 Syawal itu kita kembali ke fitrah dan menang melawan hawa nafsu termasuk kita mengembalikan fitrah dalam beragama itu harus moderat, tidak terjebak dengan cara beragama yang radikal dan fundamental, tapi menjadi umat islam yang moderat,” tandasnya.
Terkait moderasi beragama, dirinya mengatakan bahwasanya menjadi moderat dalam beragama maka menjadikan seseorang tidak mudah terbawa kearah radikal serta tidak menjadi umat tidak mampu mengendalikan diri.
“Jadi esensi kita untuk beragama harus moderat supaya tidak mudah terbawa kearah radikal, dan kita tidak mampu mengendalikan diri (dan nafsu). Sejatinya beragama ini kan membantu umat, menolong, menjaga dan melindungi. Tapi kalau beragama memunculkan fitnah, kebencian, beragama membuat kita jauh dari rasa empati, lalu di mana fungsi agama?” tegas Khariri
Khariri membagikan tips agar pasca ramadan nanti, umat muslim mampu membawa diri untuk terus menjadi pribadi yang fitri serta menjadi pribadi yang menjadi jauh lebih baik hingga ramadan berikutnya dan seterusnya.
“Tipsnya adalah kita hadirkan Ramadhan di bulan lain, sehingga bisa mempertahankan capaian, achievement kita dalam beribadah bisa terus kita pertahankan, termasuk juga kemauan untuk terus berbagi mengisi agama ini dengan wawasan keislaman yang moderat,” pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :